Sejarah Baju Toga, Warisan Romawi Bukan Simbol Intelektualitas

CNN Indonesia
Senin, 05 Des 2022 08:44 WIB
Baju toga mulanya dipakai orang Romawi Kuno sebagai simbol status. Kini, baju semacam ini banyak dipakai kalangan kampus di momen tertentu. Relevankah? Baju toga yang jadi tradisi di perguruan tinggi tak berbasis intelektual. (Foto: iStockphoto)
Jakarta, CNN Indonesia --

Baju toga, yang jadi tradisi di beberapa momentum di kampus, punya latar belakang sejarah yang erat dengan status dan pembedaan sosial, bukan intelektual, di era Romawi Kuno.

Sejarawan mengungkap baju toga bermula di era Romawi Kuno. Secara tradisional, toga berbentuk potongan kain panjang sekitar 3,7 sampai 6 meter, yang disampirkan di atas kain polos. Kain ini biasanya terbuat dari wol.

Dikutip Fashion History, toga merupakan pakaian formal warga negara Romawi yang dikenakan di atas tunik dan disusun dalam lipatan di sekeliling tubuh dan di bahu.

Sebenarnya, ada banyak patung peninggalan zaman Romawi yang memakai toga. Namun, sangat sedikit deskripsi yang tersisa dari patung itu.

Arkeolog dan dosen senior di Universitas Terbuka di Inggris, Ursula Rothe, menilai toga pada dasarnya adalah soal status, bukan masalah kenyamanan.

"Manusia selalu mengenakan sesuatu yang tidak nyaman, terutama karena alasan status," kata dia.

Kelly Olson, sejarawan mode di University of Western Ontario di Kanada kepada LiveScience, pun menyatakan "Saya hanya bisa membayangkan bagaimana rasanya dibalut wol di musim panas Italia. Pasti sangat mengerikan."

Lihat Juga :

Pria kaya pada zaman Romawi mengenakan toga sebagai tanda status dan kewarganegaraan. Namun, toga mungkin tidak dipakai sepanjang waktu.

Rothe mengatakan mereka kemungkinan besar mengisi peran yang mirip dengan setelan bisnis modern, dikenakan untuk pekerjaan administrasi atau acara-acara khusus seperti pernikahan dan pemakaman.

Toga sama sekali tidak dikenakan oleh orang Yunani kuno, setidaknya sampai setelah mereka dijajah oleh Kekaisaran Romawi. Sebaliknya, orang Yunani lebih menyukai pakaian yang dikenal sebagai himation, yang juga dikenakan dengan cara digantungkan di leher menjulang hingga bagian kaki.

Selain itu, setiap individu di Yunani kuno mengenakan himaton, beda dengan nasib toga yang hanya dipakai sebagian besar pria kaya berkewarganegaraan Romawi.

Toga standar berwarna putih pudar, dan variasi apa pun menunjukkan sesuatu yang spesifik tentang pemakainya. Anak-anak orang kaya Romawi mengenakan toga dengan pinggiran merah tua, yang dimaksudkan sebagai simbol perlindungan, sampai mereka mencapai masa pubertas.

Toga abu-abu tua atau hitam disediakan untuk pemakaman, sedangkan toga bersulam ungu dan emas dikenakan oleh jenderal yang berjaya.

Tokoh-tokoh politik terpilih langsung dikenali dari nuansa trim ungu toga mereka. Dan calon politisi bahkan memiliki pakaian khas mereka sendiri.

Ketika seorang warga negara Romawi memutuskan untuk mencalonkan diri, dia (dan selalu dia) akan mengumumkan kampanyenya dengan memutihkan toganya dengan kapur, sebuah proses yang disebut "candidus " , yang berarti bersih. "Dari situlah kami mendapatkan kata 'kandidat'," kata Olson.

Panjang toga dan gaya tirai juga kerap dijumpai saat zaman Romawi. Periode sebelum Kekaisaran Roma, toga adalah pakaian yang sangat simpel.

Tetapi ketika Kaisar Augustus naik ke pucuk kekuasaan pada tahun 27 M, toga menjadi panjang, mengalir, dan tebal, kemungkinan menandakan kemakmuran negara.

Perubahan model

Gaya toga kemudian terus berubah. Pada saat abad ketiga, ini benar-benar bisa dipakai untuk semua kalangan.

Relief tertentu dan potongan tembikar dari Roma kuno tampak menggambarkan aksesori toga, seperti pemberat kecil di titik-titik strategis pada busana.

Lalu kenapa bisa sampai berwarna hitam dan dipakai di kampus? Beberapa versi sejarah mengungkap kaitannya dengan para profesor di masa lalu yang sadar fashion.

Dikutip dari situs universitas riset katolik di Balgia, KU Leuven, pemakaian toga banyak dipakai secara luas pada abad ke-15.

Itu dibuktikan dalam lukisan Last Supper atau Perjamuan Terakhir (bukan The Last Supper-nya D Vinci) karya pelukis Flemish Dirk Bouts, seorang profesor yang sadar mode. Beberapa tokoh dalam lukisan terlihat mengenakan semacam toga Romawi.

Gaun akademik itu sempat tidak disukai di kalangan siswa pada abad 16. Namun, ada saja kalangan akademik yang menjadi fashionista: Justus Lipsius, misalnya, selalu mengenakan kerah kulit macan tutul di toganya saat mengajar di Leuven.

Pada abad 17, toga pun menjadi seperti yang lazim saat ini, hitam dan panjang dengan variasi ornamen lainnya seperti topi, demi penyeragaman dan "memberikan kehangatan yang sangat dibutuhkan di auditorium tanpa pemanas di bulan-bulan musim dingin."

(can/arh)
SAAT INI
BERITA UTAMA
REKOMENDASI
TERBARU
LAINNYA DI DETIKNETWORK
LIVE REPORT
LIHAT SELENGKAPNYA

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

TERPOPULER