Jakarta, CNN Indonesia -- Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) COP28 resmi berakhir setelah sepakat mengurangi penggunaan bahan bakar fosil untuk mencegah dampak perubahan iklim.
Perwakilan dari hampir 200 negara akhirnya menyepakati keputusan tersebut. Keputusan diambil setelah proses perundingan yang alot selama dua minggu pergelaran COP28 yang digelar di Dubai, Uni Emirat Arab.
"Kita adalah apa yang kita lakukan, bukan apa yang kita katakan. Kita harus mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk mengubah perjanjian ini menjadi tindakan nyata," kata Presiden COP28 Sultan Al Jaber, mengutip Reuters, Rabu (13/12).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selama dua pekan terakhir, negara-negara di dunia merundingkan masa depan Bumi di COP28. Pengalihan bahan bakar fosil ke energi terbarukan bukan satu-satunya kesepakatan dalam konferensi iklim itu. Berikut lima poin penting dari kesepakatan iklim COP28 di Dubai, melansir AFP:
Pengalihan bahan bakar fosil
Bahan bakar fosil menyebabkan sekitar tiga perempat dari semua emisi yang disebabkan oleh manusia.
Namun, kesadaran perlunya berhenti menggunakan bahan bakar fosil merupakan hal yang "belum pernah terjadi sebelumnya" dalam pembicaraan iklim PBB, kata David Waskow dari World Resources Institute.
COP28 menyerukan "transisi dari bahan bakar fosil dalam sistem energi, dengan cara yang adil, teratur dan merata, mempercepat tindakan dalam dekade kritis ini, untuk mencapai nol bersih pada tahun 2050 sesuai dengan ilmu pengetahuan".
Para pengamat mengatakan hal positif lainnya adalah referensi terhadap "dekade ini" - sebuah kerangka waktu yang sangat penting mengingat bahwa panel ilmu iklim IPCC PBB mengatakan bahwa emisi harus dipangkas hampir setengahnya pada tahun 2030 untuk menjaga agar 1,5C tetap berada dalam jangkauan.
COP28 mempertahankan rumusan konferensi iklim Glasgow dua tahun lalu, ketika para negosiator setuju untuk "mengurangi secara bertahap" penggunaan batu bara yang tidak berkelanjutan - yang berarti tanpa teknologi untuk menangkap emisi.
Energi terbarukan
Maklumat Dubai menyerukan: "Meningkatkan kapasitas energi terbarukan tiga kali lipat secara global dan menggandakan tingkat rata-rata tahunan peningkatan efisiensi energi secara global pada tahun 2030".
Badan Energi Internasional telah memperkirakan permintaan dunia akan minyak, gas dan batu bara akan mencapai puncaknya pada dekade ini imbas pertumbuhan teknologi energi yang lebih bersih, seperti angin, tenaga surya dan baterai, serta kendaraan listrik.
Pada bulan September, G20 - yang menyumbang sekitar 80 persen emisi gas rumah kaca global - membuat terobosan baru dalam mendukung tujuan energi terbarukan.
"Untuk pertama kalinya, dunia mengakui skala ambisi yang diperlukan dalam dekade ini untuk membangun sistem energi bersih yang baru: tiga kali lipat energi terbarukan dan dua kali lipat peningkatan efisiensi," ujar Jones.
Teks tersebut juga memberikan dorongan bagi kendaraan listrik, dengan menyerukan kepada negara-negara untuk bergerak lebih cepat dalam mengurangi emisi dari kendaraan.
Masih ada celah
Namun demikian para pakar masih prihatin bahwa seruan untuk beralih dari bahan bakar fosil hanya dalam sektor energi, dan tidak menyebutkan plastik dan pupuk yang menyebabkan polusi.
Maklumat tersebut juga mengatakan bahwa "bahan bakar transisi dapat memainkan peran" dalam peralihan menuju energi bersih - sebuah referensi untuk gas.
 Foto: CNNIndonesia Rekor-rekor ‘Neraka Bocor’ di 2023 |
Dana kerugian dan kerusakan di halaman berikutnya...
Dana Kerugian dan Kerusakan
Ilustrasi. COP28 resmi berakhir setelah sepakat mengurangi penggunaan bahan bakar fosil untuk mencegah dampak perubahan iklim. (Foto: AP/Rafiq Maqbool)
Hal ini juga mencakup "teknologi pembuangan", terutama di sektor-sektor di mana dekarbonisasi sangat menantang, seperti produksi semen.
Teknologi seperti penangkapan, pemanfaatan, dan penyimpanan karbon (CCUS) - di mana emisi ditangkap pada sumbernya dari pembangkit listrik atau pabrik dan disuntikkan ke dalam reservoir geologis atau digunakan kembali - telah digembar-gemborkan oleh para produsen hidrokarbon.
Namun, para ahli mengatakan bahwa CCUS hanya akan memainkan peran kecil dalam dekarbonisasi selama dekade ini.
Friederike Roder, wakil presiden kebijakan dan advokasi di Global Citizen, mengatakan bahwa penangkapan karbon dan bahan bakar transisi adalah "gangguan dan celah".
Dana kerugian dan kerusakan
COP28 mencatat "kesenjangan yang semakin besar" - diperkirakan mencapai hampir US$7,5 triliun hingga tahun 2030 - antara kebutuhan negara-negara berkembang yang menghadapi dampak iklim yang semakin meningkat dan utang yang semakin menumpuk, dan bantuan yang diberikan kepada mereka untuk mencapai target iklim.
Namun para pengamat mencatat kurangnya rincian, membuat keuangan menjadi isu utama pada tahun 2024, baik dalam pembicaraan COP29 yang akan diadakan tahun depan di Azerbaijan, maupun di area lain seperti Bank Dunia dan Dana Moneter Internasional.
"Penghapusan bahan bakar fosil hanya akan dapat dilakukan dengan paket pembiayaan yang tepat bagi negara-negara miskin dan rentan," kata Roder.
Ia memuji maklumat keputusan yang merujuk pada perpajakan sebagai salah satu sumber pendanaan iklim yang potensial.
COP28 juga meluncurkan dana "kerugian dan kerusakan" yang penting untuk membantu negara-negara mengatasi bencana iklim, dengan total dana terkumpul hingga $792 juta sampai hari Rabu.
Namun, pendanaan adaptasi untuk membantu negara-negara membangun ketahanan mereka terhadap dampak di masa depan telah gagal dalam beberapa tahun terakhir dan Roder mengatakan bahwa pengulangan janji COP28 untuk melipatgandakan pengeluaran adaptasi sama saja dengan "tidak ada kemajuan".
[Gambas:Photo CNN]
Perlindungan alam
COP28 menekankan pentingnya perlindungan alam yang sejalan dengan pencapaian tujuan Paris dan secara khusus merujuk pada peran "menghentikan dan membalikkan deforestasi dan degradasi hutan pada tahun 2030".
International Union for Conservation of Nature menyambut baik "pengakuan yang kuat atas kontribusi alam" dalam kesepakatan COP28.