Alasan Misi OSIRIS-REx Penting Buat Keselamatan Bumi
CNN Indonesia
Selasa, 26 Sep 2023 13:05 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Misi OSIRIS-REx NASA berhasil membawa sampel asteroid Bennu ke Bumi. (Foto: NASA)
Jakarta, CNN Indonesia --
Wahana antariksa OSIRIS-REx (Origins, Spectral Interpretation, Resources Identification and Security - Regolith Explorer) NASA akhirnya tiba di Bumi setelah menempuh miliaran kilometer dari antariksa. Misi tersebut membawa sampel batu dan debu dari asteroid Bennu yang bakal dipelajari oleh para ilmuwan.
Lantas, apa pentingnya misi OSIRIS-REx yang membawa sampel 'alien' itu?
Misi OSIRIS-REx meluncur pada tahun 2016 dan telah mengumpulkan beberapa ratus gram sampel dari asteroid Bennu. Sampel tersebut diklaim dapat membantu para ilmuwan memahami tahap awal pembentukan tata surya.
"NASA berinvestasi dalam misi benda kecil seperti OSIRIS-REx untuk menyelidiki populasi asteroid yang kaya di tata surya kita yang dapat memberi kita petunjuk tentang bagaimana tata surya terbentuk dan berevolusi," kata Melissa Morris, eksekutif program OSIRIS-REx, mengutip The Verge, Senin (25/9).
Kapsul itu mendarat pada Minggu (24/9) pukul 08.52 MDT (21.52 WIB), di area yang ditargetkan di Area Uji dan Pelatihan Utah milik Departemen Pertahanan AS, dekat Salt Lake City. Area pendaratan ini dipilih karena merupakan wilayah udara terbatas terbesar di Amerika Serikat dan telah digunakan untuk misi pengembalian sampel NASA sebelumnya seperti Genesis dan Stardust.
"Navigasi yang sangat tepat diperlukan untuk mengorbit Bennu dan untuk mendarat dan mengumpulkan sampel kami, kami berada di bawah satu meter dari target kami," Sandra Freund, manajer program OSIRIS-REx.
"Jadi itu menggambarkan presisi navigasi seperti apa yang kami miliki sepanjang misi ini," imbuhnya.
Dalam waktu satu setengah jam, kapsul tersebut diangkut dengan helikopter ke ruang steril sementara yang didirikan di hanggar di tempat latihan. Di lokasi itu, kapsul tersebut dialiri nitrogen.
Kenapa kita butuh sampel asteroid Bennu?
Para ilmuwan akan menganalisis batuan dan tanah dari asteroid Bennu selama dua tahun ke depan di ruangan khusus di dalam Johnson Space Center.
Sekitar 70 persen sampel akan tetap murni dalam penyimpanan, sehingga generasi mendatang dengan teknologi yang lebih baik dapat mempelajarinya lebih banyak.
"Kami benar-benar tertarik pada jejak kimia molekuler organik," kata Dante Lauretta, peneliti utama OSIRIS-REx.
"Kami benar-benar ingin memahami- unsur-unsur yang digunakan dalam biologi saat ini, seperti asam amino yang membentuk protein dan asam nukleat yang membentuk gen kita- apakah semua itu terbentuk di dalam tubuh asteroid kuno dan dikirim ke Bumi dari luar angkasa?" tambahnya.
Gagasan ini mungkin terdengar aneh, tapi sebenarnya ini adalah teori yang cukup didukung dan diterima secara luas tentang bagaimana beberapa elemen kunci terbentuknya kehidupan di Bumi.
Para ilmuwan beranggapan perlu untuk memperjelas bahwa teori ini bukan berarti kehidupan muncul di tempat lain dan dikirim ke Bumi, melainkan unsur-unsur penyusun dasar kehidupan- yang sering disebut sebagai senyawa organik- bisa saja dibawa oleh asteroid ke Bumi miliaran tahun lalu.
Hal ini sebetulnya sudah menjadi teori selama beberapa dekade; tetapi untuk mengujinya, para ilmuwan membutuhkan akses ke materi asteroid guna melihat dan membutikan teori tadi. Kemudian, ketika para peneliti meneliti dari objek yang jatuh ke bumi besar kemungkinan sudahh terkontaminasi dan tidak murni seperti saat masih di luar angkasa.
Jadi untuk melakukan penelitian dari objek yang murni dari luar angkasa, mereka membutuhkan sampel asteroid yang semurni mungkin.
Menguak misteri semesta
Ketika para ilmuwan ingin memahami bagaimana Bumi terbentuk, mereka perlu melihat melampaui planet dan keluar ke tata surya.
Sistem bintang terbentuk dari gumpalan awan gas raksasa yang runtuh menjadi bintang di pusatnya, lalu memutar piringan material di sekelilingnya.
Hal ini sudah jelas dari pengamatan sistem bintang lain, tapi ada juga bukti dari tata surya kita bahwa planet-planet berputar mengelilingi Matahari pada arah yang sama dan pada bidang yang sama, mendukung gagasan planet-planet itu terbentuk dari piringan materi yang sama.
Sebagian materi tersebut menyatu menjadi planet, dan sebagian lagi tersapu menjadi asteroid-asteroid yang paling awal dan sebagian di antaranya masih ada sampai sekarang.
"Asteroid berasal dari sekitar 500 juta tahun lebih awal dari batuan tertua di Bumi. Jadi sebagai ahli geologi, saya ingin kembali ke awal," kata Lauretta.
"Dan yang menyenangkan adalah, ketika Anda melihat asteroid, Anda benar-benar pergi ke awal tata surya," lanjutnya.
Asteroid Bennu, yang sampelnya akan dipelajari, diperkirakan terdiri dari materi berusia sekitar 4,5 miliar tahun, menjadikannya kapsul waktu potensial dari tahap awal tata surya. Tetapi para peneliti tidak dapat mengetahui usianya dengan pasti sampai analisis terperinci telah dilakukan.
Upaya mengumpulkan asteroid
Misi OSIRIS-REx adalah pertama kalinya NASA membawa kembali sampel dari asteroid. Namun, sebelum NASA, Badan Eksplorasi Dirgantara Jepang (JAXA) juga sudah mengumpulkan dua sampel asteroid dalam misi Hayabusa dan Hayabusa 2 yang bersejarah.
Misi Hayabusa pertama hanya mengumpulkan sejumlah kecil material, misi kedua berhasil mengembalikan sekitar lima gram material dari asteroid Ryugu pada tahun 2020.
OSIRIS-REx mengembalikan lebih banyak materi dari asteroid Bennu, sekitar 250 gram, yang berarti bahwa lebih banyak penelitian dapat dilakukan. Kendati demikian, para peneliti melihat kedua misi itu saling melengkapi, bukan kompetitif.
"Tidak semua asteroid sama," kata Lauretta, yang juga anggota tim Hayabusa 2.
Baik Ryugu dan Bennu memiliki bentuk seperti spinning-top-like yang serupa, tetapi mereka terlihat sangat berbeda.
"Kami melihat ini bukan sebagai dua program analisis sampel, tetapi satu program analisis sampel besar, karena ini adalah upaya di seluruh dunia." kata Lauretta.
Target asteroid baru
Setelah wahana OSIRIS-REx mendaratkan kampsul berisi sampel, maka tugas awal mereka sudah rampung. Namun, wahana itu masih berada di luar angkasa.
Meskipun tidak lagi bisa mengumpulkan sampel dari asteroid, wahana ini masih memiliki tenaga dan sistem pendorong, serta semua instrumen penelitiannya masih beroperasi.
Jadi, alih-alih membuang wahana ini, NASA bakal mengganti namanya menjadi OSIRIS-APEX dan akan mempelajari target baru, yakni meneliti asteroid Apophis.
Dengan memanfaatkan dinamika orbit, OSIRIS-APEX akan bisa bertemu dan mempelajari asteroid Apophis, salah satu asteroid yang paling terkenal di tata surya. Asteroid ini diperkirakan akan mendekat ke Bumi dalam beberapa tahun ke depan.
"Pada tahun 2029, pada bulan April, Apophis akan terbang dalam jarak 30.000 kilometer dari permukaan Bumi, yaitu sekitar ketinggian yang diorbit satelit cuaca kita," kata Lauretta.
OSIRIS-APEX akan dapat mengikuti jalur asteroid di sekitar Bumi dan bertemu dengannya, untuk melakukan lebih banyak pengamatan sains.
Mendapatkan sampel kembali ke Bumi hanyalah awal dari penelitian sains, dan tim dengan cemas menunggu puncak dari semua upaya mereka.
"Kami telah membangun dan menguji dan merancang benda ini selama lebih dari 12 tahun. Jadi ini adalah akhir dari perjalanan yang sangat, sangat panjang, dan awal dari bab berikutnya," tandasnya.
Wahana antariksa OSIRIS-REx (Origins, Spectral Interpretation, Resources Identification and Security - Regolith Explorer) NASA akhirnya tiba di Bumi setelah menempuh miliaran kilometer dari antariksa. Misi tersebut membawa sampel batu dan debu dari asteroid Bennu yang bakal dipelajari oleh para ilmuwan.
Lantas, apa pentingnya misi OSIRIS-REx yang membawa sampel 'alien' itu?
Misi OSIRIS-REx meluncur pada tahun 2016 dan telah mengumpulkan beberapa ratus gram sampel dari asteroid Bennu. Sampel tersebut diklaim dapat membantu para ilmuwan memahami tahap awal pembentukan tata surya.
"NASA berinvestasi dalam misi benda kecil seperti OSIRIS-REx untuk menyelidiki populasi asteroid yang kaya di tata surya kita yang dapat memberi kita petunjuk tentang bagaimana tata surya terbentuk dan berevolusi," kata Melissa Morris, eksekutif program OSIRIS-REx, mengutip The Verge, Senin (25/9).
Kapsul itu mendarat pada Minggu (24/9) pukul 08.52 MDT (21.52 WIB), di area yang ditargetkan di Area Uji dan Pelatihan Utah milik Departemen Pertahanan AS, dekat Salt Lake City. Area pendaratan ini dipilih karena merupakan wilayah udara terbatas terbesar di Amerika Serikat dan telah digunakan untuk misi pengembalian sampel NASA sebelumnya seperti Genesis dan Stardust.
"Navigasi yang sangat tepat diperlukan untuk mengorbit Bennu dan untuk mendarat dan mengumpulkan sampel kami, kami berada di bawah satu meter dari target kami," Sandra Freund, manajer program OSIRIS-REx.
"Jadi itu menggambarkan presisi navigasi seperti apa yang kami miliki sepanjang misi ini," imbuhnya.
Dalam waktu satu setengah jam, kapsul tersebut diangkut dengan helikopter ke ruang steril sementara yang didirikan di hanggar di tempat latihan. Di lokasi itu, kapsul tersebut dialiri nitrogen.
Kenapa kita butuh sampel asteroid Bennu?
Para ilmuwan akan menganalisis batuan dan tanah dari asteroid Bennu selama dua tahun ke depan di ruangan khusus di dalam Johnson Space Center.
Sekitar 70 persen sampel akan tetap murni dalam penyimpanan, sehingga generasi mendatang dengan teknologi yang lebih baik dapat mempelajarinya lebih banyak.
"Kami benar-benar tertarik pada jejak kimia molekuler organik," kata Dante Lauretta, peneliti utama OSIRIS-REx.
"Kami benar-benar ingin memahami- unsur-unsur yang digunakan dalam biologi saat ini, seperti asam amino yang membentuk protein dan asam nukleat yang membentuk gen kita- apakah semua itu terbentuk di dalam tubuh asteroid kuno dan dikirim ke Bumi dari luar angkasa?" tambahnya.
Gagasan ini mungkin terdengar aneh, tapi sebenarnya ini adalah teori yang cukup didukung dan diterima secara luas tentang bagaimana beberapa elemen kunci terbentuknya kehidupan di Bumi.
Para ilmuwan beranggapan perlu untuk memperjelas bahwa teori ini bukan berarti kehidupan muncul di tempat lain dan dikirim ke Bumi, melainkan unsur-unsur penyusun dasar kehidupan- yang sering disebut sebagai senyawa organik- bisa saja dibawa oleh asteroid ke Bumi miliaran tahun lalu.
Hal ini sebetulnya sudah menjadi teori selama beberapa dekade; tetapi untuk mengujinya, para ilmuwan membutuhkan akses ke materi asteroid guna melihat dan membutikan teori tadi. Kemudian, ketika para peneliti meneliti dari objek yang jatuh ke bumi besar kemungkinan sudahh terkontaminasi dan tidak murni seperti saat masih di luar angkasa.
Jadi untuk melakukan penelitian dari objek yang murni dari luar angkasa, mereka membutuhkan sampel asteroid yang semurni mungkin.
Menguak misteri semesta
Ketika para ilmuwan ingin memahami bagaimana Bumi terbentuk, mereka perlu melihat melampaui planet dan keluar ke tata surya.
Sistem bintang terbentuk dari gumpalan awan gas raksasa yang runtuh menjadi bintang di pusatnya, lalu memutar piringan material di sekelilingnya.
Hal ini sudah jelas dari pengamatan sistem bintang lain, tapi ada juga bukti dari tata surya kita bahwa planet-planet berputar mengelilingi Matahari pada arah yang sama dan pada bidang yang sama, mendukung gagasan planet-planet itu terbentuk dari piringan materi yang sama.
Upaya Mengumpulkan Asteroid
Misi OSIRIS-REx NASA berhasil membawa sampel asteroid Bennu ke Bumi. (Foto: via REUTERS/KEEGAN BARBER/NASA)
Sebagian materi tersebut menyatu menjadi planet, dan sebagian lagi tersapu menjadi asteroid-asteroid yang paling awal dan sebagian di antaranya masih ada sampai sekarang.
"Asteroid berasal dari sekitar 500 juta tahun lebih awal dari batuan tertua di Bumi. Jadi sebagai ahli geologi, saya ingin kembali ke awal," kata Lauretta.
"Dan yang menyenangkan adalah, ketika Anda melihat asteroid, Anda benar-benar pergi ke awal tata surya," lanjutnya.
Asteroid Bennu, yang sampelnya akan dipelajari, diperkirakan terdiri dari materi berusia sekitar 4,5 miliar tahun, menjadikannya kapsul waktu potensial dari tahap awal tata surya. Tetapi para peneliti tidak dapat mengetahui usianya dengan pasti sampai analisis terperinci telah dilakukan.
Upaya mengumpulkan asteroid
Misi OSIRIS-REx adalah pertama kalinya NASA membawa kembali sampel dari asteroid. Namun, sebelum NASA, Badan Eksplorasi Dirgantara Jepang (JAXA) juga sudah mengumpulkan dua sampel asteroid dalam misi Hayabusa dan Hayabusa 2 yang bersejarah.
Misi Hayabusa pertama hanya mengumpulkan sejumlah kecil material, misi kedua berhasil mengembalikan sekitar lima gram material dari asteroid Ryugu pada tahun 2020.
OSIRIS-REx mengembalikan lebih banyak materi dari asteroid Bennu, sekitar 250 gram, yang berarti bahwa lebih banyak penelitian dapat dilakukan. Kendati demikian, para peneliti melihat kedua misi itu saling melengkapi, bukan kompetitif.
"Tidak semua asteroid sama," kata Lauretta, yang juga anggota tim Hayabusa 2.
Baik Ryugu dan Bennu memiliki bentuk seperti spinning-top-like yang serupa, tetapi mereka terlihat sangat berbeda.
"Kami melihat ini bukan sebagai dua program analisis sampel, tetapi satu program analisis sampel besar, karena ini adalah upaya di seluruh dunia." kata Lauretta.
Target asteroid baru
Setelah wahana OSIRIS-REx mendaratkan kampsul berisi sampel, maka tugas awal mereka sudah rampung. Namun, wahana itu masih berada di luar angkasa.
Meskipun tidak lagi bisa mengumpulkan sampel dari asteroid, wahana ini masih memiliki tenaga dan sistem pendorong, serta semua instrumen penelitiannya masih beroperasi.
Jadi, alih-alih membuang wahana ini, NASA bakal mengganti namanya menjadi OSIRIS-APEX dan akan mempelajari target baru, yakni meneliti asteroid Apophis.
Dengan memanfaatkan dinamika orbit, OSIRIS-APEX akan bisa bertemu dan mempelajari asteroid Apophis, salah satu asteroid yang paling terkenal di tata surya. Asteroid ini diperkirakan akan mendekat ke Bumi dalam beberapa tahun ke depan.
"Pada tahun 2029, pada bulan April, Apophis akan terbang dalam jarak 30.000 kilometer dari permukaan Bumi, yaitu sekitar ketinggian yang diorbit satelit cuaca kita," kata Lauretta.
OSIRIS-APEX akan dapat mengikuti jalur asteroid di sekitar Bumi dan bertemu dengannya, untuk melakukan lebih banyak pengamatan sains.
Mendapatkan sampel kembali ke Bumi hanyalah awal dari penelitian sains, dan tim dengan cemas menunggu puncak dari semua upaya mereka.
"Kami telah membangun dan menguji dan merancang benda ini selama lebih dari 12 tahun. Jadi ini adalah akhir dari perjalanan yang sangat, sangat panjang, dan awal dari bab berikutnya," tandasnya.