Jakarta, CNN Indonesia -- Meski studi mengungkap semua makhluk hidup bisa saling berkomunikasi, proses itu tak terjadi seperti dalam kebiasaan manusia; ngobrol. Perbedaan variasi 'bahasa' jadi hambatannya.
Ajaran agama berusia ribuan tahun mengungkap sosok yang bisa bicara dengan hewan adalah Nabi Sulaiman. Kemampuan itu membuat komunitas semut selamat dari injakan pasukannya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kisah fiksi mengadaptasinya. Film Holywood Dokter Dolittle menampilkan cerita yang menggambarkan seorang dokter hewan yang dapat memahami dan berbicara dengan hewan.
Bagaimana pandangan para ilmuwan soal ini?
Tim peneliti dari berbagai disiplin ilmu pada 2018 mengungkapkan dalam sebuah jurnal berjudul "On Understanding The Nature and Evolution of Social Cognition: a Need for The Study of Communication" bahwa semua makhluk hidup berkomunikasi.
"Komunikasi melibatkan tindakan atau karakteristik dari satu individu yang mempengaruhi perilaku, kecenderungan perilaku, atau fisiologi dari setidaknya satu individu lain dengan cara yang biasanya adaptif terhadap keduanya," kata peneliti, mengutip Endgadget, Selasa (9/8).
Ilmuwan sejauh ini belum menemukan mikroba, jamur, dan tanaman, atau organisme lain yang berada dalam isolasi ekstrem yang tak punya cara alami untuk berkomunikasi dengan dunia di sekitarnya.
Namun, yang harus diperjelas bahwa "komunikasi" dan "bahasa" adalah dua hal yang sangat berbeda.
"Tidak ada sistem komunikasi alami lain yang seperti bahasa manusia," menurut pernyataan Linguistics Society of America.
Bahasa memungkinkan manusia mengungkapkan pikiran dan menyampaikan informasi, serta meminta atau bahkan menuntutnya.
"Tidak seperti sistem komunikasi hewan lainnya, [bahasa] ini berisi ekspresi untuk menegasikan--apa yang tidak terjadi."
"Sistem komunikasi hewan, sebaliknya, biasanya memiliki paling banyak beberapa lusin panggilan berbeda, dan mereka hanya digunakan untuk mengkomunikasikan masalah langsung seperti makanan, bahaya, ancaman, atau rekonsiliasi." lanjut pernyataan ini.
Hewan bisa pahami manusia
Namun begitu, bukan berarti hewan peliharaan tidak memahami manusia.
Monique Udell, Direktur Laboratorium Interaksi Manusia dan Hewan di Oregen State University, menyebut hewan peliharaan seperti anjing dan kucing dapat merespons secara akurat kata-kata manusia, "ketika mereka memiliki pengalaman sebelumnya dengan kata-kata itu dan hasil yang relevan."
"Dalam banyak kasus, asosiasi ini dipelajari melalui pengondisian dasar," lanjut Udell.
Namun, soal apakah anjing dan kucing peliharaan benar-benar mengerti apa arti "makan malam" di luar respons Pavlov, hal ini masih harus dikaji lebih lanjut.
Respons Pavlov atau yang dikenal sebagai respons terkondisi, mengacu pada respons yang dipelajari, otomatis, dan tidak disengaja yang ditimbulkan oleh stimulus yang sebelumnya netral melalui pengkondisian klasik.
Ini adalah konsep kunci dalam eksperimen Pavlov, saat anjing belajar mengeluarkan air liur sebagai respons terhadap lonceng
"Kami tahu bahwa setidaknya beberapa anjing dapat belajar menanggapi lebih dari 1.000 kata manusia (label untuk objek) dengan tingkat akurasi yang tinggi," kata Udell.
"Anjing saat ini memegang rekor di antara spesies hewan non-manusia karena mampu mencocokkan kata-kata yang diucapkan manusia dengan objek atau tindakan dengan andal, tetapi sulit untuk mengetahui dengan pasti sejauh mana anjing memahami maksud di balik kata-kata atau tindakan kita," lanjut dia.
Udell menjelaskan ketika pihaknya mengukur mengenai pemahaman anjing atau kucing mengenai stimulus, seperti sebuah kata, peneliti biasanya melakukan hal itu berdasarkan perilaku mereka.
Menurutnya, manusia memang dapat mengajari anjing untuk duduk dengan perintah berbagai bahasa. Namun, itu tidak gratis.
"jika seekor anjing merespons dengan cara yang sama terhadap kata 'duduk' dalam bahasa Inggris dan Jerman, kemungkinan penjelasan paling sederhana - dengan asumsi paling sedikit - adalah bahwa mereka telah belajar ketika mereka duduk di hadapan kedua kata itu maka ada konsekuensi yang menyenangkan," tutur dia.
Komunikasi rumit burung di halaman berikutnya...
Kode-kode Burung
Ilustrasi. Beberapa jenis burung punya cara komunikasi cukup rumit. (AFP PHOTO / KARIM SAHIB)
Para ilmuwan mengungkap beberapa jenis burung punya tingkat kerumitan komunikasi lebih tinggi ketimbang cetacea seperti paus dan lumba-lumba.
Jeffrey Lucas, profesor di departemen Ilmu Biologi di Universitas Purdue, mengatakan burung-burung itu masuk keluarga unggas Paridae, yakni burung chickadee, burung betet, dan gelatik.
Paridae, katanya, "adalah salah satu sistem vokal paling rumit yang kita ketahui."
Lucas mengatakan burung-burung ini sering hidup dalam kawanan heterospesifik yang kompleks secara sosial, kelompok campuran yang terdiri dari berbagai spesies burung kicau dan pelatuk.
Kompleksitas sistem sosial burung berkorelasi dengan peningkatan keragaman dalam sistem komunikasi.
"Salah satu alasan mengapa korelasi itu ada adalah karena, jika Anda memiliki sistem sosial yang kompleks dan multidimensi, maka Anda harus menyampaikan berbagai jenis informasi dalam konteks yang berbeda," ujar Lucas.
"Di dunia burung, mereka harus mempertahankan wilayah mereka, berbicara tentang makanan, berintegrasi ke dalam sistem sosial [dan menyelesaikan] masalah perkawinan."
Panggilan chickadee terdiri dari setidaknya enam nada berbeda yang diatur dalam struktur vokal terbuka, yang keduanya sangat langka dalam sistem komunikasi non-manusia dan alasan kompleksitas panggilan chickadee.
Sebuah studi Linking Social Complexity and Vocal Complexity: a Parid Perspective yang terbit tahun 2012 mengungkapkan Sistem vokal terbuka berarti bahwa peningkatan rekaman panggilan chick-a-dee akan terus mengungkapkan panggilan dengan komposisi tipe nada yang berbeda.
Sifat terbuka ini adalah salah satu fitur utama panggilan chick-a-dee dengan bahasa manusia, dan salah satu perbedaan utama antara panggilan chick-a-dee dan repertoar lagu terbatas dari sebagian besar spesies burung penyanyi.
Butuh data korpus yang besar
Untuk memahami komunikasi satwa, peneliti mengungkap kebutuhan data yang besar berbagai jenis 'bahasa'.
"Jenis data terkuat yang dapat kami miliki adalah apa yang disebut korpus paralel," jelas Noah D. Goodman, Associate Professor of Psychology and Computer Science, and Linguistics di Stanford University.
Korupus merupakan kumpulan teks alami, baik bahasa lisan maupun bahasa tulis, yang disusun secara sistematis. Disebut "alami" karena teks yang dikumpulkan merupakan teks yang diproduksi dan digunakan secara wajar dan tidak dibuat-buat.
Tanpa terjemahan yang sempurna, selama memiliki korpus data yang besar untuk kedua bahasa, peneliti membuka kemungkinan untuk mempelajari terjemahan antar-bahasa. Namun, itu sangat bergantung pada gagasan soal jenis "struktur konseptual laten."
Goodman menunjuk pada pasangan kata 'pria dan wanita' dan 'raja dan ratu' dalam bahasa Inggris.
"Untuk sebagian besar bahasa manusia, kami menganggap semacam, agak mirip, seperti, mungkin mereka (penutur bahasa lain) tidak memiliki 'raja dan ratu' tetapi mereka pasti memiliki 'pria dan wanita'," ujar Goodman.
"Tetapi menurut saya untuk komunikasi hewan, kita tidak dapat berasumsi bahwa lumba-lumba memiliki konsep 'raja dan ratu' atau apakah mereka memiliki 'laki-laki dan perempuan'. Saya tidak tahu, mungkin, mungkin tidak."
 Hewan yang Hanya Ada di Indonesia (Foto: CNNIndonesia/Asfahan Yahsyi) |