Daftar Daerah Potensi Cuaca Ekstrem Seminggu ke Depan, Termasuk Sumbar
CNN Indonesia
Selasa, 14 Mei 2024 09:26 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Ilustrasi. Sejumlah provinsi diprediksi masih akan dilanda cuaca ekstrem pekan ini. (Foto: ANTARA FOTO/ARI BOWO SUCIPTO)
Jakarta, CNN Indonesia --
Sejumlah provinsi diprediksi masih akan dilanda cuaca ekstrem selama sepekan ke depan di tengah cuaca panas beberapa waktu terakhir imbas peralihan musim. Simak daftarnya.
Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati sebelumnya menegaskan cuaca panas di Tanah Air bukan karena gelombang panas atau heatwave seperti di negara-negara tetangga.
"Periode peralihan ini umumnya dicirikan dengan kondisi pagi hari yang cerah, siang hari yang terik dengan pertumbuhan awan yang pesat diiringi peningkatan suhu udara, kemudian terjadi hujan pada siang menjelang sore hari atau sore menjelang malam hari," jelas dia dalam siaran persnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Meski cuaca panas melanda, BMKG memprediksi masih ada sejumlah wilayah yang berpotensi cuaca ekstrem selama sepekan ke depan.
BMKG, dalam laporan Prospek Cuaca Seminggu ke Depan Periode 14-20 Mei 2024, mengungkap sejumlah fenomena atmosfer yang diprediksi memicu pertumbuhan awan hujan di berbagai daerah.
Pertama, aktivitas gelombang atmosfer Rossby Ekuatorial diprakirakan aktif di wilayah Sumatra Barat, Jambi, Bengkulu, Sumatra Selatan, Lampung, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Tenggara, Papua Tengah, Papua Pegunungan, dan Papua Selatan dalam sepekan ke depan.
Kedua, aktivitas gelombang atmosfer Kelvin juga diprakirakan aktif di Sumatra Barat, Jambi, Bengkulu, SumatraSelatan, Lampung , Jawa, Bali, NTT, NTB, Kalimantan, Sulawesi, Maluku Utara, Maluku, dan Papua dalam sepekan ke depan.
"Faktor-faktor ini mendukung potensi pertumbuhan awan hujan di wilayah tersebut," demikian keterangan BMKG.
Ketiga, sirkulasi siklonik terpantau di Samudera Hindia sebelah barat Sumatra Barat, Laut Cina Selatan, Laut Banda, dan Samudera Pasifik sebelah utara Papua.
Fenomena ini membentuk daerah perlambatan kecepatan angin (konvergensi) memanjang di Samudera Hindia sebelah barat Sumatra Barat, Sumatra Barat, Bengkulu, Laut Cina Selatan; dari Laut banda, Laut Seram, hingga laut Arafuru, Papua Pegunungan, Papua dan di Samudera Pasifik sebelah utara Papua.
Daerah perlambatan kecepatan angin (konvergensi) juga terpantau di Lampung, Bengkulu, Sumatra Selatan, Jambi, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, Laut Maluku, Maluku, Maluku Utara, Laut Banda, Laut Seram, Papua Pegunungan, dan Papua.
Daerah pertemuan angin (konfluensi) terpantau di Riau, Kep. Riau, Laut Natuna, Kalimantan Barat, Maluku dan Papua.
Menurut BMKG kondisi tersebut mampu meningkatkan potensi pertumbuhan awan hujan di sekitar daerah sirkulasi siklonik dan di sepanjang daerah konvergensi/konfluensi tersebut.
"Berdasarkan prediksi kondisi global, regional, dan probabilistik model diprakirakan potensi hujan dengan intensitas sedang hingga lebat terdapat di sebagian wilayah Aceh, Sumatra Utara, Sumatra Barat, Riau, Kep. Riau, Bengkulu, Jambi, Sumatra Selatan, Kep. Bangka Belitung, Lampung," kata lembaga.
"Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Utara, Kalimantan Timur, Sulawesi Utara, Gorontalo, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat, Sulawesi Tenggara, Maluku Utara, Maluku, Papua Barat Daya, Papua Barat, Papua Tengah, Papua, Papua Pegunungan, dan Papua Selatan."
BMKG juga mengeluarkan peringatan dini mengenai potensi cuaca ekstrem seperti puting beliung, hujan lebat disertai kilat/petir, hujan es, dan lainnya. Fenomena ini bisa memicu banjir, tanah longsor, banjir bandang, genangan, angin kencang, pohon tumbang, dan jalan licin.
Berikut daftar daerah berpotensi cuaca ekstrem sepekan ke depan:
14 -15 Mei
Aceh, Sumatra Utara, Sumatra Barat, Riau, Kep. Riau, Jambi, Bengkulu, Sumatra Selatan, Kep. Bangka Belitung, Lampung, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, KalimantanTimur, Kalimantan Utara;
Sulawesi Barat, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Gorontalo, Sulawesi Utara, Maluku Utara, Maluku, Papua Barat Daya, Papua Barat, Papua Tengah, Papua, Papua Pegunungan, dan Papua Selatan.
Aceh, Sumatra Utara, Sumatra Barat, Riau, Kep. Riau, Jambi, Bengkulu, Sumatra Selatan, Kep. Bangka Belitung, Lampung, Jawa Barat, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah;
Sulawesi Barat, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Gorontalo, Sulawesi Utara, Maluku Utara, Maluku, Papua Barat Daya, Papua Barat, Papua Tengah, Papua, Papua Pegunungan, dan Papua Selatan.
18-20 Mei
Aceh, Sumatra Utara, Sumatra Barat, Riau, Kep. Riau, Jambi, Bengkulu, Sumatra Selatan, Kep. Bangka Belitung, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara;
Sulawesi Barat, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Gorontalo, Sulawesi Utara, Maluku, Papua Barat Daya, Papua Barat, PapuaTengah, Papua, Papua Pegunungan, dan Papua Selatan.
Pemicu banjir lahar di halaman berikutnya...
BMKG juga memprediksi curah hujan intensitas sedang hingga lebat yang menyebabkan bencana banjir bandang di Sumatra Barat masih akan terjadi selama sepekan ke depan.
Dwikorita mengatakan dari hasil analisis yang dilakukan diperkirakan masih akan terjadi hujan dengan intensitas sedang hingga lebat, pada Senin (13/5) hari ini.
Setelahnya, kata dia, pada Selasa (14/5) besok diperkirakan ada penurunan intensitas hujan menjadi ringan. Kemudian pada Rabu (15/5) hingga Jumat (17/5) diprediksi akan kembali terjadi peningkatan curah hujan hingga Rabu (22/5) mendatang.
"Artinya kewaspadaan terhadap terjadinya banjir lahar hujan, juga Galodo atau banjir bandang serta longsor ini masih akan berlanjut paling tidak hingga tanggal 17-22 Mei atau sepekan ke depan," jelasnya dalam keterangan tertulis.
Dari hasil analisis BMKG per Senin (6/5), terdeteksi pola sirkulasi siklonik di wilayah barat Aceh yang berpotensi memicu pertumbuhan awan hujan secara intensif.
Kondisi itulah yang kemudian menurutnya menyebabkan terjadinya banjir bandang, banjir lahar hujan, dan longsor yang terjadi pada Sabtu (11/5) malam.
Sementara itu terkait adanya lahar gunung, Dwikorita menjelaskan hal itu berasal dari material erupsi Gunung Marapi beberapa waktu lalu yang masih mengendap di lereng bagian atas gunung.
Material itu, kata dia, kemudian hanyut terbawa air hujan ke arah hilir, hingga menerjang tiga kabupaten yang berada di sekitarnya.
Sebelumnya, banjir bandang melanda sejumlah wilayah Sumatra Barat. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) mencatat jumlah korban meninggal dunia akibat bencana banjir bandang di menjadi 44 orang.
Rinciannya, 19 orang dilaporkan meninggal dunia di Kabupaten Tanah Datar, 19 orang di Kabupaten Agam, dua orang di Kota Padang Panjang, satu orang di Kota Padang dan tiga orang di Kabupaten Padang Pariaman.
Selain itu, BPBD Provinsi Sumbar juga mencatat ada sebanyak 15 orang yang masih dilaporkan hilang dan dalam proses pencarian.
Jakarta, CNN Indonesia --
Sejumlah provinsi diprediksi masih akan dilanda cuaca ekstrem selama sepekan ke depan di tengah cuaca panas beberapa waktu terakhir imbas peralihan musim. Simak daftarnya.
Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati sebelumnya menegaskan cuaca panas di Tanah Air bukan karena gelombang panas atau heatwave seperti di negara-negara tetangga.
"Periode peralihan ini umumnya dicirikan dengan kondisi pagi hari yang cerah, siang hari yang terik dengan pertumbuhan awan yang pesat diiringi peningkatan suhu udara, kemudian terjadi hujan pada siang menjelang sore hari atau sore menjelang malam hari," jelas dia dalam siaran persnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Meski cuaca panas melanda, BMKG memprediksi masih ada sejumlah wilayah yang berpotensi cuaca ekstrem selama sepekan ke depan.
BMKG, dalam laporan Prospek Cuaca Seminggu ke Depan Periode 14-20 Mei 2024, mengungkap sejumlah fenomena atmosfer yang diprediksi memicu pertumbuhan awan hujan di berbagai daerah.
Pertama, aktivitas gelombang atmosfer Rossby Ekuatorial diprakirakan aktif di wilayah Sumatra Barat, Jambi, Bengkulu, Sumatra Selatan, Lampung, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Tenggara, Papua Tengah, Papua Pegunungan, dan Papua Selatan dalam sepekan ke depan.
Kedua, aktivitas gelombang atmosfer Kelvin juga diprakirakan aktif di Sumatra Barat, Jambi, Bengkulu, SumatraSelatan, Lampung , Jawa, Bali, NTT, NTB, Kalimantan, Sulawesi, Maluku Utara, Maluku, dan Papua dalam sepekan ke depan.
"Faktor-faktor ini mendukung potensi pertumbuhan awan hujan di wilayah tersebut," demikian keterangan BMKG.
Ketiga, sirkulasi siklonik terpantau di Samudera Hindia sebelah barat Sumatra Barat, Laut Cina Selatan, Laut Banda, dan Samudera Pasifik sebelah utara Papua.
Fenomena ini membentuk daerah perlambatan kecepatan angin (konvergensi) memanjang di Samudera Hindia sebelah barat Sumatra Barat, Sumatra Barat, Bengkulu, Laut Cina Selatan; dari Laut banda, Laut Seram, hingga laut Arafuru, Papua Pegunungan, Papua dan di Samudera Pasifik sebelah utara Papua.
Daerah perlambatan kecepatan angin (konvergensi) juga terpantau di Lampung, Bengkulu, Sumatra Selatan, Jambi, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, Laut Maluku, Maluku, Maluku Utara, Laut Banda, Laut Seram, Papua Pegunungan, dan Papua.
Daerah pertemuan angin (konfluensi) terpantau di Riau, Kep. Riau, Laut Natuna, Kalimantan Barat, Maluku dan Papua.
Menurut BMKG kondisi tersebut mampu meningkatkan potensi pertumbuhan awan hujan di sekitar daerah sirkulasi siklonik dan di sepanjang daerah konvergensi/konfluensi tersebut.
"Berdasarkan prediksi kondisi global, regional, dan probabilistik model diprakirakan potensi hujan dengan intensitas sedang hingga lebat terdapat di sebagian wilayah Aceh, Sumatra Utara, Sumatra Barat, Riau, Kep. Riau, Bengkulu, Jambi, Sumatra Selatan, Kep. Bangka Belitung, Lampung," kata lembaga.
"Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Utara, Kalimantan Timur, Sulawesi Utara, Gorontalo, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat, Sulawesi Tenggara, Maluku Utara, Maluku, Papua Barat Daya, Papua Barat, Papua Tengah, Papua, Papua Pegunungan, dan Papua Selatan."
BMKG juga mengeluarkan peringatan dini mengenai potensi cuaca ekstrem seperti puting beliung, hujan lebat disertai kilat/petir, hujan es, dan lainnya. Fenomena ini bisa memicu banjir, tanah longsor, banjir bandang, genangan, angin kencang, pohon tumbang, dan jalan licin.
Berikut daftar daerah berpotensi cuaca ekstrem sepekan ke depan:
14 -15 Mei
Aceh, Sumatra Utara, Sumatra Barat, Riau, Kep. Riau, Jambi, Bengkulu, Sumatra Selatan, Kep. Bangka Belitung, Lampung, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, KalimantanTimur, Kalimantan Utara;
Sulawesi Barat, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Gorontalo, Sulawesi Utara, Maluku Utara, Maluku, Papua Barat Daya, Papua Barat, Papua Tengah, Papua, Papua Pegunungan, dan Papua Selatan.
Aceh, Sumatra Utara, Sumatra Barat, Riau, Kep. Riau, Jambi, Bengkulu, Sumatra Selatan, Kep. Bangka Belitung, Lampung, Jawa Barat, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah;
Sulawesi Barat, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Gorontalo, Sulawesi Utara, Maluku Utara, Maluku, Papua Barat Daya, Papua Barat, Papua Tengah, Papua, Papua Pegunungan, dan Papua Selatan.
18-20 Mei
Aceh, Sumatra Utara, Sumatra Barat, Riau, Kep. Riau, Jambi, Bengkulu, Sumatra Selatan, Kep. Bangka Belitung, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara;
Sulawesi Barat, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Gorontalo, Sulawesi Utara, Maluku, Papua Barat Daya, Papua Barat, PapuaTengah, Papua, Papua Pegunungan, dan Papua Selatan.
Pemicu banjir lahar di halaman berikutnya...
Hujan Lebat Diprediksi Masih Landa Sumbar
Banjir lahar menerjang sejumlah wilayah Sumbar. (Foto: ANTARA FOTO/Sigit Putra)
BMKG juga memprediksi curah hujan intensitas sedang hingga lebat yang menyebabkan bencana banjir bandang di Sumatra Barat masih akan terjadi selama sepekan ke depan.
Dwikorita mengatakan dari hasil analisis yang dilakukan diperkirakan masih akan terjadi hujan dengan intensitas sedang hingga lebat, pada Senin (13/5) hari ini.
Setelahnya, kata dia, pada Selasa (14/5) besok diperkirakan ada penurunan intensitas hujan menjadi ringan. Kemudian pada Rabu (15/5) hingga Jumat (17/5) diprediksi akan kembali terjadi peningkatan curah hujan hingga Rabu (22/5) mendatang.
"Artinya kewaspadaan terhadap terjadinya banjir lahar hujan, juga Galodo atau banjir bandang serta longsor ini masih akan berlanjut paling tidak hingga tanggal 17-22 Mei atau sepekan ke depan," jelasnya dalam keterangan tertulis.
Dari hasil analisis BMKG per Senin (6/5), terdeteksi pola sirkulasi siklonik di wilayah barat Aceh yang berpotensi memicu pertumbuhan awan hujan secara intensif.
Kondisi itulah yang kemudian menurutnya menyebabkan terjadinya banjir bandang, banjir lahar hujan, dan longsor yang terjadi pada Sabtu (11/5) malam.
Sementara itu terkait adanya lahar gunung, Dwikorita menjelaskan hal itu berasal dari material erupsi Gunung Marapi beberapa waktu lalu yang masih mengendap di lereng bagian atas gunung.
Material itu, kata dia, kemudian hanyut terbawa air hujan ke arah hilir, hingga menerjang tiga kabupaten yang berada di sekitarnya.
Sebelumnya, banjir bandang melanda sejumlah wilayah Sumatra Barat. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) mencatat jumlah korban meninggal dunia akibat bencana banjir bandang di menjadi 44 orang.
Rinciannya, 19 orang dilaporkan meninggal dunia di Kabupaten Tanah Datar, 19 orang di Kabupaten Agam, dua orang di Kota Padang Panjang, satu orang di Kota Padang dan tiga orang di Kabupaten Padang Pariaman.
Selain itu, BPBD Provinsi Sumbar juga mencatat ada sebanyak 15 orang yang masih dilaporkan hilang dan dalam proses pencarian.