Terancam Punah, Berapa Sisa Badak Jawa di Ujung Kulon?
CNN Indonesia
Jumat, 27 Okt 2023 08:51 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Badak Jawa yang berada di Taman Nasional Ujung Kulon terancam punah. (Foto: iStock/Tobias Nowlan)
Jakarta, CNN Indonesia --
Jalur pejalan kaki di Semenanjung Ujung Kulon, Banten, resmi ditutup untuk melindungi habitat Badak Cula Satu atau Badak Jawa. Berapa sebenarnya sisa satwa langka tersebut di alam liar?
Penutupan jalur wisata tracking itu mulai berlaku efektif pada 1 November 2023 hingga batas waktu yang tidak ditentukan.
Langkah itu dilakukan guna pemulihan ekosistem sekaligus perlindungan habitat Badak Jawa yang masuk dalam kategori critically endangered dalam daftar Red List Data Book yang dikeluarkan oleh International Union for Conservation of Nature and Natural Resources (IUCN).
Ujung Kulon menjadi satu-satunya habitat yang tersisa bagi Badak Jawa.
"Dalam perhitungan Badak Jawa, saat ini adalah jumlah terbanyak sepanjang sejarag Ujung Kulon," menurut keterangan resmi Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK), dalam hak jawabnya.
"Data statistik membuktikan jumlah badak semakin meningkat meskipun dalam perhitungan menggunakan metode yang berbeda beda sesuai dengan teknologi dan perkembangan ilmu pengetahuan yang semakin akurat."
Berdasarkan keterangan Taman Nasional Ujung Kulon, penghitungan jumlah Badak Jawa dilakukan dengan menggunakan pendekatan analisis spasial (spatially explicit capture recapture/SECR).
Dengan menggunakan kamera jebak, pihak Taman Nasional pun mengungkap angka populasi Badak Jawa yang meningkat setiap tahunnya. Berikut rinciannya:
2020
Dengan menggunakan 79 unit kamera jebak, TNUK merekam dan mengidentifikasi 34 individu Badak Jawa. Jika ditotalkan dengan data 2019, angkanya mencapai 72 individu, ditambah dengan kelahiran 2 individu sehingga jumlahnya menjadi 74 Badak Jawa.
2021
Dengan 92 unit kamera, TNUK merekam dan mengidentifikasi 61 individu. Kumulatif dari 2020 (74 individu), ditambah kelahiran lima individu dan kematian tiga individu badak, totalnya menjadi 76 Badak Jawa.
2022
Menggunakan 132 unit kamera, terekam dan teridentifikasi 41 individu Badak Jawa. Kumulatif dengan angka pada 2021 (76 individu) ditambah kelahiran empat individu, jumlah total Badak Jawa menjadi 80 ekor.
2023
TNUK mengungkap tahun ini ditemukan kelahiran satu ekor anakan Badak Jawa. Dijumlahkan dengan angka 2022 (80 individu), totalnya menjadi 81 individu Badak Jawa.
Kajian NGO
Terpisah, kajian Yayasan Auriga Nusantara terhadap populasi Badak Jawa di Taman Nasional Ujung Kulon menunjukkan 15 individu hilang dari pemantauan kamera jebak dalam beberapa tahun terakhir.
"15 Individu di antaranya masih tidak terekam setidaknya sampai tahun 2021 atau Agustus 2022," ujar Peneliti Auriga Nusantara Riszki Is Hardianto dalam konferensi pers yang diikuti dari Jakarta, Selasa.
Riszki mengatakan jumlah individu yang dirilis KLHK juga berbeda dengan temuan oleh peneliti dari Auriga Nusantara.
KLHK menyebut bahwa populasi Badak Jawa pada 2022 sekitar 75 individu, sementara berdasar penelitian Auriga jumlahnya justru lebih kecil.
Masalahna, belasan Badak Jawa yang tak terdeteksi yakni betina sebanyak tujuh ekor, sementara delapan lainnya jantan. Tak terdeteksinya individu betina sangat dikhawatirkan karena berhubungan dengan upaya konservasi penambahan populasi Badak Jawa di TNUK.
Menurut dia, 15 Badak Jawa yang tidak terdeteksi ini tidak dipublikasikan oleh otoritas terkait karena dianggap masih hidup. Anggapan tersebut berdasar karena tidak ditemukannya tanda-tanda kematian atau tulang belulang.
"Dalam empat tahun terakhir, meski rekaman kamera selalu lebih kecil dari rekaman 2018, namun Balai Taman Nasional Ujung Kulon atau Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan selalu menyampaikan angka populasi yang meningkat," kata dia.
Sementara itu, Ketua Yayasan Auriga Nusantara Timer Manurung menyebut data yang diperoleh berasal dari laporan dari berbagai pihak yang terlibat langsung dalam upaya konservasi Badak Jawa.
Ia menduga sulitnya Badak Jawa terekam kamera jebak atau hilangnya individu disebabkan masih adanya perburuan.
Yayasan Auriga menemukan adanya jerat yang mengarah ke mamalia besar serta adanya lubang pada tengkorak Badak Jawa jantan bernama Samson yang mati pada 2018 lalu.
Hewan yang Hanya Ada di Indonesia (Foto: CNNIndonesia/Asfahan Yahsyi)
Rekayasa pembiakan Badak Jawa di halaman berikutnya...
Perilaku Badak Jawa yang belum teridentifikasi detail membuat habituasi dan pengelolaan konservasinya cukup sulit. Satwa ini memiliki sifat pemalu dan sensitif. Sedikit gangguan saja dapat membuat badak ini tersinggung.
Rois Mahmud, perwakilan dari Aliansi Lestari Rimba Terpadu (ALeRT), mengatakan ada indikasi Badak Jawa cenderung melukai dirinya sendiri ketika mengalami stres.
Kondisi ini menjadi tantangan tersendiri bagi para pelaku konservasi dalam menjaga habitat dan populasi Badak Jawa.
"Analisis genetik yang dilakukan bekerjasama dengan IPB menghasilkan kesimpulan jika kepunahan populasi [Badak Jawa] bisa terancam oleh faktor depression in-breeding," kata Rois, mengutip laman resmi KSDAE.
Selain persoalan individu badak itu sendiri, keberadaan tumbuhan pakan Badak Jawa juga menjadi kendala. Keberadaan tumbuhan Langkap mengganggu pertumbuhan tumbuhan pakan badak.
Berbagai upaya telah dilakukan TN Ujung Kulon untuk membasmi tumbuhan Langkap ini, tapi masih belum menemukan solusi lantaran pertumbuhan Langkap sangat cepat.
KSDAE juga menyoroti ancaman perburuan Badak Jawa dan gangguan manusia. Polda Banten tengah memburu terduga pelaku perburuan, seiring dengan itu, Balai TN Ujung Kulon juga sudah membentuk tim gabungan untuk melakukan patroli dan penjagaan.
Tim ini dibentuk tidak hanya untuk mencegah perburuan, tapi juga bertugas mencegah aktivitas manusia di wilayah konservasi yang berpotensi mengganggu habitat Badak Jawa.
Dirjen KSDAE Satyawan Pudyatmoko mengatakan salah satu cara untuk melindungi populasi Badak Jawa dapat menggunakan cara Sumatran Rhino Sanctuary (SRS). Menurut Satyawan cara ini berhasil dalam konservasi Badak Sumatera.
Menurutnya keberhasilan SRS ini dapat menjadi contoh bagi konservasi Badak Jawa dan diharapkan bisa mencapai keberhasilan yang sama, bahkan lebih.
"Artificial breeding yang berhasil dilakukan pada Badak Sumatera, perlu diaplikasikan untuk Badak Jawa, dibandingkan dengan strategi secondary habitat. Populasi dan habitat harus sama-sama diperhatikan intervensinya, namun manakah yang lebih penting porsinya," jelas Satyawan.
Di sisi lain, TN Ujung Kulon juga sudah memiliki Javan Rhino Study and Conservation Area (JRSCA), sebuah program bloking untuk perlindungan badak agar tidak keluar dari habitatnya.
Kendati demikian, masih ada beberapa bagian JRSCA yang harus disesuaikan dengan perilaku Badak Jawa yang sangat sensitif ini. Misalnya, paddock yang harus jauh dari lingkungan masyarakat dan akses menuju paddock yang perlu diperbaiki lagi.
Jakarta, CNN Indonesia --
Jalur pejalan kaki di Semenanjung Ujung Kulon, Banten, resmi ditutup untuk melindungi habitat Badak Cula Satu atau Badak Jawa. Berapa sebenarnya sisa satwa langka tersebut di alam liar?
Penutupan jalur wisata tracking itu mulai berlaku efektif pada 1 November 2023 hingga batas waktu yang tidak ditentukan.
Langkah itu dilakukan guna pemulihan ekosistem sekaligus perlindungan habitat Badak Jawa yang masuk dalam kategori critically endangered dalam daftar Red List Data Book yang dikeluarkan oleh International Union for Conservation of Nature and Natural Resources (IUCN).
Ujung Kulon menjadi satu-satunya habitat yang tersisa bagi Badak Jawa.
"Dalam perhitungan Badak Jawa, saat ini adalah jumlah terbanyak sepanjang sejarag Ujung Kulon," menurut keterangan resmi Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK), dalam hak jawabnya.
"Data statistik membuktikan jumlah badak semakin meningkat meskipun dalam perhitungan menggunakan metode yang berbeda beda sesuai dengan teknologi dan perkembangan ilmu pengetahuan yang semakin akurat."
Berdasarkan keterangan Taman Nasional Ujung Kulon, penghitungan jumlah Badak Jawa dilakukan dengan menggunakan pendekatan analisis spasial (spatially explicit capture recapture/SECR).
Dengan menggunakan kamera jebak, pihak Taman Nasional pun mengungkap angka populasi Badak Jawa yang meningkat setiap tahunnya. Berikut rinciannya:
2020
Dengan menggunakan 79 unit kamera jebak, TNUK merekam dan mengidentifikasi 34 individu Badak Jawa. Jika ditotalkan dengan data 2019, angkanya mencapai 72 individu, ditambah dengan kelahiran 2 individu sehingga jumlahnya menjadi 74 Badak Jawa.
2021
Dengan 92 unit kamera, TNUK merekam dan mengidentifikasi 61 individu. Kumulatif dari 2020 (74 individu), ditambah kelahiran lima individu dan kematian tiga individu badak, totalnya menjadi 76 Badak Jawa.
2022
Menggunakan 132 unit kamera, terekam dan teridentifikasi 41 individu Badak Jawa. Kumulatif dengan angka pada 2021 (76 individu) ditambah kelahiran empat individu, jumlah total Badak Jawa menjadi 80 ekor.
2023
TNUK mengungkap tahun ini ditemukan kelahiran satu ekor anakan Badak Jawa. Dijumlahkan dengan angka 2022 (80 individu), totalnya menjadi 81 individu Badak Jawa.
Kajian NGO
Terpisah, kajian Yayasan Auriga Nusantara terhadap populasi Badak Jawa di Taman Nasional Ujung Kulon menunjukkan 15 individu hilang dari pemantauan kamera jebak dalam beberapa tahun terakhir.
"15 Individu di antaranya masih tidak terekam setidaknya sampai tahun 2021 atau Agustus 2022," ujar Peneliti Auriga Nusantara Riszki Is Hardianto dalam konferensi pers yang diikuti dari Jakarta, Selasa.
Riszki mengatakan jumlah individu yang dirilis KLHK juga berbeda dengan temuan oleh peneliti dari Auriga Nusantara.
KLHK menyebut bahwa populasi Badak Jawa pada 2022 sekitar 75 individu, sementara berdasar penelitian Auriga jumlahnya justru lebih kecil.
Masalahna, belasan Badak Jawa yang tak terdeteksi yakni betina sebanyak tujuh ekor, sementara delapan lainnya jantan. Tak terdeteksinya individu betina sangat dikhawatirkan karena berhubungan dengan upaya konservasi penambahan populasi Badak Jawa di TNUK.
Menurut dia, 15 Badak Jawa yang tidak terdeteksi ini tidak dipublikasikan oleh otoritas terkait karena dianggap masih hidup. Anggapan tersebut berdasar karena tidak ditemukannya tanda-tanda kematian atau tulang belulang.
"Dalam empat tahun terakhir, meski rekaman kamera selalu lebih kecil dari rekaman 2018, namun Balai Taman Nasional Ujung Kulon atau Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan selalu menyampaikan angka populasi yang meningkat," kata dia.
Sementara itu, Ketua Yayasan Auriga Nusantara Timer Manurung menyebut data yang diperoleh berasal dari laporan dari berbagai pihak yang terlibat langsung dalam upaya konservasi Badak Jawa.
Ia menduga sulitnya Badak Jawa terekam kamera jebak atau hilangnya individu disebabkan masih adanya perburuan.
Yayasan Auriga menemukan adanya jerat yang mengarah ke mamalia besar serta adanya lubang pada tengkorak Badak Jawa jantan bernama Samson yang mati pada 2018 lalu.
Hewan yang Hanya Ada di Indonesia (Foto: CNNIndonesia/Asfahan Yahsyi)
Rekayasa pembiakan Badak Jawa di halaman berikutnya...
Sensitif Hingga Rekayasa Pembiakan
Badak Jawa yang berada di Taman Nasional Ujung Kulon terancam punah. (Foto: Tim RMU)
Perilaku Badak Jawa yang belum teridentifikasi detail membuat habituasi dan pengelolaan konservasinya cukup sulit. Satwa ini memiliki sifat pemalu dan sensitif. Sedikit gangguan saja dapat membuat badak ini tersinggung.
Rois Mahmud, perwakilan dari Aliansi Lestari Rimba Terpadu (ALeRT), mengatakan ada indikasi Badak Jawa cenderung melukai dirinya sendiri ketika mengalami stres.
Kondisi ini menjadi tantangan tersendiri bagi para pelaku konservasi dalam menjaga habitat dan populasi Badak Jawa.
"Analisis genetik yang dilakukan bekerjasama dengan IPB menghasilkan kesimpulan jika kepunahan populasi [Badak Jawa] bisa terancam oleh faktor depression in-breeding," kata Rois, mengutip laman resmi KSDAE.
Selain persoalan individu badak itu sendiri, keberadaan tumbuhan pakan Badak Jawa juga menjadi kendala. Keberadaan tumbuhan Langkap mengganggu pertumbuhan tumbuhan pakan badak.
Berbagai upaya telah dilakukan TN Ujung Kulon untuk membasmi tumbuhan Langkap ini, tapi masih belum menemukan solusi lantaran pertumbuhan Langkap sangat cepat.
KSDAE juga menyoroti ancaman perburuan Badak Jawa dan gangguan manusia. Polda Banten tengah memburu terduga pelaku perburuan, seiring dengan itu, Balai TN Ujung Kulon juga sudah membentuk tim gabungan untuk melakukan patroli dan penjagaan.
Tim ini dibentuk tidak hanya untuk mencegah perburuan, tapi juga bertugas mencegah aktivitas manusia di wilayah konservasi yang berpotensi mengganggu habitat Badak Jawa.
Dirjen KSDAE Satyawan Pudyatmoko mengatakan salah satu cara untuk melindungi populasi Badak Jawa dapat menggunakan cara Sumatran Rhino Sanctuary (SRS). Menurut Satyawan cara ini berhasil dalam konservasi Badak Sumatera.
Menurutnya keberhasilan SRS ini dapat menjadi contoh bagi konservasi Badak Jawa dan diharapkan bisa mencapai keberhasilan yang sama, bahkan lebih.
"Artificial breeding yang berhasil dilakukan pada Badak Sumatera, perlu diaplikasikan untuk Badak Jawa, dibandingkan dengan strategi secondary habitat. Populasi dan habitat harus sama-sama diperhatikan intervensinya, namun manakah yang lebih penting porsinya," jelas Satyawan.
Di sisi lain, TN Ujung Kulon juga sudah memiliki Javan Rhino Study and Conservation Area (JRSCA), sebuah program bloking untuk perlindungan badak agar tidak keluar dari habitatnya.
Kendati demikian, masih ada beberapa bagian JRSCA yang harus disesuaikan dengan perilaku Badak Jawa yang sangat sensitif ini. Misalnya, paddock yang harus jauh dari lingkungan masyarakat dan akses menuju paddock yang perlu diperbaiki lagi.