Wilayah di RI yang Alami Kenaikan Suhu Panas Tinggi Sejak Awal Mei

CNN Indonesia
Selasa, 17 Mei 2022 16:26 WIB
Plt. Deputi Klimatologi BMKG Urip Haryoko mengatakan analisis tren kenaikan suhu ini berdasarkan pantauan di 92 Stasiun BMKG dalam kurun 40 tahun terakhir. Ilustrasi wilayah-wilayah yang mengalami suhu panas tinggi di Indonesia. (Foto: iStock/Pheelings Media)
Jakarta, CNN Indonesia --

Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menjelaskan tren kenaikan suhu di wilayah Indonesia barat dan tengah, tertinggi kenaikan suhu 0,95 derajat celcius per dekade.

Kondisi ini sejalan dengan banyaknya pertanyaan sejumlah masyarakat, yang merasakan suhu panas di sejumlah wilayah sejak awal Mei 2022.

Plt. Deputi Klimatologi BMKG Urip Haryoko mengatakan analisis tren kenaikan suhu ini berdasarkan pantauan di 92 Stasiun BMKG dalam kurun 40 tahun terakhir.

"Secara umum tren kenaikan suhu permukaan lebih nyata terjadi di wilayah Indonesia bagian barat dan tengah," ujar Urip lewat keterangan tertulis, Jumat (13/5).

Urip menjelaskan di wilayah Indonesia tren kenaikan suhu terjadi di Pulau Sumatera bagian timur, Pulau Jawa bagian utara, Kalimantan dan Sulawesi bagian utara mengalami tren kenaikan lebih dari 0.3 derajat celcius per dekade.

Sementara peningkatan suhu permukaan tertinggi diketahui terjadi di Stasiun Meteorologi Temindung, Kalimantan Timur dengan suhu 0.95 derajat celcius per dekade.

Sedangkan, kata Urip, wilayah yang memiliki kenaikan suhu rendah tercatat di Stasiun Meteorologi Sultan Muhammad Salahuddin, Bima, NTB, dengan kenaikan hanya 0,01 derajat celcius per dekade.

Di samping itu Urip juga melaporkan tren kenaikan suhu yang ada di wilayah Ibu Kota, DKI Jakarta. Menurutnya, kenaikan suhu udara di DKI Jakarta meningkat dengan laju 0.40 sampai 0.47 derajat celcius per dekade.

Lewat analisis ini, Urip menjelaskan suhu udara panas yang terjadi belakangan ini di berbagai wilayah, dipengaruhi oleh faktor klimatologi yang diamplifikasi oleh dinamika atmosfer skala regional dan skala meso.

"Inilah yang menyebabkan udara terkesan menjadi 'lebih sumuk' dan kemudian menimbulkan pertanyaan bahkan keresahan (selain kegerahan) publik," ujar Urip.

Meski demikian, pihaknya mengklaim fenomena panas ini bukan kondisi ekstrem yang membahayakan, seperti gelombang panas atau heatwave.

"Meskipun masyarakat tetap diimbau untuk menghindari kondisi dehidrasi dan tetap menjaga kesehatan," tutupnya.

(can/mik)


[Gambas:Video CNN]
Lihat Semua
SAAT INI
BERITA UTAMA
REKOMENDASI
TERBARU
LAINNYA DI DETIKNETWORK
LIVE REPORT
LIHAT SELENGKAPNYA

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

TERPOPULER