Bahaya Modifikasi Jarak Sumbu Roda Truk Seperti Kecelakaan Balikpapan

CNN Indonesia
Selasa, 25 Jan 2022 07:14 WIB
Mengubah jarak sumbu roda truk merupakan hal sulit yang perlu memperhatikan keselamatan dan tidak bisa dilakukan sembarangan. Petugas mengevakuasi truk tronton bernomor plat KT 8534 AJ setelah mengalami kecelakaan di Turunan Rapak, Jalan Soekarno-Hatta, Balikpapan, Jumat (21/1/2022). Kecelakaan yang diduga karena truk mengalami rem blong itu mengakibatkan lima orang tewas. (ANTARA FOTO/NOVI ABDI)
Jakarta, CNN Indonesia --

Modifikasi wheelbase atau jarak sumbu roda truk bisa berujung kecelakaan jika tidak sesuai aturan yang menjunjung keselamatan. Ini kerap ditemukan di Indonesia dan seakan sudah menjadi rahasia umum.

Hal ini juga berkaca pada kasus investigasi Komisi Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) terhadap kasus kecelakaan yang melibatkan truk tronton di Turunan Rapak, Km 0 Jalan Soekano-Hatta, Balikpapan, Jumat (21/1).

Truk tronton ini disebut telah dimodifikasi sehingga melar 20-25 cm.


"Axel atau sumbu rodanya juga ditambah satu, sehingga menjadi 3 sumbu roda," kata Direktur Jenderal Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan (Dirjen Hubda Kemenhub) Budi Setiyadi di Balikpapan.

Dharmawan Edy dari truck trainer menjelaskan pada dasarnya modifikasi sebuah kendaraan memiliki risiko, terutama pada truk.

Pertama karena menilai semua kendaraan termasuk truk dalam kondisi standar telah disesuaikan untuk kebutuhan tertentu, misalnya terkait kemampuan angkut beban, sistem pengereman, dan lainnya.

Ia juga menyebut para insinyur telah membuat hitung-hitungan untuk itu semua agar dalam penggunaannya tidak mengalami kendala.

Lantas bagaimana jika wheelbase dibuat lebih panjang atau tidak sesuai standar pabrikan?

Edy menjelaskan dalam menambah wheelbase seseorang biasanya akan mengubah sasis. Namun itu bisa jadi dilakukan tanpa pertimbangan matang dan tujuannya agar jarak sumbu roda bertambah sehingga kapasitas beban atau daya angkut juga ikut naik dan menjadi di luar standar yang ditetapkan pabrik.

Potensi atas hal ini, menurut Edy, yaitu sasis patah akibat muatan berlebih.

"Nah umumnya ngawur tanpa hitungan apapun. Sedangkan sasis materialnya beda, tidak hanya kuat tapi lentur. Nah ini kemudian disambung pelat yang tidak diketahui speknya kan ada kemungkinan mengalami patah," kata Edy saat dihubungi, Senin (24/1).

Kemudian, ia menjelaskan bertambahnya beban pasti akan memengaruhi sektor lain seperti kemampuan sistem rem, distribusi beban, hingga center of graviti.

Jika sistem rem sudah terganggu ia bilang efeknya terhadap jaminan keselamatan di jalan raya.

"Tapi apa rem juga dirancang sekaligus untuk nambah beban itu. Karena rem dirancang dengan spek standar. Jadi, efeknya rem lambat respon atau kemampuan rem menyusut," ungkapnya.

Ia menjelaskan saat truk kelebihan muatan ingin memperlambat kecepatan, yang terjadi adalah rem bekerja lebih keras. Komponen rem kemudian menjadi terlampau panas akibat gesekan lalu ujungnya bisa blong.

"Jadi orang yang modifikasi hanya memikirkan truknya kuat bawa beban meski berlebihan. Saat nanjak iya kuat, tapi pas ketemu turunan, apa iya dengan spek standar bisa berhenti normal," katanya.

Selain itu menambah sumbu roda juga membuat dimensi panjang truk bertambah yang membuat cara mengemudi akan lebih sukar lantaran radius putarnya tidak disesuaikan.

(ryh/fea)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
ARTIKEL TERKAIT
BACA JUGA
Lihat Semua
SAAT INI
BERITA UTAMA
REKOMENDASI
TERBARU
LAINNYA DI DETIKNETWORK
LIVE REPORT
LIHAT SELENGKAPNYA
TERPOPULER