Pakar Prediksi Semua Gerhana Matahari Akan Jadi 'Cincin Api'
CNN Indonesia
Senin, 09 Okt 2023 10:30 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Ilustrasi. Pakar memprediksi semua gerhana Matahari akan menjadi 'cincin api' di masa depan. (Foto: Arun SANKAR / AFP)
Jakarta, CNN Indonesia --
Pakar astronomi dari Hayden Planetarium, New York, Joe Rao memprediksi Gerhana Matahari di masa depan akan seluruhnya berbentuk lingkaran 'cincin api', alias tidak ada lagi gerhana Matahari total. Hal ini disebabkan oleh jarak rata-rata Bulan ke Bumi meningkat dengan kecepatan sekitar 3,8 cm setiap tahunnya.
Gerhana yang berbentuk lingkaran 'cincin api' itu disebut juga gerhana Matahari annular atau gerhana Matahari Cincin. Gerhana ini merupakan gerhana melingkar, di mana cincin cahaya Matahari terlihat mengelilingi bayangan Bulan pada titik tengah dalam pengamatan.
Menurut Joe, gerhana annular tidak seperti gerhana total karena langit tidak menjadi lebih gelap, korona matahari dan kromosfer, serta "efek tepi" seperti pita bayangan tidak dapat muncul.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Namun, akan tiba saatnya ketika fenomena Gerhana Matahari Total akan menjadi hal yang mustahil, karena Bulan, seperti yang terlihat dari Bumi, akan terlalu kecil dalam ukuran sudut yang tampak untuk menutupi seluruh piringan Matahari," kata Joe dalam sebuah kolom yang ditulis di Space, Minggu (8/10).
Ia menjelaskan Bulan bergerak mengelilingi Bumi dalam orbit elips. Pada titik terdekatnya dengan Bumi (perigee), Bulan dapat mendekati Bumi dalam jarak 356.371 km, sedangkan titik terjauh dari Bumi (apogee) adalah 406.720 km. Jarak rata-rata Bumi ke bulan adalah 384.748 km.
Agar gerhana total dapat terjadi, kerucut bayangan umbra gelap bulan harus bersentuhan dengan permukaan Bumi. Ketika umbra mendarat di Bumi, pada dasarnya, itu adalah ujung kerucut bayangan dan dalam kebanyakan kasus, bayangan gelap tersebut cenderung memiliki lebar rata-rata sekitar 130 km. Di mana pun di area bayangan tersebut, akan mengalami Gerhana Matahari Total, dengan bayangan gelap bulan sepenuhnya menutupi Matahari.
Namun, kerucut bayangan bulan - secara umum - panjangnya hanya sekitar 378.000 km, lebih kecil dari jarak rata-rata Bulan dari Bumi.
"Itulah sebabnya, ketika Bulan baru melintas langsung di antara Bumi dan Matahari, jika - secara umum - jaraknya lebih dari 378.000 km, ujung bayangan umbra yang gelap akan gagal untuk melakukan kontak dengan Bumi," ujar Joe.
"Sebagai gantinya, 'bayangan negatif' yang dikenal sebagai antumbra tercipta dan dari bayangan itulah - seperti yang akan terjadi pada tanggal 14 Oktober - pemandangan Gerhana Matahari Total atau Gerhana Cincin akan terlihat," lanjutnya.
Kepunahan Gerhana Matahari Total
Sejak Juli 1969 sampai Desember 1972, 12 astronot Apollo meninggalkan serangkaian pemantul laser di permukaan Bulan. Sejak saat itu, para astronom di Bumi secara rutin memantulkan laser dari reflektor tersebut. Dengan mengukur waktu perjalanan pulang-pergi pulsa laser tersebut, jarak Bulan dapat diukur dengan sangat akurat.
Analisis dari pengukuran ini menunjukkan bahwa jarak rata-rata bulan ke Bumi meningkat dengan laju sekitar 3,8 cm setiap tahunnya. Mengapa hal ini terjadi?
Gerak bulan sangat dipengaruhi oleh daya tarik Matahari, dan dengan cara yang lebih rendah oleh planet-planet dan Bumi. Karena pengaruh pasang surut, Bulan perlahan-lahan bergerak menjauh dari Bumi, berputar ke arah luar dan naik ke orbit yang lebih jauh.
"Tentu saja, ketika Bulan bergerak semakin jauh, ukurannya yang tampak akan semakin mengecil hingga akhirnya mencapai titik di mana ia akan terlalu jauh bagi kerucut bayangan umbralnya yang gelap untuk mencapai Bumi dan dengan demikian menghalangi terjadinya Gerhana Matahari Total," jelas dia.
Dalam bukunya, "More Mathematical Astronomy Morsels" (Willmann-Bell, Inc. 2002), seorang ahli perhitungan astronomi, Jean Meeus, mengatakan bahwa tingkat pergeseran Bulan dari Bumi saat ini sebesar 3,8 meter per abad akan tetap konstan. Jika benar demikian, maka dibutuhkan waktu 1,21 miliar tahun sebelum Gerhana Matahari Total menjadi mustahil.
Namun, jika memperhitungkan fakta bahwa eksentrisitas (bentuk) orbit Bumi bervariasi pada tingkat yang lebih cepat daripada peningkatan jarak bulan yang sangat lambat dan bertahap, mungkin tidak perlu menunggu selama itu.
"Akibatnya, dari 620 juta hingga 1210 juta tahun ke depan, akan ada periode di mana Gerhana Matahari Total secara bergantian menjadi mungkin dan tidak mungkin, hingga akhirnya totalitas itu tetap tidak mungkin selamanya," kata Meeus.
Gerhana Matahari Cincin Api bakal terjadi akhir pekan ini, Sabtu (14/10). Gerhana Matahari ini bisa disaksikan di Amerika utara, tengah, dan Selatan.
Berbeda dengan gerhana Matahari biasa, gerhana ini menampilkan kilauan cahaya di sekeliling Bulan yang menutupi Matahari.
Dikutip dari CNN, julukan "cincin api" berasal dari penampakan gerhana Matahari yang mirip dengan Gerhana Matahari Total, tetapi Bulan berada pada titik terjauh dalam orbitnya dari Bumi, sehingga tidak dapat sepenuhnya menghalangi Matahari.
Dengan demikian, cahaya Matahari yang berapi-api mengelilingi bayangan Bulan, menciptakan apa yang disebut cincin api.
Gerhana Matahari Total akan dimulai di Amerika Serikat pada pukul 09:13 pagi waktu setempat (sekitar 23.13 WIB) dan melintasi pantai Oregon hingga Pantai Teluk Texas. Gerhana ini juga tampak di Oregon, Nevada, Utah, New Mexico dan Texas.
Selain itu, bayangan Bulan juga akan terlihat di beberapa bagian California, Idaho, Colorado, dan Arizona. Gerhana akan berakhir di AS pada pukul 12:03 malam CT (15 Oktober 00:03 WIB).
Setelah meninggalkan AS, gerhana akan melintasi Meksiko, Belize, Honduras, Panama, dan Kolombia sebelum berakhir di pesisir Atlantik Amerika bagian Selatan di Natal, Brasil.
Sayangnya, fenomena ini tak dapat disaksikan dari Indonesia. Fenomena gerhana Matahari yang terakhir kali bisa dilihat di Indonesia pada tahun ini adalah gerhana Matahari hibrida pada April lalu.
Pakar astronomi dari Hayden Planetarium, New York, Joe Rao memprediksi Gerhana Matahari di masa depan akan seluruhnya berbentuk lingkaran 'cincin api', alias tidak ada lagi gerhana Matahari total. Hal ini disebabkan oleh jarak rata-rata Bulan ke Bumi meningkat dengan kecepatan sekitar 3,8 cm setiap tahunnya.
Gerhana yang berbentuk lingkaran 'cincin api' itu disebut juga gerhana Matahari annular atau gerhana Matahari Cincin. Gerhana ini merupakan gerhana melingkar, di mana cincin cahaya Matahari terlihat mengelilingi bayangan Bulan pada titik tengah dalam pengamatan.
Menurut Joe, gerhana annular tidak seperti gerhana total karena langit tidak menjadi lebih gelap, korona matahari dan kromosfer, serta "efek tepi" seperti pita bayangan tidak dapat muncul.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Namun, akan tiba saatnya ketika fenomena Gerhana Matahari Total akan menjadi hal yang mustahil, karena Bulan, seperti yang terlihat dari Bumi, akan terlalu kecil dalam ukuran sudut yang tampak untuk menutupi seluruh piringan Matahari," kata Joe dalam sebuah kolom yang ditulis di Space, Minggu (8/10).
Ia menjelaskan Bulan bergerak mengelilingi Bumi dalam orbit elips. Pada titik terdekatnya dengan Bumi (perigee), Bulan dapat mendekati Bumi dalam jarak 356.371 km, sedangkan titik terjauh dari Bumi (apogee) adalah 406.720 km. Jarak rata-rata Bumi ke bulan adalah 384.748 km.
Agar gerhana total dapat terjadi, kerucut bayangan umbra gelap bulan harus bersentuhan dengan permukaan Bumi. Ketika umbra mendarat di Bumi, pada dasarnya, itu adalah ujung kerucut bayangan dan dalam kebanyakan kasus, bayangan gelap tersebut cenderung memiliki lebar rata-rata sekitar 130 km. Di mana pun di area bayangan tersebut, akan mengalami Gerhana Matahari Total, dengan bayangan gelap bulan sepenuhnya menutupi Matahari.
Namun, kerucut bayangan bulan - secara umum - panjangnya hanya sekitar 378.000 km, lebih kecil dari jarak rata-rata Bulan dari Bumi.
"Itulah sebabnya, ketika Bulan baru melintas langsung di antara Bumi dan Matahari, jika - secara umum - jaraknya lebih dari 378.000 km, ujung bayangan umbra yang gelap akan gagal untuk melakukan kontak dengan Bumi," ujar Joe.
"Sebagai gantinya, 'bayangan negatif' yang dikenal sebagai antumbra tercipta dan dari bayangan itulah - seperti yang akan terjadi pada tanggal 14 Oktober - pemandangan Gerhana Matahari Total atau Gerhana Cincin akan terlihat," lanjutnya.
Kepunahan Gerhana Matahari Total
Sejak Juli 1969 sampai Desember 1972, 12 astronot Apollo meninggalkan serangkaian pemantul laser di permukaan Bulan. Sejak saat itu, para astronom di Bumi secara rutin memantulkan laser dari reflektor tersebut. Dengan mengukur waktu perjalanan pulang-pergi pulsa laser tersebut, jarak Bulan dapat diukur dengan sangat akurat.
Analisis dari pengukuran ini menunjukkan bahwa jarak rata-rata bulan ke Bumi meningkat dengan laju sekitar 3,8 cm setiap tahunnya. Mengapa hal ini terjadi?
Gerak bulan sangat dipengaruhi oleh daya tarik Matahari, dan dengan cara yang lebih rendah oleh planet-planet dan Bumi. Karena pengaruh pasang surut, Bulan perlahan-lahan bergerak menjauh dari Bumi, berputar ke arah luar dan naik ke orbit yang lebih jauh.
Faktor Pergeseran Bulan
Ilustrasi. Pakar memprediksi semua gerhana Matahari akan menjadi 'cincin api' di masa depan. (Foto: ANTARA FOTO/Septianda Perdana)
"Tentu saja, ketika Bulan bergerak semakin jauh, ukurannya yang tampak akan semakin mengecil hingga akhirnya mencapai titik di mana ia akan terlalu jauh bagi kerucut bayangan umbralnya yang gelap untuk mencapai Bumi dan dengan demikian menghalangi terjadinya Gerhana Matahari Total," jelas dia.
Dalam bukunya, "More Mathematical Astronomy Morsels" (Willmann-Bell, Inc. 2002), seorang ahli perhitungan astronomi, Jean Meeus, mengatakan bahwa tingkat pergeseran Bulan dari Bumi saat ini sebesar 3,8 meter per abad akan tetap konstan. Jika benar demikian, maka dibutuhkan waktu 1,21 miliar tahun sebelum Gerhana Matahari Total menjadi mustahil.
Namun, jika memperhitungkan fakta bahwa eksentrisitas (bentuk) orbit Bumi bervariasi pada tingkat yang lebih cepat daripada peningkatan jarak bulan yang sangat lambat dan bertahap, mungkin tidak perlu menunggu selama itu.
"Akibatnya, dari 620 juta hingga 1210 juta tahun ke depan, akan ada periode di mana Gerhana Matahari Total secara bergantian menjadi mungkin dan tidak mungkin, hingga akhirnya totalitas itu tetap tidak mungkin selamanya," kata Meeus.
Gerhana Matahari Cincin Api bakal terjadi akhir pekan ini, Sabtu (14/10). Gerhana Matahari ini bisa disaksikan di Amerika utara, tengah, dan Selatan.
Berbeda dengan gerhana Matahari biasa, gerhana ini menampilkan kilauan cahaya di sekeliling Bulan yang menutupi Matahari.
Dikutip dari CNN, julukan "cincin api" berasal dari penampakan gerhana Matahari yang mirip dengan Gerhana Matahari Total, tetapi Bulan berada pada titik terjauh dalam orbitnya dari Bumi, sehingga tidak dapat sepenuhnya menghalangi Matahari.
Dengan demikian, cahaya Matahari yang berapi-api mengelilingi bayangan Bulan, menciptakan apa yang disebut cincin api.
Gerhana Matahari Total akan dimulai di Amerika Serikat pada pukul 09:13 pagi waktu setempat (sekitar 23.13 WIB) dan melintasi pantai Oregon hingga Pantai Teluk Texas. Gerhana ini juga tampak di Oregon, Nevada, Utah, New Mexico dan Texas.
Selain itu, bayangan Bulan juga akan terlihat di beberapa bagian California, Idaho, Colorado, dan Arizona. Gerhana akan berakhir di AS pada pukul 12:03 malam CT (15 Oktober 00:03 WIB).
Setelah meninggalkan AS, gerhana akan melintasi Meksiko, Belize, Honduras, Panama, dan Kolombia sebelum berakhir di pesisir Atlantik Amerika bagian Selatan di Natal, Brasil.
Sayangnya, fenomena ini tak dapat disaksikan dari Indonesia. Fenomena gerhana Matahari yang terakhir kali bisa dilihat di Indonesia pada tahun ini adalah gerhana Matahari hibrida pada April lalu.