China Siapkan 10 Satelit Buru Sinyal Zaman Kegelapan Semesta, Apa itu?

CNN Indonesia
Rabu, 10 Agu 2022 20:12 WIB
China ingin memasang 10 satelit di bagian terjauh Bulan demi menangkap sinyal dari Zaman Kegelapan Semesta. Apakah itu? Ilustrasi. China ingin memasang 10 satelit di Bulan demi tangkap sinyal dari zaman kegelapan semesta. (Foto: AFP PHOTO / CNES)
Jakarta, CNN Indonesia --

Sejumlah tim ilmuwan China akan menggunakan Bulan untuk memburu sinyal dari zaman kegelapan semesta. Makhluk apa lagi ini?

Tim peneliti di balik misi Discovering the Sky at the Longest Wavelengths (DSL), yang juga dikenal sebagai Hongmeng, akan mengirim 10 satelit ke orbit di sekitar Bulan untuk mengambil sinyal kosmik samar.

Dikutip dari Space, peneliti memanfaatkan benda langit lain di sekitar Bumi untuk memblokir gangguan elektromagnetik dari aktivitas manusia.

Tujuannya adalah untuk melihat sekilas ke apa yang disebut zaman kegelapan kosmik atau era misterius sebelum bintang-bintang pertama mulai bersinar.

Caranya, peneliti akan mengumpulkan gelombang sangat panjang yang samar dan merenggang, yang muncul dari atom hidrogen yang terbentuk usai ledakan besar awal mula semesta (Big Bang).

Proposal inisiatif para tim itu merupakan alternatif inovatif untuk penelitian yang jauh lebih mahal dan menantang secara teknis untuk memasang teleskop permanen di permukaan sisi jauh Bulan.

Misi yang dipimpin oleh Chen Xuelei dari Akademi Ilmu Pengetahuan China (CAS) itu, adalah salah satu dari sejumlah misi astronomi, eksplorasi, ilmu bumi, heliofisika, dan planet ekstrasurya yang diusulkan yang bersaing untuk mendapatkan persetujuan di bawah Program Cakrawala Baru Akademi Ilmu Pengetahuan China.

Melansir South China Morning Post, jika mendapat persetujuan dalam beberapa pekan ke depan, misi DSL dapat mencerahkan pemahaman tentang Zaman Kegelapan Kosmik. Para astronom percaya, beberapa bintang pertama muncul ketika semesta berusia 200 juta tahun.

Nantinya, satelit-satelit kecil itu akan saling berjarak tidak sama, yang terdekat hanya 1 km, untuk memburu sinyal dengan frekuensi serendah sekitar 1-30 megahertz.

Satelit induknya secara akurat mengukur masing-masing posisi satelit kecil. Sinyal yang dikirim dari dua satelit kecil akan dicampur lewat teknik yang disebut interferometry. Gunanya adalah untuk membuat foto resolusi tinggi dari sumber yang sedang diobservasi.

"Dengan desain yang dinamis, Hongmeng bisa menuntaskan semua survey beresolusi tinggi dari frekuensi rendah yang tak terdeteksi hanya dalam satu tahun," kata Wu Ji, mantan direktur National Space Science Center yang ikut membantu proyek Hongmeng, namun sudah tak terlibat lagi.

Apa itu zaman kegelapan kosmik?

Dikutip dari Astronomy, zaman kegelapan kosmik adalah saat alam semesta diselimuti oleh kabut hidrogen netral, yang menjebak cahaya bintang dan galaksi generasi pertama pasca-Big Bang.

Saat itu, alam semesta diyakini masih kosong; tidak ada matahari-matahari, tanpa planet-planet, hanya kabut hidrogen netral. Kabut itu tidak menyingkir sampai 1 miliar tahun setelah Big Bang, ketika hidrogen netral telah terionisasi ulang.

Karena tidak bisa melepaskan diri dari lingkungan zaman kegelapan, cahaya tidak dapat melakukan perjalanan keluar melintasi alam semesta untuk menabrak detektor di Bumi, hampir 13 miliar tahun kemudian.

Mencoba mengintip ke masa kegelapan itu pun bak mencoba melihat bola lampu melalui kabut tebal dan gelap.

Namun demikian, menganalogikannya dengan Zaman Kegelapan di Bumi sekitar tahun 500 hingga 1000 Masehi yang kemudian menggerakkan Renaisans, zaman kegelapan kosmik pun merupakan masa transformasi besar.

"Periode ini istimewa karena menandai transisi antara alam semesta yang sangat sederhana dan [sekaligus] sangat kompleks," kata Avi Loeb, astronom di Pusat Astrofisika Harvard-Smithsonian.

"Lubang hitam, bintang neutron, bahkan kehidupan akhirnya di sini di Bumi, akarnya ditanam di zaman kegelapan. Jika kita ingin memahami dari mana kita berasal, dari situlah cerita dimulai," lanjutnya.

Meski begitu, para ilmuwan masih mencari lokasi dan cara transisi yang tepat. Para astronom juga masih bertanya-tanya mengapa kita tidak dapat melihat cahaya apa pun dari objek yang bersinar selama zaman kegelapan.

"Waktu yang dibutuhkan sebuah foton untuk melepaskan diri [hidrogen] lebih lama dari usia alam semesta," jelas Bahram Mobasher, profesor fisika dan astronomi di University of California, Riverside.

Artinya, cahaya tidak dapat menjangkau kita seberapa lama pun kita menunggunya tiba.

Zaman kegelapan tidak berlangsung selamanya. Alam semesta menjadi transparan terhadap sinar UV usai pembentukan bintang dan galaksi pertama (beberapa ratus juta tahun setelah Big Bang).

Beberapa bintang pertama sangat besar dan terang, cahayanya cukup energik untuk menjatuhkan elektron dari atom hidrogen di sekitarnya dalam proses ionisasi. Hidrogen yang terionisasi tidak menyerap atau menyebarkan cahaya seperti hidrogen netral.

"Bintang dan galaksi pertama terbentuk, dan cahayanya membawa alam semesta keluar dari zaman kegelapan," tandas Mobasher.

[Gambas:Video CNN]

(can/lth)
Lihat Semua
SAAT INI
BERITA UTAMA
REKOMENDASI
TERBARU
LAINNYA DI DETIKNETWORK
LIVE REPORT
LIHAT SELENGKAPNYA

ADVERTISEMENT

TERPOPULER