Pakar Ungkap Skenario 'Kiamat' Jika Putin-Biden Tekan Tombol Nuklir

CNN Indonesia
Rabu, 17 Agu 2022 09:05 WIB
Para ahli memprediksi hasil perang nuklir berskala kecil hingga besar. Pada intinya, sekecil apapun skalanya, perang itu memicu kelaparan global. Ilustrasi. Perang nuklir memicu kelaparan global. (REUTERS/Handout)
Jakarta, CNN Indonesia --

Jika perang nuklir skala besar antara Amerika Serikat dan Rusia terjadi, siapa yang paling dirugikan? Studi yang dibuat para ilmuwan dari Rutgers University menjawab gentingnya pelarangan penggunaan senjata ini karena yang jadi korban adalah ras manusia secara global.

"Data ini memberitahu kita satu hal. Kita harus mencegah perang nuklir untuk terjadi," kata Alan Robock, Profesor Luar Biasa bidang ilmu iklim dari Department of Environmental Sciences Rutgers University, yang juga terlibat dalam studi ini seperti dikutip dari Science Daily

Studi yang dibuat Robock beserta koleganya, Lili Xia mengkalkulasi seberapa banyak jelaga masuk ke atmosfer akibat peledakan senjata nuklir. Mereka mengkalkulasi jelaga itu dari enam skenario perang nuklir -lima perang skala kecil India vs Pakistan, dan perang skala besar AS vs Rusia- berdasarkan ukuran negara dan persenjataan nuklir masing-masing.

Mengutip Nature, perang skala kecil antara India vs Pakistan akan menghasilkan lima juta hinga 47 juta jelaga ke atmosfer. Jumlah lebih besar yakni 150 juta ton jelaga akan dihasilkan jika perang skala besar antara Rusia vs Amerika terjadi.

Data tersebut kemudian dimasukkan ke sistem yang disebut Community Earth System Model. Itu merupakan alat untuk memprediksi iklim, yang didukung oleh National Center for Atmospheric Research (NCAR).

NCAR Community Land Model memungkinkan untuk mengesitmasi prodkusi bahan-bahan pangan krusial seperti beras, gandum, kedelai, dan jagung) berdasarkan negara per negara. Selain itu, para ahli juga meneliti ketersediaan padang rumput ternak dan perikanan skala global.

Dalam skenario terkecil, perang nuklir lokal antara India dan Pakistan akan menurunkan produksi kalori sebanyak 7 persen dalam kurun waktu lima tahun sejak perang dimulai.

Dalam skenario yang lebih besar -perang antara AS vs Rusia- produksi rata-rata kalori global menurun sekitar 90 persen dalam kurun tiga sampai empat tahun sejak perang itu dimulai.

Perubahan-perubahan itu akan menyebabkan disrupsi katastropik dalam hal pasar pangan global. Bahkan penurunan sekitar 7 persen pun sudah melampaui anomali terbesar yang pernah tercatat sejak awal mula observasi Organisasi Pangan Dunia (FAO) pada 1961.

Dalam skenario perang paling besar, lebih dari 75 persen penduduk Bumi akan kelaparan dalam dua tahun sejak itu.

Penurunan jumlah tanaman pangan akan sangat terasa di negara-negara yang berada di ketinggian menengah hingga atas, termasuk AS dan Rusia. Kedua negara utama pengekspor itu pun diprediksi akan memperketat ekspor mereka, yang menyebabkan kelaparan negara-negara pengimpor di Afrika dan Timur Tengah.

Negara-negara seperti Britania Raya misalnya, akan mengalami penurunan jumlah ketersediaan pangan lebih tajam daripada India, yang terletak di ketinggian yang lebih rendah.

Namun, Prancis, yang merupakan eksportir pangan utama dunia, boleh jadi tidak begitu terdampak karena akan memiliki jumlah pangan yang lebih banyak untuk warga sendiri jika nihil perdagangan antar-negara.

Negara lain yang mungkin akan tak begitu terdampak adalah Australia. Terisolasi dari perdagangan dan perang nuklir, Australia akan bertumpu kepada gandum produksi sendiri.

Gandum pun akan tumbuh dengan baik karena iklim dingin yang disebabkan jelaga di atmosfer. "Pertama kali saya menunjukkan peta itu ke putra saya reaksi awal yang dia tunjukkan adalah 'ayo pindah ke Australia'," kata Xia.

Melansir situs Visual Capitalist, ada sembilan negara yang saat ini memiliki senjata nuklir. Rusia menjadi negara dengan jumlah senjata nuklir terbanyak yakni 5.977 (4.477 aktif, 1500 diistirahatkan).

Di bawah negara yang dipimpin Vladimir Putin itu, Amerika Serikat menyusul dengan total 5.428 senjata (3.708 aktif, 1720 diistirahatkan). Untuk mengaktifkan senjata nuklir, AS bergantung kepada 'kode nuklir' yang dipegang oleh Presiden Joe Biden dan Kepala Komandan di Pentagon.

[Gambas:Video CNN]

(lth/arh)


[Gambas:Video CNN]
Lihat Semua
SAAT INI
BERITA UTAMA
REKOMENDASI
TERBARU
LAINNYA DI DETIKNETWORK
LIVE REPORT
LIHAT SELENGKAPNYA

ADVERTISEMENT

TERPOPULER