Banyak kebakaran pada lahan batu bara, seperti yang terjadi di India, China, dan Amerika Serikat disebabkan oleh campur tangan manusia. Sementara penyebab nyala api di Burning Mountain belum diketahui.
Hingga kini tidak ada yang yakin apa yang menjadi pemicu kebakaran.
Awal api diketahui dan terdokumentasi pada 1828, ketika seorang buruh tani setempat menyatakan bahwa dia telah menemukan sebuah gunung berapi di wilayah Gunung Wingen.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Setahun kemudian pada tahun 1829, ahli geologi Pendeta CPN Wilton menyimpulkan bahwa gunung dengan nyala api itu bersumber dari lapisan batu bara.
Pengukuran pada saat itu menunjukkan bahwa jalur api berada sekitar 6,5 kilometer, yang menunjukkan bahwa api telah menyala setidaknya selama 6.000 tahun. Tapi selain itu, hampir tidak ada penelitian resmi yang dilakukan di daerah tersebut.
Situs ini selanjutnya dianggap keramat oleh sejumlah penjaga tradisional masyarakat Wanaruah. Menurut masyarakat setempat api bersumber dari air mata seorang janda. Ada pula dikisahkan api berasal dari obor seorang pejuang di bawah gunung.
Namun menurut Rein muasal api merupakan proses alamiah. Ia menduga api muncul dipicu sambaran petir, dikutip Prestigious Scholarships.
"Anda tidak dapat mengesampingkan gangguan antropogenik, tetapi kemungkinan besar itu adalah penyebab alami. Itu bisa jadi kebakaran hutan dari sambaran petir yang memicu [terbentuknya]singkapan. Atau bisa juga pengapian yang memanas sendiri," kata Rein.
Studi menunjukkan bahwa titik pemanasan untuk batubara dapat berkisar dari hanya 35 hingga 140 derajat Celcius. Para peneliti telah menemukan bukti yang menunjukkan bahwa api bisa saja menyala lebih lama.
"Bukan hanya berusia 6.000 tahun. Itu sebenarnya bisa berusia ratusan ribu tahun," ungkap Rein.
Perlu dicatat bahwa bukti ini tidak dipublikasikan dan masih perlu dilakukan penelitian lebih lanjut.
(can/mik)