Jakarta, CNN Indonesia -- Robot penjelajah milik Badan Penerbangan dan Antariksa AS (NASA) Perseverance rusak usai dihantam kerikil yang diterbangkan angin kencang di Mars. Masihkah dia mampu beroperasi?
Space melaporkan rover senilai US$2,7 miliar atau Rp40,4 triliun itu mendarat di Planet Merah pada Februari 2021 dengan salah satunya membawa stasiun cuaca yang dijuluki Mars Environmental Dynamics Analyzer (MEDA).
Instrumen itu mencakup dua sensor angin yang mengukur kecepatan dan arah, di antara beberapa sensor lain yang menyediakan metrik cuaca seperti kelembaban, radiasi, dan suhu udara.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Usai terhantam kerikil Mars, MEDA yang terdapat di Perseverance masih dapat melacak angin di area pendaratannya di Kawah Jezero. Hanya saja, menurut José Antonio Rodriguez Manfredi, peneliti utama MEDA sensitivitasnya mengalami penurunan.
"Saat ini, sensor berkurang kemampuannya, tetapi masih memberikan besaran kecepatan dan arah," tulis Rodriguez Manfredi, seorang ilmuwan di Pusat Astrobiologi Spanyol di Madrid, dikutip dari Space.
"Seluruh tim sekarang sedang menyetel ulang prosedur pengambilan untuk mendapatkan lebih banyak akurasi dari pembacaan detektor yang tidak rusak," imbuhnya.
Jet Propulsion Laboratory NASA di California, yang merupakan pusat pengelola Perseverance, mengatakan dua sensor angin seukuran penggaris itu dikelilingi enam detektor individu yang bertujuan untuk memberikan pembacaan yang akurat dari segala arah.
Masing-masing dari dua sensor angin utama yang terpasang dapat dibuka untuk memindahkan sensor menjauh dari arah laju rover. Pasalnya, Perseverance yang berukuran mobil dapat memengaruhi arus angin dengan pergerakannya sendiri melalui atmosfer Mars yang tipis.
Seperti semua instrumen di Perseverance, sensor angin dirancang dengan mempertimbangkan redundansi dan perlindungan. "Tapi tentu saja, ada batasan untuk semuanya," ungkap Manfredi.
Untuk instrumen seperti MEDA, batasannya disebut lebih menantang. Sebab, sensor harus terpapar pada kondisi lingkungan untuk merekam parameter angin.
Kombinasi angin yang lebih kencang dari yang diperkirakan dan kerikil yang lebih besar yang dibawa terbang mengakibatkan kerusakan pada beberapa elemen detektor.
"Baik prediksi maupun pengalaman yang kami miliki dari misi sebelumnya tidak meramalkan angin kencang seperti itu, atau material lepas seperti yang terjadi," sebut Manfredi.
Menurutnya, ironis jika sensor MEDA yang terdapat di Perseverance rusak oleh angin. Padahal kecepatan angin itu lah yang sebenarnya sedang dicari oleh peneliti.
Selain mengukur angin, cuaca, dan komposisi batuan, rover mengambil bahan yang paling menjanjikan untuk diambil dan disembunyikan dan dikembalikan di masa depan yang bertujuan untuk mengirim sampel ke Bumi pada 2030-an.
Sebelumnya, NASA menyebut roda kiri depan Perseverance secara tidak sengaja mengambil batu pada 4 Februari 2022 atau hari ke-341 di Mars. Batu itu secara berkala tergambar dalam photobomb yang diambil oleh Hazard Avoidance Camera (Hazcam) kiri depan.
Penumpang lama di penjelajah Mars di halaman berikutnya...
Penumpang Gelap Perseverance
Planet Mars menjadi tujuan penjelajahan NASA dalam jangka menengah. (Foto: iStockphoto/24K-Production)
Dikutip dari Science Alert, batu itu telah menjadi penumpang Perseverance selama lebih dari seperempat misi penjelajah di Planet Merah tersebut. Ketika batu pertama kali terdapat di roda Perseverance, penjelajah sedang menjelajahi formasi Máaz - bagian dari kawah Jezero yang menurut para peneliti terbuat dari aliran lava kuno.
Sejak itu, penjelajah telah melakukan perjalanan 5,3 mil (8,5 kilometer) melalui situs pendaratan Octavia E. Butler, tempat Perseverance pertama kali mendarat di Mars pada Februari 2021, dan melewati sisa-sisa delta Kodiak, yang pernah menghubungkan sungai dan danau kuno.
Penjelajah itu akan segera bersiap untuk mendaki salah satu lereng curam kawah Jezero, yang dapat mengusir penumpang gelapnya itu.
Pada Desember 2004, operator rover Spirit NASA yang menjelajahi Mars antara Januari 2004 dan Maret 2010 harus melakukan manuver berbelok tajam untuk mengeluarkan batu "seukuran kentang" dari roda belakang kanannya karena para ilmuwan khawatir hal itu akan menyebabkan dampak kerusakan yang signifikan, menurut NASA.
Sebelumnya, mengambil batu yang tidak diinginkan di bagian lain rover telah menjadi masalah yang jauh lebih serius bagi Perseverance. Pada 29 Desember 2021, sekelompok kerikil kecil jatuh ke bagian mesin rover, menyebabkan Percy mati sendiri selama hampir seminggu.
Ilmuwan misi akhirnya menemukan cara untuk menghilangkan kerikil setelah memaksa rover melepaskan lengan pengeborannya untuk memotret area yang terkena dampak dengan benar.
[Gambas:Video CNN]