Gempa Bawean Hingga NTT, Bisakah Satu Lindu Picu Gempa di Tempat Lain?
tim | CNN Indonesia
Senin, 25 Mar 2024 08:46 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Ilustrasi. Rentetan gempa mengguncang sejumlah wilayah Indonesia selama akhir pekan kemarin. (Foto: Istockphoto/Kickers)
Jakarta, CNN Indonesia --
Rentetan gempa mengguncang sejumlah wilayah Indonesia selama akhir pekan kemarin. Apakah gempa-gempa tersebut saling berkaitan?
Gempa besar pertama terjadi pada Jumat (22/3) di utara perairan Tuban dan sekitar Pulau Bawean, Jawa Timur. Gempa pertama terjadi pada Jumat siang berkekuatan magnitudo 5,9.
Kemudian, gempa kedua terjadi pada pukul 15.52 WIB dengan kekuatan M6,5. Menurut catatan BMKG, total ada 149 gempa yang terjadi di sekitar Pulau Bawean sampai dengan Sabtu (23/3) pagi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selanjutnya, BMKG juga mencatat gempa berkekuatan M7,5 juga mengguncang Keerom, Papua, pada Minggu (24/3) dini hari.
Pusat gempa berada di laut pada kedalaman 81 km. Lokasi gempa berada di koordinat 3,97 Lintang Selatan dan 143,63 Bujur Timur, 327 km tetangga Keerom.
Terakhir, pada Minggu (24/3) pagi, gempa berkekuatan M6,1 juga mengguncang Pulau Ende, Nusa Tenggara Timur.
Gempa terjadi di 104 kilometer tenggara Pulau Ende NTT. Lokasi koordinasi 9,64 Lintang Selatan dan 122,16 Bujur Timur, serta di kedalaman 47 kilometer.
Rentetan gempa besar tersebut tentu menjadi pertanyaan, bisakah satu lindu memicu gempa di tempat lain?
Lembaga Peninjau Geologi AS (United States Geological Survey/USGS) mengungkap gempa bumi di suatu wilayah bisa memicu lindu di daerah lainnya dengan syarat kekuatan besar dan mekanisme geser khusus.
"Bisakah gempa besar memicu gempa di lokasi yang jauh atau di sesar lain? Kadang-kadang,"jelas USGS dalam keterangannya.
"Gempa bumi, terutama yang berukuran besar, dapat memicu gempa bumi lain di lokasi yang lebih jauh melalui proses yang disebut dengan perpindahan/pemicuan tegangan dinamis," lanjut lembaga tersebut.
Menurut USGS, efek domino gempa ini juga berbeda dengan gempa susulan.
"Jika gempa yang dipicu berada dalam jarak sekitar 2-3 panjang sesar dari patahan sesar yang terkait dengan gempa utama, maka gempa tersebut dianggap sebagai gempa susulan, bukan peristiwa yang terpicu [gempa lain]," jelasnya.
Panjang patahan atau sesar berhubungan dengan besarnya kekuatan gempa. Yakni, gempa Magnitudo 4 berasal dari patahan dengan panjang kira-kira 1 km; lindu M 7 datang dari sesar dengan panjang 40-60 km.
Sementara, gempa dengan Magnitudo di atas 9, seperti lindu M 9,1 di Sumatera, berasal dari sesar yang panjangnya kira-kira 100 km.
Para ahli membuktikan gempa yang memicu gempa di lokasi lain ini dalam kasus gempa berkekuatan 8,6 skala Richter, 11 April 2012, yang berpusat di Samudera Hindia di lepas pantai Sumatera.
Dalam sebuah studi bertajuk "The 11 April 2012 east Indian Ocean earthquake triggered large aftershocks worldwide" di jurnal Nature, para ahli USGS dan University of California, Berkeley, AS, mengungkap potensi gempa imbas efek domino.
"Sampai saat ini, kami para ahli seismologi selalu berkata, 'Jangan khawatir gempa bumi jarak jauh akan memicu gempa lokal'," kata Roland Burgmann, profesor ilmu bumi dan planet di UC Berkeley dan salah satu penulis studi tersebut.
"Studi ini menunjukkan bahwa, meski sangat jarang terjadi, [gempa efek domino] mungkin hanya terjadi setiap beberapa dekade, gempa bumi ini mungkin terjadi jika terjadi gempa yang tepat," lanjut dia.
Waspada Sesar-sesar Aktif di RI Potensi Picu Gempa (Foto: CNNIndonesia/Basith Subastian)
Syarat lindu di halaman berikutnya...
USGS menyebut gempa 2012 ini memang hanya menimbulkan sedikit kerusakan. Namun, efeknya memicu gempa di seluruh dunia setidaknya selama seminggu.
Lindu terbesar kesepuluh dalam 100 tahun terakhir itu memicu gempa kecil selama tiga jam yang dibutuhkan gelombang seismik untuk merambat melalui kerak Bumi.
Studi 2012 itu juga menunjukkan beberapa patahan memang tidak cukup terguncang oleh gelombang gempa hingga langsung runtuh, tapi efeknya membuat sesar-sesar itu pecah hingga enam hari kemudian.
Temuan ini merupakan peringatan bagi mereka yang tinggal di wilayah yang aktif secara seismik di seluruh dunia. Studi ini mengungkap efek gempa bumi besar dapat bertahan, bahkan di belahan dunia yang berlawanan, selama lebih dari beberapa jam.
Namun, para penulis studi menyebut besarnya kekuatan gempa saja tidak cukup memicu guncangan di wilayah lain. Mekanisme gempa juga memiliki pengaruh besar.
Hal itu berdasarkan penelitian terhadap gempa bumi yang lebih besar dari M 8,5, seperti lindu M 9,1 di Sumatra pada 2004 yang memicu tsunami dan menghancurkan area seluas kira-kira 1300 x 200 km persegi, gempa 9,0 di Tohoku yang menewaskan ribuan orang di Jepang 2011.
Para ahli melihat peningkatan yang sangat kecil dalam aktivitas gempa bumi global setelah gempa tersebut.
Burgmann dkk. mengatakan hal itu terkait dengan mekanisme geser (strike-slip) seperti yang terjadi pada gempa di Samudera Hindia timur, 2012.
Mekanisme strike-slip ini, kata ahli, lebih efektif menghasilkan gelombang, yang disebut gelombang Cinta (Love waves), yang bergerak tepat di bawah permukaan dan cukup energik untuk mempengaruhi zona patahan yang jauh.
Sementara, gempa Aceh 2004 yang merenggut lebih dari 200 ribu nyawa itu gempa di zona subduksi, dengan dasar laut tenggelam di bawah lempeng tektonik lainnya.
Analisis seismolog mendeteksi beberapa lindu dengan jumlah lima kali lebih besar dari perkiraan selama enam hari setelah gempa Sumatra April 2012 dan gempa susulannya.
Fred F. Pollitz, penulis studi lainnya dari USGS, menduga itu akibat setidaknya dua faktor.
Yakni, kejadian gempa yang sangat rendah selama 6-12 hari sebelum gempa utama, dan banyaknya patahan nyaris runtuh yang sensitif terhadap gelombang kejut.
Sementara, Burgmann membuka kemungkinan soal serangkaian gempa yang lebih kecil yang tidak terdeteksi pada patahan tersebut yang kemudian menyebabkan patahan yang lebih besar.
Alternatifnya, gempa besar dapat memicu getaran yang hampir tidak terdeteksi atau gempa mikro yang merupakan tanda adanya pergerakan lambat di bawah tanah.
"Salah satu kemungkinannya adalah gempa tersebut segera memicu pergerakan lambat di beberapa tempat, mungkin disertai dengan getaran yang terdeteksi, dan kemudian berkembang menjadi gempa yang lebih besar," Burgmann berspekulasi.
"Beberapa peristiwa slow slip membutuhkan waktu berhari-hari hingga seminggu atau lebih untuk berkembang," tandasnya.
Rentetan gempa mengguncang sejumlah wilayah Indonesia selama akhir pekan kemarin. Apakah gempa-gempa tersebut saling berkaitan?
Gempa besar pertama terjadi pada Jumat (22/3) di utara perairan Tuban dan sekitar Pulau Bawean, Jawa Timur. Gempa pertama terjadi pada Jumat siang berkekuatan magnitudo 5,9.
Kemudian, gempa kedua terjadi pada pukul 15.52 WIB dengan kekuatan M6,5. Menurut catatan BMKG, total ada 149 gempa yang terjadi di sekitar Pulau Bawean sampai dengan Sabtu (23/3) pagi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selanjutnya, BMKG juga mencatat gempa berkekuatan M7,5 juga mengguncang Keerom, Papua, pada Minggu (24/3) dini hari.
Pusat gempa berada di laut pada kedalaman 81 km. Lokasi gempa berada di koordinat 3,97 Lintang Selatan dan 143,63 Bujur Timur, 327 km tetangga Keerom.
Terakhir, pada Minggu (24/3) pagi, gempa berkekuatan M6,1 juga mengguncang Pulau Ende, Nusa Tenggara Timur.
Gempa terjadi di 104 kilometer tenggara Pulau Ende NTT. Lokasi koordinasi 9,64 Lintang Selatan dan 122,16 Bujur Timur, serta di kedalaman 47 kilometer.
Rentetan gempa besar tersebut tentu menjadi pertanyaan, bisakah satu lindu memicu gempa di tempat lain?
Lembaga Peninjau Geologi AS (United States Geological Survey/USGS) mengungkap gempa bumi di suatu wilayah bisa memicu lindu di daerah lainnya dengan syarat kekuatan besar dan mekanisme geser khusus.
"Bisakah gempa besar memicu gempa di lokasi yang jauh atau di sesar lain? Kadang-kadang,"jelas USGS dalam keterangannya.
"Gempa bumi, terutama yang berukuran besar, dapat memicu gempa bumi lain di lokasi yang lebih jauh melalui proses yang disebut dengan perpindahan/pemicuan tegangan dinamis," lanjut lembaga tersebut.
Menurut USGS, efek domino gempa ini juga berbeda dengan gempa susulan.
"Jika gempa yang dipicu berada dalam jarak sekitar 2-3 panjang sesar dari patahan sesar yang terkait dengan gempa utama, maka gempa tersebut dianggap sebagai gempa susulan, bukan peristiwa yang terpicu [gempa lain]," jelasnya.
Panjang patahan atau sesar berhubungan dengan besarnya kekuatan gempa. Yakni, gempa Magnitudo 4 berasal dari patahan dengan panjang kira-kira 1 km; lindu M 7 datang dari sesar dengan panjang 40-60 km.
Sementara, gempa dengan Magnitudo di atas 9, seperti lindu M 9,1 di Sumatera, berasal dari sesar yang panjangnya kira-kira 100 km.
Para ahli membuktikan gempa yang memicu gempa di lokasi lain ini dalam kasus gempa berkekuatan 8,6 skala Richter, 11 April 2012, yang berpusat di Samudera Hindia di lepas pantai Sumatera.
Dalam sebuah studi bertajuk "The 11 April 2012 east Indian Ocean earthquake triggered large aftershocks worldwide" di jurnal Nature, para ahli USGS dan University of California, Berkeley, AS, mengungkap potensi gempa imbas efek domino.
"Sampai saat ini, kami para ahli seismologi selalu berkata, 'Jangan khawatir gempa bumi jarak jauh akan memicu gempa lokal'," kata Roland Burgmann, profesor ilmu bumi dan planet di UC Berkeley dan salah satu penulis studi tersebut.
"Studi ini menunjukkan bahwa, meski sangat jarang terjadi, [gempa efek domino] mungkin hanya terjadi setiap beberapa dekade, gempa bumi ini mungkin terjadi jika terjadi gempa yang tepat," lanjut dia.
Waspada Sesar-sesar Aktif di RI Potensi Picu Gempa (Foto: CNNIndonesia/Basith Subastian)
Syarat lindu di halaman berikutnya...
Syarat Lindu Picu Gempa di Lokasi Lain
Ilustrasi. Kerusakan akibat gempa yang mengguncang pulau Bawean, Jumat (22/3). (Foto: ANTARA FOTO/Rizal Hanafi)
USGS menyebut gempa 2012 ini memang hanya menimbulkan sedikit kerusakan. Namun, efeknya memicu gempa di seluruh dunia setidaknya selama seminggu.
Lindu terbesar kesepuluh dalam 100 tahun terakhir itu memicu gempa kecil selama tiga jam yang dibutuhkan gelombang seismik untuk merambat melalui kerak Bumi.
Studi 2012 itu juga menunjukkan beberapa patahan memang tidak cukup terguncang oleh gelombang gempa hingga langsung runtuh, tapi efeknya membuat sesar-sesar itu pecah hingga enam hari kemudian.
Temuan ini merupakan peringatan bagi mereka yang tinggal di wilayah yang aktif secara seismik di seluruh dunia. Studi ini mengungkap efek gempa bumi besar dapat bertahan, bahkan di belahan dunia yang berlawanan, selama lebih dari beberapa jam.
Namun, para penulis studi menyebut besarnya kekuatan gempa saja tidak cukup memicu guncangan di wilayah lain. Mekanisme gempa juga memiliki pengaruh besar.
Hal itu berdasarkan penelitian terhadap gempa bumi yang lebih besar dari M 8,5, seperti lindu M 9,1 di Sumatra pada 2004 yang memicu tsunami dan menghancurkan area seluas kira-kira 1300 x 200 km persegi, gempa 9,0 di Tohoku yang menewaskan ribuan orang di Jepang 2011.
Para ahli melihat peningkatan yang sangat kecil dalam aktivitas gempa bumi global setelah gempa tersebut.
Burgmann dkk. mengatakan hal itu terkait dengan mekanisme geser (strike-slip) seperti yang terjadi pada gempa di Samudera Hindia timur, 2012.
Mekanisme strike-slip ini, kata ahli, lebih efektif menghasilkan gelombang, yang disebut gelombang Cinta (Love waves), yang bergerak tepat di bawah permukaan dan cukup energik untuk mempengaruhi zona patahan yang jauh.
Sementara, gempa Aceh 2004 yang merenggut lebih dari 200 ribu nyawa itu gempa di zona subduksi, dengan dasar laut tenggelam di bawah lempeng tektonik lainnya.
Analisis seismolog mendeteksi beberapa lindu dengan jumlah lima kali lebih besar dari perkiraan selama enam hari setelah gempa Sumatra April 2012 dan gempa susulannya.
Fred F. Pollitz, penulis studi lainnya dari USGS, menduga itu akibat setidaknya dua faktor.
Yakni, kejadian gempa yang sangat rendah selama 6-12 hari sebelum gempa utama, dan banyaknya patahan nyaris runtuh yang sensitif terhadap gelombang kejut.
Sementara, Burgmann membuka kemungkinan soal serangkaian gempa yang lebih kecil yang tidak terdeteksi pada patahan tersebut yang kemudian menyebabkan patahan yang lebih besar.
Alternatifnya, gempa besar dapat memicu getaran yang hampir tidak terdeteksi atau gempa mikro yang merupakan tanda adanya pergerakan lambat di bawah tanah.
"Salah satu kemungkinannya adalah gempa tersebut segera memicu pergerakan lambat di beberapa tempat, mungkin disertai dengan getaran yang terdeteksi, dan kemudian berkembang menjadi gempa yang lebih besar," Burgmann berspekulasi.
"Beberapa peristiwa slow slip membutuhkan waktu berhari-hari hingga seminggu atau lebih untuk berkembang," tandasnya.