Panel Surya Makin Menggoda: Tanpa Listrik dan Manfaatkan Infra Merah

lth | CNN Indonesia
Selasa, 29 Nov 2022 16:40 WIB
Panel surya sebagai salah satu sumber energi alternatif semakin menggoda karena sejumlah inovasi yang dilakukan. Ilustrasi panel surya. Lima mahasiswa Universitas Indonesia menciptakan panel suya yang aktif tanpa tenaga listrik. Foto: REUTERS/THILO SCHMUELGEN
Jakarta, CNN Indonesia --

Lima mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Indonesia berinovasi dengan panel surya yang berfungsi menangkap energi panas Matahari. Alat yang disebut dengan SMART itu bisa mendeteksi energi surya (solar tracker) tanpa tenaga listrik.

"Inovasi SMART memanfaatkan panas yang dihasilkan oleh cahaya matahari untuk mengekspansi fluida yang terdapat dalam piston agar dapat menciptakan kemiringan tertentu pada panel surya," kata salah satu penciptanya, Evan Fadhil Nurhakim seperti dilansir situs resmi Universitas Indonesia.

"Mekanisme tersebut didukung oleh alat solar heat receiver yang dilengkapi dengan vacuum yang berfungsi untuk mengurangi perpindahan panas dari bagian solar heat receiver yang panas ke bagian luar. Selain itu, teknologi ini memiliki kemampuan untuk berotasi pada satu sumbu dan mampu bekerja secara pasif sehingga dapat meningkatkan efisiensi dari penggunaan panel surya," ujar Evan menambahkan.

Lihat Juga :

SMART berawal dari masalah penggunaan panel surya yang efisiensinya tidak merata. Selain itu, pelacakan energi surya yang bersifat elektrik tergolong mahal.

Evan dkk. pun berinovasi dengan SMART yang memanfaatkan sistem kontrol fluida mekanik yang mampu mengoptimalkan kinerja dari panel surya. Fluida yang ditanam di SMART merupakan cairan aseton.

Cairan itu dialirkan lewat batang stainless stell yang diletakan dalam tabung insulasi. Tabung itu sendiri tersambung ke dalam kamar gas.

"Alasan pemilihan aseton sebagai fluida kerja dari alat SMART dikarenakan tergolong sebagai senyawa yang mudah ditemukan, memiliki harga yang murah, serta titik didih yang dapat dicapai dari hasil pemanasan oleh sinar matahari." ucap Jonathan Tjioe yang juga salah satu penciptanya.

Tim mahasiswa ini pun telah melakukan simulasi menggunakan SMART di salah satu Pembangkit Listrik tenaga Surya (PLTS) Kupang.

"Setelah membandingkan antara SMART dengan electrical tracker dalam studi kasus PLTS Kupang, dapat disimpulkan bahwa SMART dapat disimpulkan bahwa SMART dapat membantu PLTS Kupang mencapai balik modal 9 bulan lebih awal dibandingkan electrical tracker." ucap anggota tim lainnya, Juan Khosasi.

"Saat ini, prototipe SMART telah 100% selesai dibangun dan sudah diuji coba untuk membandingkan kinerjanya dengan teknologi terdahulu. "Kami telah melakukan uji coba prototipe di Fakultas Teknik Universitas Indonesia untuk memperoleh data temperatur internal pada posisi timur dan barat serta kemiringan dari panel surya. Data ini bermanfaat untuk memvalidasi kesesuaian teori dengan hasil data lapangan dari alat SMART," kata Jason Jimmy yang juga menjadi bagian dari tim.

Di sisi lain, Angelina Grace yang menjadi satu-satunya wanita di tim mengungkapkan, pemilihan energi surya sebagai bahan ujicoba dilandasi kondisi geografis Indonesia.

"Menurut kami, pemanfaatan energi surya sebagai sumber energi alternatif untuk memenuhi kebutuhan listrik masyarakat Indonesia merupakan pilihan yang tepat karena letak geografis yang berada pada daerah tropis dan dapat dijangkau oleh sinar matahari sepanjang tahun." papar Angel.

Sementara itu, sebuah tim dari University of New South Wales dan ARC Centre of Excellence berinovasi dengan teknologi inframerah. Dengan teknologi ini, panel surya bisa jadi bekerja di malam hari.

Mengutip Weforum, tim tersebut telah berhasil melakukan ujicoba terhadap perangkat yang disebut thermo-radiative diode. Perangkat tersebut mengonversi inframerah menjadi listrik.

"Pada akhir abad 18 dan 19, ditemukan fakta bahwa efisiensi mesin uap bergantung kepada perbedaan temperatur di setiap mesinnya, dan medan termodinamika pun lahir," kata Nicholas Ekins-Daukes.

"Prinsip yang sama bisa diaplikasikan ke tenaga matahari -Matahari menyediakan panas yang diserap oleh panel surya di permukaan Bumi yang dingin. Namun ketika kita berpikir soal emisi inframerah dari Bumi ke luar angkasa, Bumilah yang menjadi titik panas sementara luar angkasa menjadi bagian dinginnya. Dengan prinsip yang sama dari termondinamika, listrik mungkin dihasilkan dari perbedaan temperatur tersebut," katanya menambahkan.

Untuk saat ini, jumlah energi yang dihasilkan masih sangat kecil. Namun ujicoba ini menunjukkan harapan pengembangan panel surya yang bahkan bisa memproduksi energi di malam hari.

(lth/lth)
SAAT INI
BERITA UTAMA
REKOMENDASI
TERBARU
LAINNYA DI DETIKNETWORK
LIVE REPORT
LIHAT SELENGKAPNYA

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

TERPOPULER