Riuh Diagnosis Kesehatan Mental via TikTok, Ahli Ingatkan Akurasi

CNN Indonesia
Minggu, 08 Mei 2022 08:46 WIB
Fenomena diagnosis kesehatan mental via TikTok dinilai berpotensi besar salah identifikasi. Ilustrasi menjaga kesehatan mental lewat TikTok. (Foto: AFP/LIONEL BONAVENTURE)
Jakarta, CNN Indonesia --

Kemunculan media sosial tidak bisa dibendung. Berbagai konten mulai serius, unik dan tidak masuk akal menjadi sangat menghibur penonton hingga akhirnya viral.

Terbaru, viral anak muda mendiagnosis kesehatan mental diri lewat media sosial TikTok.

Sebagian pengguna smartphone mungkin akrab dengan istilah 'dokter Google' yang dianggap manjur bagi sebagian orang untuk "healing murah".


Fenomena itu menjadi perhatian khusus platform media sosial berbasis di China, TikTok.

Dalam setahun terakhir, ada peningkatan kalangan dewasa dan remaja yang menggunakan TikTok sebagai wadah untuk mendiagnosis kondisi diri, seperti autisme, attention deficit hyperactivity disorder (ADHD), dissociative identity disorder (DID), obsessive-compulsive disorder (OCD).

Belakangan istilah gangguan mental populer karena sering menjadi bahan diskusi di kolom komentar TikTok, menurut laporan Everyday Health.

Diagnosis dengan cara seperti itu dianggap bermasalah oleh sejumlah ahli. Alih-alih harus dilakukan oleh ahli atau perawat kesehatan mental, justru banyak kreator mengunggah konten tidak secara kajian sains.

"Tidak semua postingan berisi informasi yang akurat dan didukung oleh sains, dan banyak orang yang menelusuri TikTok tidak mengetahui hal ini," kata Dodgen Magee, psikolog asal Oregon, AS.

Pada Desember 2021, Ahli Bedah Umum asal AS, Vivek Murthy mengeluarkan peringatan tentang meningkatnya kasus kesehatan mental di kalangan anak muda.

"Tantangan yang dihadapi generasi muda saat ini belum pernah terjadi sebelumnya dan sangat sulit dinavigasi. Dan efek tantangan ini terhadap kesehatan mental," ujar Murthy.

Sementara psikoterapis di Philadelphia, Akua Boateng mengatakan saat ini media sosial menjadi lapisan utama informasi yang sangat besar.

"Banyak milenium dan anggota Generasi Z memeriksa media sosial lebih dari berita, yang membuat informasi yang diterima di sana sangat berharga," ujarnya.

Di samping itu psikolog kognitif di Seal Beach, California, John F. Tholen menilai diagnosa diri menggunakan media sosial berpotensi salah besar, meskipun komunitas bisa memberikan rekomendasi untuk segera ditangani tim medis.

Dikutip USA Today, diagnosis biasanya dimulai dengan kunjungan ke dokter untuk pemeriksaan. Mereka akan menanyakan gejala dan menjalankan beberapa tes medis untuk menyingkirkan masalah kesehatan lain.

Kemudian dokter akan merujuk pasien untuk ditindak langsung oleh profesional kesehatan mental, agar lebih lanjut dilakukan evaluasi dan perawatan berkala seperti salah satunya terapi.

Terapi kesehatan mental relatif mahal, tetapi ada beberapa cara untuk membantu mengurangi biaya. Misalnya seperti terapi virtual lewat aplikasi.

Memeriksa kesehatan mental di TikTok disebut memiliki banyak keterbatasan, meskipun konten di TikTok itu dibuat oleh profesional kesehatan mental dan para penyintas kesehatan mental.

(can/mik)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
ARTIKEL TERKAIT
BACA JUGA
Lihat Semua
SAAT INI
BERITA UTAMA
REKOMENDASI
TERBARU
LAINNYA DI DETIKNETWORK
LIVE REPORT
LIHAT SELENGKAPNYA
TERPOPULER