Bahaya Bakar Briket Arang di Ruang Tertutup seperti Kasus Lee Sun-Kyun
CNN Indonesia
Kamis, 28 Des 2023 10:10 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Ilustrasi. Arang menyimpan potensi bahaya jika dibakar di ruang tertutup. (ANTARA FOTO/Andreas Fitri Atmoko)
Jakarta, CNN Indonesia --
Briket arang (charcoal briquettes) terdeteksi amat berbahaya jika dibakar di ruang tertutup lantaran bisa menyebabkan keracunan karbon monoksida (CO), zat yang merusak pernafasan sel.
Salah satu jenis arang ini menjadi populer usai kematian aktor Korsel Lee Sun-kyun (48), Rabu (27/12). Ia diduga bunuh diri usai menghirup asap dari briket arang yang dibakar di dalam mobil tempatnya ditemukan meninggal di Seoul.
Briket bisa terbuat dari berbagai macam jenis berdasarkan bahannya, mulai dari briket batu bara (coal briquettes), briket arang (charcoal briquettes), hingga briket dari tanah gambut (peat briquettes).
Salah satu yang lazim dipakai di Indonesia adalah briket arang yang terbuat dari tempurung kelapa.
Menurut Inaexport, platform direktori B2B dari Direktorat Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Kementerian Perdagangan, salah satu fungsi utama briket jenis ini adalah untuk pembakar sisha atau hookah.
Selain itu, masyarakat juga menggunakan arang kualitas yang lebih rendah untuk keperluan barbekyu.
Keunggulannya, pertama, briket arang kelapa mempunyai titik bakar yang relatif lebih tinggi dan waktu pembakaran yang lebih lama dibandingkan dengan jenis arang lainnya. Selain itu, menghasilkan lebih sedikit asap.
Dalam sejumlah penggunaan briket, kasus keracunan CO terdeteksi terjadi secara tidak disengaja, terutama akibat faktor ketidaktahuan soal bahaya polusi udara terhadap pernafasan di ruang tertutup.
Chris Winder, Profesor Kesehatan, Keselamatan Kerja, dan Manajemen Lingkungan dari Australian Catholic University, mengungkap kasus kematian seorang pria 42 tahun dan rekannya saat memasak barbekyu dengan menggunakan briket arang di sebuah apartemen kecil di Sydney, Juli 2009.
Usai beres barbekyu-an, wadah berisi arang yang masih menyala dimasukkan ke dalam apartemen sebagai sumber panas. Masalahnya, apartemen yang ada di bawah jalur penerbangan bandara ini punya isolasi kebisingan yang menghambat sirkulasi udara alias berventilasi buruk.
Satu setengah hari kemudian, pria tersebut ditemukan meninggal, sementara rekannya kritis.
Hasil otopsi menyebut pria tersebut menghirup karbon monoksida secara tidak sengaja dalam jumlah yang cukup untuk menyebabkan kematian, dengan konsentrasi CO dalam darahnya mencapai 61 persen.
Warna pucat pasca-kematian menunjukkan korban mungkin meninggal beberapa jam setelah briket yang terbakar ditempatkan di dalam apartemen.
"Kemungkinan penyebab kematian pria tersebut adalah penyakit jantung koroner yang signifikan namun tidak terdiagnosis, penyakit arteri, yang kemungkinan membuat seseorang lebih rentan terhadap toksisitas CO," tutur Winder di Medical Journal of Australia.
Rekannya yang pingsan disebut "menghirup CO dalam jumlah yang cukup hingga menyebabkan hilangnya kesadaran." Pemulihan korban, di antaranya, mencakup beberapa gejala sisa hipoksia atau kekurangan oksigen dalam jaringan tubuh.
Kadar mematikan CO di halaman berikutnya...
Kenapa CO dari briket berbahaya?
Winder menjelaskan CO merupakan gas yang tidak berwarna, tidak berbau, dan tidak menyebabkan iritasi dan "tidak memiliki sifat peringatan."
Sumber CO berhubungan dengan pembakaran tidak sempurna bahan-bahan yang mengandung karbon dalam kondisi pasokan oksigen yang terbatas.
Contohnya, tungku yang rusak, pemanas yang tidak disalurkan, kompresor, tungku pembakaran kayu, knalpot kendaraan bermotor, tukang las, peralatan berbahan bakar bensin atau solar, dan kebakaran gedung.
Ia menjelaskan CO ini punya kemampuan memicu keracunan atau toksisitas. Bentuknya, sesak napas dengan cara menghambat pengikatan oksigen ke hemoglobin (sel darah merah).
Ngerinya CO, kata Winder, adalah mempunyai afinitas atau kecenderungan membentuk ikatan dengan oksigen hemoglobin lebih dari 200 kali lipat dibandingkan oksigen.
"CO juga meningkatkan konsentrasi hem (pendarahan) sel, yang mengganggu respirasi sel, dan menyebabkan stres oksidatif dan peradangan melalui berbagai jalur," urai Winder.
Untuk paparan ringan dan jangka pendek, atau di bawah sekitar 500 bagian per juta (ppm), gejala keracunan CO dapat berupa sakit kepala, pusing, mual, gangguan fungsi psikomotorik (dan juga beberapa fungsi perilaku abnormal).
Di samping itu, gejalanya bisa berupa kehilangan keseimbangan, kelelahan, dan masalah pernapasan.
"Ketika konsentrasi meningkat, gejala-gejala ini semakin parah."
Untuk mencapai level mematikan, Winder menyebut konsentrasi CO masih relatif rendah. Kematian terjadi setelah sekitar 2 jam pada kadar CO 1.500 ppm.
Di samping itu, level CO mematikan juga "dapat terjadi setelah paparan yang lebih singkat pada konsentrasi yang lebih tinggi (misalnya, dalam waktu 30 menit pada 3000-6000 ppm)."
Dalam studi Jin-Jia Lin dkk dari Department of Psychiatry, School of Medicine, College of Medicine, Taipei Medical University, Taiwan, 2010, penggunaan arang pernah masuk salah satu metode bunuh diri tertinggi di Taiwan.
Bunuh diri dengan cara ini "menjadi epidemi di Hong Kong, Taiwan dan Jepang." Di Taiwan, hanya 32 orang yang melakukan bunuh diri dengan cara membakar arang pada 1998. Namun jumlahnya meningkat menjadi 1.346 pada 2005.
Metode populer lainnya adalah gantung diri, keracunan pestisida, dan melompat dari ketinggian.
Peneliti menyebut pembakaran arang merupakan metode yang paling sering digunakan kelompok usia 15-44 tahun dan sebagian besar terjadi di wilayah perkotaan. Sementara, metode lainnya banyak digunakan di usia yang lebih tua.
"Hal ini terutama disebabkan oleh perubahan penerimaan sosio-kultural terhadap penggunaan pembakaran arang sebagai metode bunuh diri oleh kelompok usia yang lebih muda," simpul para peneliti.
Briket arang (charcoal briquettes) terdeteksi amat berbahaya jika dibakar di ruang tertutup lantaran bisa menyebabkan keracunan karbon monoksida (CO), zat yang merusak pernafasan sel.
Salah satu jenis arang ini menjadi populer usai kematian aktor Korsel Lee Sun-kyun (48), Rabu (27/12). Ia diduga bunuh diri usai menghirup asap dari briket arang yang dibakar di dalam mobil tempatnya ditemukan meninggal di Seoul.
Briket bisa terbuat dari berbagai macam jenis berdasarkan bahannya, mulai dari briket batu bara (coal briquettes), briket arang (charcoal briquettes), hingga briket dari tanah gambut (peat briquettes).
Salah satu yang lazim dipakai di Indonesia adalah briket arang yang terbuat dari tempurung kelapa.
Menurut Inaexport, platform direktori B2B dari Direktorat Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Kementerian Perdagangan, salah satu fungsi utama briket jenis ini adalah untuk pembakar sisha atau hookah.
Selain itu, masyarakat juga menggunakan arang kualitas yang lebih rendah untuk keperluan barbekyu.
Keunggulannya, pertama, briket arang kelapa mempunyai titik bakar yang relatif lebih tinggi dan waktu pembakaran yang lebih lama dibandingkan dengan jenis arang lainnya. Selain itu, menghasilkan lebih sedikit asap.
Dalam sejumlah penggunaan briket, kasus keracunan CO terdeteksi terjadi secara tidak disengaja, terutama akibat faktor ketidaktahuan soal bahaya polusi udara terhadap pernafasan di ruang tertutup.
Chris Winder, Profesor Kesehatan, Keselamatan Kerja, dan Manajemen Lingkungan dari Australian Catholic University, mengungkap kasus kematian seorang pria 42 tahun dan rekannya saat memasak barbekyu dengan menggunakan briket arang di sebuah apartemen kecil di Sydney, Juli 2009.
Usai beres barbekyu-an, wadah berisi arang yang masih menyala dimasukkan ke dalam apartemen sebagai sumber panas. Masalahnya, apartemen yang ada di bawah jalur penerbangan bandara ini punya isolasi kebisingan yang menghambat sirkulasi udara alias berventilasi buruk.
Satu setengah hari kemudian, pria tersebut ditemukan meninggal, sementara rekannya kritis.
Hasil otopsi menyebut pria tersebut menghirup karbon monoksida secara tidak sengaja dalam jumlah yang cukup untuk menyebabkan kematian, dengan konsentrasi CO dalam darahnya mencapai 61 persen.
Warna pucat pasca-kematian menunjukkan korban mungkin meninggal beberapa jam setelah briket yang terbakar ditempatkan di dalam apartemen.
"Kemungkinan penyebab kematian pria tersebut adalah penyakit jantung koroner yang signifikan namun tidak terdiagnosis, penyakit arteri, yang kemungkinan membuat seseorang lebih rentan terhadap toksisitas CO," tutur Winder di Medical Journal of Australia.
Rekannya yang pingsan disebut "menghirup CO dalam jumlah yang cukup hingga menyebabkan hilangnya kesadaran." Pemulihan korban, di antaranya, mencakup beberapa gejala sisa hipoksia atau kekurangan oksigen dalam jaringan tubuh.
Kadar mematikan CO di halaman berikutnya...
Sumber CO dan Tingkatannya
Ilustrasi. Gejala keracunan karbon monoksida bermula dari pernafasan. (iStock/patrickheagney)
Kenapa CO dari briket berbahaya?
Winder menjelaskan CO merupakan gas yang tidak berwarna, tidak berbau, dan tidak menyebabkan iritasi dan "tidak memiliki sifat peringatan."
Sumber CO berhubungan dengan pembakaran tidak sempurna bahan-bahan yang mengandung karbon dalam kondisi pasokan oksigen yang terbatas.
Contohnya, tungku yang rusak, pemanas yang tidak disalurkan, kompresor, tungku pembakaran kayu, knalpot kendaraan bermotor, tukang las, peralatan berbahan bakar bensin atau solar, dan kebakaran gedung.
Ia menjelaskan CO ini punya kemampuan memicu keracunan atau toksisitas. Bentuknya, sesak napas dengan cara menghambat pengikatan oksigen ke hemoglobin (sel darah merah).
Ngerinya CO, kata Winder, adalah mempunyai afinitas atau kecenderungan membentuk ikatan dengan oksigen hemoglobin lebih dari 200 kali lipat dibandingkan oksigen.
"CO juga meningkatkan konsentrasi hem (pendarahan) sel, yang mengganggu respirasi sel, dan menyebabkan stres oksidatif dan peradangan melalui berbagai jalur," urai Winder.
Untuk paparan ringan dan jangka pendek, atau di bawah sekitar 500 bagian per juta (ppm), gejala keracunan CO dapat berupa sakit kepala, pusing, mual, gangguan fungsi psikomotorik (dan juga beberapa fungsi perilaku abnormal).
Di samping itu, gejalanya bisa berupa kehilangan keseimbangan, kelelahan, dan masalah pernapasan.
"Ketika konsentrasi meningkat, gejala-gejala ini semakin parah."
Untuk mencapai level mematikan, Winder menyebut konsentrasi CO masih relatif rendah. Kematian terjadi setelah sekitar 2 jam pada kadar CO 1.500 ppm.
Di samping itu, level CO mematikan juga "dapat terjadi setelah paparan yang lebih singkat pada konsentrasi yang lebih tinggi (misalnya, dalam waktu 30 menit pada 3000-6000 ppm)."
Dalam studi Jin-Jia Lin dkk dari Department of Psychiatry, School of Medicine, College of Medicine, Taipei Medical University, Taiwan, 2010, penggunaan arang pernah masuk salah satu metode bunuh diri tertinggi di Taiwan.
Bunuh diri dengan cara ini "menjadi epidemi di Hong Kong, Taiwan dan Jepang." Di Taiwan, hanya 32 orang yang melakukan bunuh diri dengan cara membakar arang pada 1998. Namun jumlahnya meningkat menjadi 1.346 pada 2005.
Metode populer lainnya adalah gantung diri, keracunan pestisida, dan melompat dari ketinggian.
Peneliti menyebut pembakaran arang merupakan metode yang paling sering digunakan kelompok usia 15-44 tahun dan sebagian besar terjadi di wilayah perkotaan. Sementara, metode lainnya banyak digunakan di usia yang lebih tua.
"Hal ini terutama disebabkan oleh perubahan penerimaan sosio-kultural terhadap penggunaan pembakaran arang sebagai metode bunuh diri oleh kelompok usia yang lebih muda," simpul para peneliti.