Jakarta, CNN Indonesia -- Pernahkah Anda membayangkan apa yang terjadi jika suhu di sebuah wilayah tembus hingga 50 derajat Celsius? Simak bagaimana dampak tingginya suhu berdasarkan pengalaman dan prediksi para pakar.
Saat suhu gila-gilaan, orang jelas bakal cari perlindungan buat bertahan hidup. Jalanan bakal sepi, trotoar kosong tanpa pedagang pecel lele dan tukang parkir minimarket, sekolah tutup, mal kosong; sebuah gambaran kota mati di cerita apokaliptik.
Beberapa pihak kemungkinan menyiasatinya dengan mengubah aktivitas ke malam hari guna menghindari sengatan Matahari.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Satu-satunya pihak yang terlihat di luar ruangan kemungkinan adalah mereka yang tidak memiliki akses ke pendingin ruangan alias AC seperti tunawisma.
Mereka yang tidak memiliki pilihan hanya bisa mengandalkan tempat berlindung seadanya seperti kolong jembatan, atau mungkin memakai kipas angin ditambah seprai yang dibasahi air.
Sementara, orang kaya mengungsi ke tempat dengan suhu udara yang sejuk seperti rumah, mobil, kantor, hingga mal.
Jangan lupa, udara panas bakal membuat aspal mendidih, lebih tinggi 10 sampai 20 derajat Celsius dari temperatur udara. Telur pun matang saat dimasak di atasnya.
Cakar kucing dan anjing akan melepuh saat berjalan-jalan sebentar di jalanan.
Banyak spesies mamalia dan burung telah bermigrasi ke lingkungan yang lebih dingin, mungkin ke tempat yang lebih tinggi atau bahkan musnah. Sementara, reptil yang tidak dapat mengatur suhu tubuh mereka, bakal pindah atau perlahan punah.
"Ledakan panasnya seperti kompor... benar-benar terasa mengancam jiwa dan bak kiamat," kata Nigel Tapper, profesor ilmu lingkungan di Monash University Melbourne, dikutip dari The Guardian.
"Anda tidak bisa keluar [rumah] lebih dari beberapa menit."
Makin biasa
Beberapa dekade lalu, suhu 50 derajat C dianggap sebagai anomali. Kini, kondisi tersebut makin sering terjadi.
Awal tahun ini, 1,1 juta penduduk Nawabshah, Pakistan, mengalami April terpanas yang pernah tercatat di Bumi dengan suhu 50,2 derajat C. Tetangganya, India, dua tahun sebelumnya, mengalami suhu 51 derajat C di Phalodi.
Beberapa kota di Timur Tengah juga dilaporkan semakin terbiasa dengan panas semacam itu. Basra, Irak, dengan populasi 2,1 juta jiwa, sempat menyentuh angka 53,9 derajat C dua tahun lalu.
Kuwait City dan Doha (Qatar) mengalami 50 derajat C atau lebih dalam dekade terakhir. Quriyat, di pantai Oman, belakangan konsisten di atas 42,6 derajat C.
Di Mekkah, jutaan jemaah haji makin terpanggang panas saat layanan banyak gangguan. Berdasarkan tren saat ini, tinggal menunggu waktu sebelum suhu melebihi rekor 51,3 derajat Celsius yang dicapai pada 2012.
Pada ajang olahraga Australia Open di Melbourne tahun ini, ketika suhu lingkungan mencapai 40 derajat C, para pemain sempoyongan seperti "petinju yang mabuk" karena sengatan panas.
Saat ini, gelombang panas jadi hal lumrah di banyak negara, terutama di belahan Bumi utara. Eropa, AS, China, Asia Pasifik, dilanda panas ngeri yang menciptakan rekor-rekor baru suhu.
Pemanasan global, yang didorong oleh penggunaan kendaraan bermotor, industri, hingga peternakan, jadi pemicunya.
Di saat yang sama, siklon tropis menerjang lantaran pemanasan global membuat badai makin liar. Hujan ekstrem dan banjir pun menerjang kala panas melanda, ironis.
Dampak pada kesehatan di halaman berikutnya...
Panas yang Berpotensi Mematikan
Ilustrasi. Death Valley, AS, jadi tempat terpanas di Bumi. (Foto: REUTERS/STAFF)
Dev Niyogi, profesor di Purdue University, Indiana, AS, pernah jadi saksi bagaimana kota-kota terkena dampak panas ekstrem dalam penelitiannya ke New Delhi dan Pune, India, selama gelombang panas 2015 yang menewaskan lebih dari 2.000 orang.
"Anda bisa melihat perubahan fisiknya. Permukaan jalan mulai mencair, lingkungan menjadi sepi karena orang tidak keluar dan uap air naik dari tanah seperti fatamorgana gurun," kenangnya.
"Kita harus berharap bahwa kita tidak melihat [situasi] 50 derajat C. Itu akan menjadi wilayah yang belum terpetakan. Infrastruktur akan lumpuh dan ekosistem jasa akan mulai rusak, dengan konsekuensi jangka panjang."
Lonjakan kematian
Pada suhu 50 derajat Celsius atau setengah dari titik didih air dan lebih dari 10 derajat Celsius di atas suhu tubuh yang sehat, suhu panas dapat berubah menjadi racun.
Ketika berada pada kondisi tersebut, sel-sel manusia mulai mendidih, darah mengental, otot-otot mengunci di sekitar paru-paru dan otak kekurangan oksigen.
Dalam kondisi kering, keringat dapat mengurangi dampaknya. Namun, perlindungan ini akan melemah jika sudah ada uap air di udara.
Beberapa rumah sakit mendirikan bangsal spesialis. Para lansia, penderita obesitas, dan orang sakit jadi yang paling berisiko.
[Gambas:Photo CNN]
Di hampir semua negara yang mengalami panas ekstrem, tingkat rawat inap dan kematian cenderung meningkat ketika suhu melewati 35 derajat C. Dan ini makin lebih sering terjadi di banyak tempat.
Studi bertajuk "Future We Don't Want" dari aliansi kota-kota besar dunia, C40, memperkirakan jumlah penduduk kota yang terpapar panas ekstrem akan meningkat delapan kali lipat, menjadi 1,6 miliar, hingga 2050.
Niyogi pun mewanti-wanti adaptasi tak cuma perlu pada desain kota, tetapi juga bagaimana warga hidup di dalamnya. Namun, yang lebih dulu diantisipasi adalah efek bencana dari panas ekstrem, seperti banjir dan angin topan.
"Panas itu berbeda," kata Niyogi yang juga menjabat pimpinan Urban Environment Department di American Meteorological Society.
"Anda tidak melihat suhu merayap hingga 50 derajat C. [Kenaikan suhu] itu bisa membuat orang tidak sadar," sindirnya.