Mengenal Polling Twitter yang Dibanggakan Tifatul, Ilmiahkah?
CNN Indonesia
Jumat, 09 Jun 2023 19:00 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Ilustrasi. Polling di Twitter tak memenuhi kaidah-kaidah ilmu statistik. (LOIC VENANCE / AFP)
Jakarta, CNN Indonesia --
Polling atau jajak pendapat di Twitter dinilai tak berdasar ilmu statistik lantaran tak bisa memetakan keabsahan akun, cara pengambilan sampel, hingga sebaran populasi.
Sebelumnya, Anggota Majelis Syuro Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Tifatul Sembiring menggadang-gadang hasil polling capres 2024 di platform milik Elon Musk tersebut.
Hasil itu memantik reaksi dari berbagai netizen. Bukan cuma karena soal jagoannya menang atau kalah. Beberapa pihak menyinggung soal kredibilitas polling tersebut.
Pasalnya, mantan Menteri Komunikasi dan Informatika tersebut sempat membanding-bandingkan dengan hasil lembaga survei resmi yang jauh beda dengan hasil polling pribadinya.
Akun @arkaatmaja7, contohnya, mempertanyakan salah satu faktor penting jajak pendapat dalam ilmu statistik, yakni sampel.
"Apakah follower bapak bisa dijadikan sampel yang mewakili demografi penduduk Indonesia sebagai populasi sehingga hasil poling bapak bisa dianggap mewakili pilihan publik? Nggak bisa bapak....poling dari follower bapak itu tidak akan bisa dijadikan kajian yg ilmiah..."
Tifatul pun 'ngegas' sambil menyatakan "Anda gak ngerti polling, nggak faham statistik. Jadi asbun kesannya mas."
Ia pun mengklaim polling di Twitter menggunakan teknik pengambilan sampel secara acak dan tak direkayasa.
"Bisa saja ada kekurang akuratan mas, seperti halnya survey2 juga, makanya ditentukan margin error dsb. Karakteristik polling jelas beda dengan survey, misalnya distribusi, sampling dan konklusinya. Dan lebih lagi polling via fasilitas twitter dg sampling acak dsb. Tapi bukan rekayasa," tutur Tifatul.
Fitur polling ini sendiri sudah ada sejak lama di Twitter. Popularitasnya kian menanjak usai akuisisi perusahaan oleh miliarder Elon Musk.
Ia beberapa kali menggelar polling, termasuk dalam hal nasib dirinya sendiri di kursi CEO hingga soal pengaktifan kembali akun mantan Presiden Donald Trump.
"Jajak Pendapat (polling) Twitter memungkinkan Anda mempertimbangkan pertanyaan yang diajukan oleh orang lain di Twitter. Anda juga dapat dengan mudah membuat jajak pendapat sendiri dan melihat hasilnya secara instan," menurut keterangan perusahaan.
Bagaimana cara membuat polling? Twitter menjelaskan tahapan lengkapnya berikut:
1. Klik kotak buat Tweet di bagian atas timeline Beranda Anda, atau klik tombol Tweet di bilah navigasi sebelah kiri.
2. Klik ikon Tambahkan polling.
3. Ketik pertanyaan jajak pendapat Anda ke dalam kotak penulisan utama. Anda dapat menggunakan hingga jumlah karakter maksimal dalam pertanyaan polling Anda. Mesti ada teks yang disertakan di Tweet untuk menggelar polling.
4. Masukkan opsi polling pertama Anda ke dalam kotak Pilihan 1, dan opsi polling kedua Anda ke dalam kotak Pilihan 2. Anda dapat menggunakan hingga 25 karakter untuk setiap opsi.
5. Klik + Tambahkan pilihan untuk menambahkan opsi tambahan ke jajak pendapat Anda. Jajak pendapat Anda dapat memiliki hingga empat opsi.
6. Durasi polling Anda default ke 1 hari. Anda dapat mengubah durasi polling Anda dengan mengklik 1 hari dan menyesuaikan hari, jam, dan menit. Jumlah minimal waktu polling adalah 5 menit, dan maksimlanya 7 hari.
7. Klik Tweet untuk mengirim polling.
Twitter pun menjelasakan cara untuk ikut memilih dalam polling.
Pertama, saat Anda melihat polling di Tweet, cukup klik atau ketuk opsi pilihan Anda. Hasilnya langsung ditampilkan setelah Anda memilih. Suara Anda ditandai dengan tanda centang di sebelah pilihan.
Kedua, Anda cuma bisa memilih sekali. Jumlah suara total saat ini dan jumlah waktu yang tersisa dalam jajak pendapat ditampilkan di bawah pilihan jajak pendapat.
Hasil akhirnya akan didapat 5 menit hingga 7 hari setelah diposting, tergantung pada durasi yang ditetapkan oleh orang yang menggelar polling.
Pilihan pemenang ditampilkan dalam huruf tebal. Jika Anda memilih dalam jajak pendapat, Anda mungkin menerima push notication yang memberi tahu Anda tentang hasil akhir.
Dari paparan proses polling tersebut, nihil penggunaan variabel-variabel penting metode penelitian secara statistik.
Dikutip dari Slate, polling ala Elon Musk "itu bodoh." Pasalnya, tidak ada yang tahu berapa banyak dari suara yang berasal dari akun yang sah, siapa yang benar-benar memberikan suara dalam polling itu, atau seperti apa proses pembuatan polling-nya.
Teknik pengambilan sampel di halaman berikutnya...
Lalu apa bedanya dengan survei dengan metode yang ilmiah? Nur Indriantoro dan Supomo, dalam bukunya Metodologi Penelitian Bisnis untuk Akuntansi dan Manajemen, mengungkap beberapa variabel penting dalam survei.
Pertama, populasi, yang merupakan jumlah keseluruhan dari analisis yang cirinya dapat diduga.
Kedua, sampel atau bagian yang dianggap mewakili keseluruhan.
Ketiga, pengambilan sampel. Ada beberapa teknik untuk mengambil sampel dari populasi. Jika diambil secara benar, ini bisa jadi dasar yang kuat untuk mewakili karakteristik populasi, termasuk soal pilihan capres.
Untuk menentukannya pun butuh rumus, contohnya rumus Slovinn= Z2/4e2.
Biasanya, metode yang dilakukan lembaga-lembaga riset di Indonesia memakai beberapa teknik pengambilan sampel acak (random sampling). Di antaranya, simple random sampling, stratified random sampling, cluster random sampling, dan multi-stage random sampling.
Pertama, simple random sampling merupakan penarikan sampel dengansetiap objek memiliki peluang yang sama untuk terambil dan memiliki asumsi keragaman yang rendah dalam populasi.
Kedua, stratified random sampling ialah penarikan sampel secara acak dengan membagi populasi menjadi beberapa lapisan yang tidak saling tumpang tindih.
Ketiga, cluster random sampling adalah penarikan sampel acak sederhana terhadap satuan contoh yang berbentuk klaster. Semua elemen dalam rombongan ini terpilih sebagai contoh untuk disurvei.
Keempat, multistage random sampling, yang merupakan cara pengambilan sampel dengan menggunakan kombinasi dua atau lebih metode sampling.
Multistage disebut sebagai kasus khusus dari cluster sampling, dengan pada tahap kedua kita tidak memilih semua elemen dari cluster, tetapi beberapa elemen yang dipilih dengan cara acak.
Nah, beda kan dengan paparan soal polling Twitter?
Saking tak jelasnya teknik pengambilan sampel dan variabel penting metodologi survei dalam polling Twitter tertentu, beberapa warganet pun menilai pihak yang membela jajak pendapat itu tak paham statistik.
"Ini ada contoh lucu mas. Petinggi partai, pengikutnya banyak, ngatain org lain gak paham statistik. Eh dianya sendiri bilang kalau polling di twitter itu sample nya acak (random sampling?) Acak-acakan kali ya maksudnya," kicau akun @mata_anggaran.
Polling atau jajak pendapat di Twitter dinilai tak berdasar ilmu statistik lantaran tak bisa memetakan keabsahan akun, cara pengambilan sampel, hingga sebaran populasi.
Sebelumnya, Anggota Majelis Syuro Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Tifatul Sembiring menggadang-gadang hasil polling capres 2024 di platform milik Elon Musk tersebut.
Hasil itu memantik reaksi dari berbagai netizen. Bukan cuma karena soal jagoannya menang atau kalah. Beberapa pihak menyinggung soal kredibilitas polling tersebut.
Pasalnya, mantan Menteri Komunikasi dan Informatika tersebut sempat membanding-bandingkan dengan hasil lembaga survei resmi yang jauh beda dengan hasil polling pribadinya.
Akun @arkaatmaja7, contohnya, mempertanyakan salah satu faktor penting jajak pendapat dalam ilmu statistik, yakni sampel.
"Apakah follower bapak bisa dijadikan sampel yang mewakili demografi penduduk Indonesia sebagai populasi sehingga hasil poling bapak bisa dianggap mewakili pilihan publik? Nggak bisa bapak....poling dari follower bapak itu tidak akan bisa dijadikan kajian yg ilmiah..."
Tifatul pun 'ngegas' sambil menyatakan "Anda gak ngerti polling, nggak faham statistik. Jadi asbun kesannya mas."
Ia pun mengklaim polling di Twitter menggunakan teknik pengambilan sampel secara acak dan tak direkayasa.
"Bisa saja ada kekurang akuratan mas, seperti halnya survey2 juga, makanya ditentukan margin error dsb. Karakteristik polling jelas beda dengan survey, misalnya distribusi, sampling dan konklusinya. Dan lebih lagi polling via fasilitas twitter dg sampling acak dsb. Tapi bukan rekayasa," tutur Tifatul.
Fitur polling ini sendiri sudah ada sejak lama di Twitter. Popularitasnya kian menanjak usai akuisisi perusahaan oleh miliarder Elon Musk.
Ia beberapa kali menggelar polling, termasuk dalam hal nasib dirinya sendiri di kursi CEO hingga soal pengaktifan kembali akun mantan Presiden Donald Trump.
"Jajak Pendapat (polling) Twitter memungkinkan Anda mempertimbangkan pertanyaan yang diajukan oleh orang lain di Twitter. Anda juga dapat dengan mudah membuat jajak pendapat sendiri dan melihat hasilnya secara instan," menurut keterangan perusahaan.
Bagaimana cara membuat polling? Twitter menjelaskan tahapan lengkapnya berikut:
1. Klik kotak buat Tweet di bagian atas timeline Beranda Anda, atau klik tombol Tweet di bilah navigasi sebelah kiri.
2. Klik ikon Tambahkan polling.
3. Ketik pertanyaan jajak pendapat Anda ke dalam kotak penulisan utama. Anda dapat menggunakan hingga jumlah karakter maksimal dalam pertanyaan polling Anda. Mesti ada teks yang disertakan di Tweet untuk menggelar polling.
4. Masukkan opsi polling pertama Anda ke dalam kotak Pilihan 1, dan opsi polling kedua Anda ke dalam kotak Pilihan 2. Anda dapat menggunakan hingga 25 karakter untuk setiap opsi.
5. Klik + Tambahkan pilihan untuk menambahkan opsi tambahan ke jajak pendapat Anda. Jajak pendapat Anda dapat memiliki hingga empat opsi.
6. Durasi polling Anda default ke 1 hari. Anda dapat mengubah durasi polling Anda dengan mengklik 1 hari dan menyesuaikan hari, jam, dan menit. Jumlah minimal waktu polling adalah 5 menit, dan maksimlanya 7 hari.
7. Klik Tweet untuk mengirim polling.
Twitter pun menjelasakan cara untuk ikut memilih dalam polling.
Pertama, saat Anda melihat polling di Tweet, cukup klik atau ketuk opsi pilihan Anda. Hasilnya langsung ditampilkan setelah Anda memilih. Suara Anda ditandai dengan tanda centang di sebelah pilihan.
Kedua, Anda cuma bisa memilih sekali. Jumlah suara total saat ini dan jumlah waktu yang tersisa dalam jajak pendapat ditampilkan di bawah pilihan jajak pendapat.
Hasil akhirnya akan didapat 5 menit hingga 7 hari setelah diposting, tergantung pada durasi yang ditetapkan oleh orang yang menggelar polling.
Pilihan pemenang ditampilkan dalam huruf tebal. Jika Anda memilih dalam jajak pendapat, Anda mungkin menerima push notication yang memberi tahu Anda tentang hasil akhir.
Dari paparan proses polling tersebut, nihil penggunaan variabel-variabel penting metode penelitian secara statistik.
Dikutip dari Slate, polling ala Elon Musk "itu bodoh." Pasalnya, tidak ada yang tahu berapa banyak dari suara yang berasal dari akun yang sah, siapa yang benar-benar memberikan suara dalam polling itu, atau seperti apa proses pembuatan polling-nya.
Teknik pengambilan sampel di halaman berikutnya...
Pengambilan Sampel Acak atau Acak-acakan?
Ilustrasi. Pilpres 2024 memunculkan beberapa nama kandidat presiden, termasuk Anies Baswedan. (REUTERS/WILLY KURNIAWAN)
Lalu apa bedanya dengan survei dengan metode yang ilmiah? Nur Indriantoro dan Supomo, dalam bukunya Metodologi Penelitian Bisnis untuk Akuntansi dan Manajemen, mengungkap beberapa variabel penting dalam survei.
Pertama, populasi, yang merupakan jumlah keseluruhan dari analisis yang cirinya dapat diduga.
Kedua, sampel atau bagian yang dianggap mewakili keseluruhan.
Ketiga, pengambilan sampel. Ada beberapa teknik untuk mengambil sampel dari populasi. Jika diambil secara benar, ini bisa jadi dasar yang kuat untuk mewakili karakteristik populasi, termasuk soal pilihan capres.
Untuk menentukannya pun butuh rumus, contohnya rumus Slovinn= Z2/4e2.
Biasanya, metode yang dilakukan lembaga-lembaga riset di Indonesia memakai beberapa teknik pengambilan sampel acak (random sampling). Di antaranya, simple random sampling, stratified random sampling, cluster random sampling, dan multi-stage random sampling.
Pertama, simple random sampling merupakan penarikan sampel dengansetiap objek memiliki peluang yang sama untuk terambil dan memiliki asumsi keragaman yang rendah dalam populasi.
Kedua, stratified random sampling ialah penarikan sampel secara acak dengan membagi populasi menjadi beberapa lapisan yang tidak saling tumpang tindih.
Ketiga, cluster random sampling adalah penarikan sampel acak sederhana terhadap satuan contoh yang berbentuk klaster. Semua elemen dalam rombongan ini terpilih sebagai contoh untuk disurvei.
Keempat, multistage random sampling, yang merupakan cara pengambilan sampel dengan menggunakan kombinasi dua atau lebih metode sampling.
Multistage disebut sebagai kasus khusus dari cluster sampling, dengan pada tahap kedua kita tidak memilih semua elemen dari cluster, tetapi beberapa elemen yang dipilih dengan cara acak.
Nah, beda kan dengan paparan soal polling Twitter?
Saking tak jelasnya teknik pengambilan sampel dan variabel penting metodologi survei dalam polling Twitter tertentu, beberapa warganet pun menilai pihak yang membela jajak pendapat itu tak paham statistik.
"Ini ada contoh lucu mas. Petinggi partai, pengikutnya banyak, ngatain org lain gak paham statistik. Eh dianya sendiri bilang kalau polling di twitter itu sample nya acak (random sampling?) Acak-acakan kali ya maksudnya," kicau akun @mata_anggaran.