2 Risiko Beralih ke Program Kompor Listrik Kata Pakar

CNN Indonesia
Jumat, 23 Sep 2022 15:55 WIB
Sejumlah pakar menilai program kompor bertenaga listrik tak mustahil diterapkan di banyak rumah tangga, cuma apakah itu praktis? Ilustrasi. Program pemasangan kompor listrik di rumah tangga realistis? (Foto: ANTARA FOTO/RAHMAD)
Jakarta, CNN Indonesia --

Program konversi kompor gas ke kompor bertenaga listrik dinilai memungkinkan dengan sejumlah syarat. Apakah penerapannya realistis dan praktis?

Pemerintah berencana melakukan konversi LPG 3 kg ke kompor listrik dengan uji coba di Solo dan Denpasar.

Direktur Utama PT PLN (Persero) Darmawan Prasodjo mengatakan masyarakat tak perlu menambah daya listrik jika ingin beralih ke kompor listrik. Menurutnya, warga cukup memasang Miniatur Circuit Breaker (MCB). Jalurnya dibedakan dengan jaringan listrik biasa.

"Untuk kompor induksi, kami memakai MCB jalur khusus, enggak tersambung dengan pola konsumsi listrik golongan tarif lama," ujar dia, di gedung DPR, Jakarta, Rabu (14/9).

MCB merupakan perangkat untuk memutus rangkaian listrik jika ada kelebihan beban serta hubungan singkat.

Dirjen Energi Baru Terbarukan dan Konversi Energi Kementerian Energi dan Sumber Daya Minteral Dadan Kusdiana mencontohkan perubahan MCB pada pelanggan listrik 450 volt ampere (VA) menjadi 3.500 watt.

"Nanti diganti MCB-nya menjadi 3.500 watt untuk yang 450 (VA)," katanya, Selasa (20/9).

Realistiskah?

1. Biaya pemasangan baru

Dosen Teknik Elektro di Politeknik Negeri Malang Rahman Azis Prasojo menyebut penggunaan MCB khusus untuk memisahkan jalur listrik kompor induksi sangat memungkinkan.

"Sangat memungkinkan, hanya mungkin yang akan mahal adalah pengadaan kWh meter barunya," ujarnya kepada CNNIndonesia.com, Kamis (22/9).

Menurut dia, beban biaya tak hanya terdapat pada pengadaan kWh meter, tetapi juga komponen listrik lain seperti kabel dan MCB-nya. Kemudian ada juga beban biaya pemasangan instalasi.

Azis menyebut penggunaan kompor induksi akan lebih menguntungkan dibandingkan dengan kompor gas. Salah satunya karena pelanggan tidak perlu repot melakukan isi ulang jika menggunakan kompor jenis ini.

"Penggunaan kompor induksi menguntungkan dari sisi kemudahan (tidak perlu mencari gas kalau habis), dan juga efisiensi (prinsip kerja induksi elektromagnetik, losses rendah karena langsung panci yang panas)" tuturnya.

Sekretaris Jenderal Kementerian ESDM Rida Mulyana sempat mengatakan pihaknya akan membagikan paket kompor listrik gratis pada 300 ribu rumah tangga yang terdaftar di Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS).

Isinya, per rumah mendapat kompor, alat masak, dan kenaikan daya. Dia tak merinci lebih lanjut per item dan biaya yang ditanggung Pemerintah.

2. Kepraktisan

Direktur Eksekutif Institute for Essential Services Reform (IESR) Fabby Tumiwa menyebut pembuatan jalur baru untuk kompor listrik akan menjadikan rumah memiliki dua sambungan listrik. Metode serupa digunakan PLN untuk membuat home charging mobil listrik.

"Secara teknis bisa dilakukan, diambil dari jalur listrik PLN, lalu dipakai meter dan MCB sebagai limitter (pembatas arus) sesuai kebutuhan kompor listrik. jadi nanti rumah punya dua sambungan listrik," ujar Fabby kepada CNNIndonesia.com, Kamis (22/9).

"Ini dilakukan PLN untuk home charging mobil listrik," tambahnya.

Fabby mengatakan metode ini tidak sukar dan tidak mahal, tetapi tidak praktis untuk diterapkan.

"Secara teknis tidak sukar dan tidak mahal. Tapi menurut saya tidak praktis saja, ada sambungan khusus untuk kompor listrik," tuturnya.

Menurutnya, lebih baik menaikkan daya listrik untuk masyarakat miskin, tetapi tetap mengenakan tarif subsidi.

"Mungkin bagi masyarakat miskin yang terkena program ini dinaikkan saja daya listrik dari 450 VA/900 VAke 2200 VA, dan dikenakan tarif subsidi," pungkas dia.

(lom/arh)


[Gambas:Video CNN]
Lihat Semua
SAAT INI
BERITA UTAMA
REKOMENDASI
TERBARU
LAINNYA DI DETIKNETWORK
LIVE REPORT
LIHAT SELENGKAPNYA

ADVERTISEMENT

TERPOPULER