Korlantas: Korban Kecelakaan Lalu Lintas Lebih Banyak dari Perang

fea | CNN Indonesia
Selasa, 14 Jun 2022 07:46 WIB
Kakorlantas Polri Irjen Pol Firman Shantyabudi menjelaskan menurut data yang dia amati, korban kecelakaan lalin lebih banyak dari akibat perang atau penyakit. Kakorlantas Polri Irjen Pol Firman Shantyabudi menjelaskan menurut data yang dia amati, korban kecelakaan lalin lebih banyak dari akibat perang atau penyakit. (Arsip Istimewa)
Jakarta, CNN Indonesia --

Korlantas Polri menyebut jumlah korban akibat kecelakaan di jalanan sangat tinggi, bahkan di atas korban perang. Hal itu diungkap Kakorlantas Polri Irjen Pol Firman Shantyabudi namun dia tak menjelaskan lebih rinci mengenai datanya.

"Ternyata juga dari data korban kecelakaan lalu lintas lebih banyak daripada korban akibat perang ataupun penyakit," kata Firman di Polda Metro Jaya, Senin (13/6), disitat dari situs NTMC Polri.


Menurut penjelasan Kementerian Perhubungan pada bulan lalu yang mengutip data data kecelakaan lalu lintas Korlantas Polri pada 2021, berikut rekaman korban kecelakaan:

  • 103.645 kejadian kecelakaan lalu lintas
  • 25.266 korban meninggal
  • 10.553 korban luka berat
  • 117.913 korban luka ringan

Profil korban kecelakaan lalu lintas:

  • 0-9 tahun: 6.253 orang
  • 10-19 tahun: 28.522 orang
  • 20-29 tahun: 32.473 orang
  • 30-49 tahun: 37.354 orang
  • lebih 50 tahun: 31.060 orang

Berdasarkan catatan 25.266 korban meninggal selama satu tahun, ini artinya setidaknya ada dua orang yang meninggal dalam hitungan satu jam. Hasil itu didapat dari hasil 25.266 korban meninggal dibagi 8.760 jam (jumlah jam selama 1 tahun) maka hasilnya 2,8 korban per jam.

Firman mengatakan ada tiga sumber utama kecelakaan lalu lintas, yaitu manusia, jalan dan kendaraan.

Dia menyebut kesadaran rendah masyarakat tentang berlalu lintas menjadi salah satu penyebab jumlah kecelakaan tinggi.

Sebelumnya dia menyinggung soal kebiasaan warga tak menggunakan perlengkapan berkendara yang memadai ketika berkendara sepeda motor, misalnya memakai sandal jepit ketimbang sepatu.

Dia bilang memang butuh modal untuk membeli perlengkapan berkendara seperti sepatu, helm, jaket dan sarung tangan. Namun dikatakan biaya yang dikeluarkan tak sebanding bertaruh nyawa.

"Lebih mahal mana dengan nyawa kita? Tolong itu juga dijadikan pertimbangan sehingga untuk keluar sudah siap dengan perlengkapan yang ada, ini gunanya helm standard, pakai sepatu, masih banyak yang pakai sandal menggampangkan gitu saja," katanya.

Selain itu dia juga menyoroti pendidikan dini keselamatan lalu lintas dari para orang tua.

"Masyarakat kadang menganggap, ya mohon maaf kalau saya salah, karena sudah biasa di jalan dari kecil begitu sudah punya kemampuan roda dua orang tuanya kasih punya SIM atau tidak yang penting dia udah bisa sepertinya nggak perlu lagi belajar lalu lintas," kata dia.

Menurut Firman sebuah nyawa sangat berharga ketimbang kerugian materi. Kata dia kerugian akibat kecelakaan mungkin tak bisa lagi dihitung sekadar menggunakan rupiah.

Kalau sudah meninggal di situ ada yatim, di situ ada janda mohon maaf atau mungkin itu ada duda, kalau sekali lagi yang menjadi korbannya ini rata-rata adalah tulang punggung keluarga," ucap dia.

(fea/fea)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
Lihat Semua
SAAT INI
BERITA UTAMA
REKOMENDASI
TERBARU
LAINNYA DI DETIKNETWORK
LIVE REPORT
LIHAT SELENGKAPNYA

ADVERTISEMENT

TERPOPULER