Pantauan Berkilau dari Kutub Mars Ternyata Bukan Air

CNN Indonesia
Jumat, 07 Okt 2022 12:00 WIB
Para ahli menilai sinyal dari Mars yang ditangkap pada 2018 ternyata tak berasal dari air. Ilustrasi planet Mars. Sinyal yang ditangkap dari Mars ternyata tak berasal dari air. Foto: iStockphoto/24K-Production
Jakarta, CNN Indonesia --

Sebuah sinyal misterius dari Mars yang ditangkap pada 2018 ternyata bukan berasal dari air. Hal itu terungkap saat para ahli kembali mengkaji sinyal itu.

Mengutip Space, sinyal itu pertama kali ditangkap pada 2018 dengan menggunakan data dari wahana MARSIS milik Badan Antariksa Eropa (ESA). Sinyal yang ditangkap berupa refleksi aneh yang cerah, datang dari Kutub Selatan Mars, yang disebut Ultima Scopuli.

Ketika itu, para ahli menduga sinyal tersebut menjadi bukti adanya air yang cair di Mars. Akan tetapi, para ahli ternyata mengakui dugaan itu kemungkinan salah.

Lewat sebuah investigasi lagi, para ahli menilai sinyal itu tidak datang dari lapisan es atau air yang cair. Sinyal tersebut kemungkinan datang dari lapisan geologi bawah tanah yang terbuat dari mineral dan karbon dioksida yang membeku.

Secara khusus, ketebalan lapisan-lapisan itulah ternyata yang membuat adanya refleksi aneh tersebut. Di Bumi, refleksi seperti itu lazimnya datang dari air yang cair semisal dari danau subglasial seperti Danau Vostok, yang terletak di Antartika.

DAnau itu terletak di bawah lapisan es setebal3 kilometer selama jutaan tahun. Itu membuatnya memunculkan sinyal radar yang cerah, seperti yang ditemukan di Mars.

Akan tetapi, kemiripan itu tidak menggaransi adanya air yang cair di Planet Merah -sebutan untuk Mars- tersebut.

Untuk menginvestigasi sinyal aneh ini, para ahli menggunakan data MARSIS plus simulasi komputer. Mereka lalu mensimulasikan lapisan es dan benda-benda lain seperti bebatuan basal yang terbentuk setelah erupsi vulkanis di Mars.

Hal itu untuk melihat bagaimana material itu bereaksi terhadap cahaya yang datang.

Lantaran memiliki jumlah karbon dioksida beku yang luar biasa di Kutub Selatan Mars, para ahli yakin untuk memasukkannya ke dalam simulasi. Hasilnya, dari satu simulasi saja diketahui pemisahan dan ketebalan lapisan menentukan refleksi yang muncul.

"Saya bisa saja menggunakan lapisan bebatuan atau bahkan es air yang berbulir dan saya bisa mendapatkan hasil yang sama," kata Dan Lalich dari Cornell University yang melakukan studi ini.

Tujuan dari studi ini adalah bahwa komposisi dari lapisan basal kurang penting daripada ketebalan dan pemisahannya," ujarnya menambahkan.

Mengutip situs Cornell University, Lalich menggunakan data radar untuk memelajari permukaan planet. Ia sendiri tertarik kepada evolusi iklim di Mars dan berfokus kepada permodelan refleksi radar di Kutub Mars.

Lalich lalu menggunakan prosedur permodelan satu-dimensi yang memang umum digunakan untuk menginterprerasi data observasi MARSIS. Ia lalu membuat simulasi dengan lapisan yang disusun dari empat material yakni atmosfer, es air, es karbon dioksida dan basal.

Kemudian, Lalich mengetes material tersebut dengan radiasi elektromagnetik untuk melihat interaksinya. Simulasi dengan ketiga lapisan -2 lapisan CO 2, dipisahkan satu lapisan es berbulir- menghasilkan refleksi yang sama dengan observasi sebenarnya.

Kendati demikian, ujicoba Lalich ini tak lantas menutup kemungkinan adanya air cair di Mars. "Tak ada dari hasil kerja kami membantah adanya kemungkinan air di sana," kata Lalich.

"kami hanya berpikir hipotesis seperti ini lebih konsisten dengan observasi lainnya. Saya tak yakin tindakan seperti pengeboran bisa membuktikan debat ini salah atau benar," ujarnya mengakhiri.

[Gambas:Video CNN]

(lth/lth)
Lihat Semua
SAAT INI
BERITA UTAMA
REKOMENDASI
TERBARU
LAINNYA DI DETIKNETWORK
LIVE REPORT
LIHAT SELENGKAPNYA

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

TERPOPULER