Daftar Wilayah Masuk Kemarau Mei 2025, Siap-siap 'Terpanggang'
Selain memprediksi awal musim kemarau, BMKG juga menganalisis sifat musim kemarau yang akan terjadi.
Mayoritas wilayah diprediksi akan mengalami musim kemarau dengan kondisi normal, meskipun beberapa wilayah lainnya diperkirakan akan lebih kering atau lebih basah dari biasanya.
Berdasarkan perbandingan dengan rata-rata klimatologinya, Musim Kemarau 2025 diprediksi bersifat normal di 416 ZOM atau 60%, bersifat atas normal (lebih basah) di 185 ZOM atau 26%, dan bersifat bawah normal (lebih kering) di 98 ZOM atau 14%.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Wilayah yang diprediksi mengalami sifat musim kemarau normal mencakup sebagian besar Sumatera, Jawa bagian Timur, Kalimantan, sebagian besar Sulawesi, Maluku, dan sebagian besar Pulau Papua.
Sementara itu, wilayah yang diprediksi mengalami sifat musim kemarau di atas normal meliputi sebagian kecil Aceh, sebagian besar Lampung, Jawa bagian barat dan Tengah, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, sebagian kecil Sulawesi, dan Papua bagian Tengah.
Adapun wilayah yang diprediksi mengalami sifat musim kemarau di bawah normal atau lebih kering dari rata-rata klimatologinya adalah Sumatera bagian utara, sebagian kecil Kalimantan Barat, Sulawesi bagian tengah, Maluku Utara, dan Papua bagian selatan.
Lebih lanjut, Dwikorita memprediksi bahwa periode puncak musim kemarau di Indonesia pada tahun ini akan terjadi pada bulan Juni, Juli, dan Agustus 2025.
"Puncak musim kemarau 2025 di sebagian besar wilayah Indonesia diprediksi terjadi pada Juni, Juli, dan Agustus 2025," katanya.
Mengenai dinamika atmosfer dan laut selama periode tersebut, pemantauan suhu muka laut pada awal Maret 2025 menunjukkan bahwa fenomena La Niña di Samudra Pasifik telah beralih menuju fase Netral dari El Nino Southern Oscillation (ENSO).
Di sisi lain, fenomena Indian Ocean Dipole (IOD) di Samudra Hindia juga berada dalam fase Netral. BMKG memprediksi kedua fenomena iklim global tersebut (ENSO dan IOD) akan tetap berada dalam fase Netral sepanjang musim kemarau 2025.
Menurut Deputi Bidang Klimatologi BMKG Ardhasena Sopaheluwakan, dinamika atmosfer dan laut ini menyebabkan musim kemarau tahun ini berada dalam kondisi iklim normal, tanpa pengaruh kuat dari iklim laut seperti ENSO dan IOD.
Kendati demikian, Ardhasena menegaskan bahwa potensi hujan tetap ada, terutama di beberapa wilayah Indonesia yang diprediksi memiliki sifat musim kemarau di atas normal, yang berpotensi menerima akumulasi curah hujan musiman yang lebih tinggi dari biasanya.
"Jadi utamanya adalah karena tidak adanya dominasi iklim global seperti El Nino, La Nina, dan IOD. Oleh karena itu, prediksi kami untuk iklim tahun ini adalah normal dan tidak sekering tahun 2023 yang berdampak pada banyak kebakaran hutan. Musim kemarau tahun 2025 cenderung mirip dengan kondisi musim kemarau tahun 2024," pungkas Ardhasena.
(lom/dmi)[Gambas:Video CNN]
Sejumlah wilayah di Indonesia bakal masuk musim kemarau, yang berarti panas bakal semakin menyengat, mulai Mei 2025. Simak daftarnya.
Menurut BMKG, awal musim kemarau di Indonesia terjadi secara bertahap, mulai April hingga Juni.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Plt. Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika Dwikorita Karnawati mengatakan wilayah yang masuk musim kemarau pada Mei adalah sebagian kecil Sumatera, sebagian besar Jawa Tengah hingga Jawa Timur, sebagian Kalimantan Selatan, Bali, serta Papua bagian selatan.
Menurut BMKG, dalam Prospek Cuaca Mingguan Periode 29 April-5 Mei 2025, sejumlah wilayah Indonesia juga akan disengat panas terik hingga pada Mei. Hal ini dikarenakan karakteristik masa pancaroba, yakni cuaca terik di siang hari dan hujan lebat di sore hari.
"Perpaduan radiasi matahari yang tinggi, dan kelembaban udara yang juga cukup tinggi, masyarakat tetap waspada terhadap potensi suhu udara yang relatif panas pada pagi hingga siang hari, dan cuaca signifikan pada sore hingga malam hari," tulis BMKG dalam laporan tersebut.
BMKG menyebut saat ini sebagian besar wilayah Indonesia masih berada dalam periode peralihan dari musim hujan menuju musim kemarau.
BMKG menyebut kondisi udara yang terasa panas dan suhu maksimum melebihi 35 derajat Celcius terjadi di sejumlah wilayah Indonesia selama sepekan terakhir.
Menurut data BMKG, suhu maksimum tertinggi dalam sepekan terakhir terukur di Stasiun Meteorologi Juanda, Jawa Timur mencapai 37.9 derajat Celcius; di Stasiun Meteorologi Tanah Merah, Papua Selatan sebesar 37 derajat Celcius; dan di Balai Besar MKG Wilayah II Tangerang Selatan mencapai 35,4 derajat Celcius.
BMKG menjelaskan kondisi ini dipengaruhi oleh beberapa faktor, seperti langit yang cerah tanpa banyak awan sehingga pemanasan menjadi maksimal, dan posisi semu Matahari yang saat ini berada di dekat ekuator dan bergeser secara semu ke utara dengan posisi deklinasi terakhir pada 11.2 LU, yang berdampak pada penyinaran Matahari yang lebih optimum ke wilayah Indonesia.
Kondisi ini diperparah dengan kecepatan angin yang relatif lemah di beberapa lokasi, sehingga menyebabkan distribusi panas tidak terjadi, dan memperparah akumulasi panas di permukaan.
Sementara itu, pada bulan berikutnya atau Juni, wilayah yang masuk musim kemarau adalah sebagian besar Sumatera, sebagian besar Jawa bagian barat, Kalimantan bagian selatan, dan sebagian kecil wilayah Sulawesi dan Papua.
Berdasarkan hasil analisis BMKG, awal musim kemarau di berbagai wilayah Indonesia yang cenderung normal. Namun, kata Dwikorita, ada sejumlah daerah yang mengalami keterlambatan dari waktu normalnya.
"Jika dibandingkan dengan rata-rata klimatologi periode 1991-2020, Awal Musim Kemarau 2025 di Indonesia diproyeksikan terjadi pada waktu yang SAMA dengan normalnya di 207 Zona Musim (ZOM) atau 30%, MUNDUR di 204 ZOM atau 29%, dan MAJU di 104 ZOM atau 22%," jelas Dwikorita dalam keterangannya, Kamis (13/3).
Dwikorita merinci wilayah yang diperkirakan mengalami awal musim kemarau sesuai dengan waktu normalnya, meliputi Sumatera, Jawa Tengah, Kalimantan Timur, Sulawesi Selatan, Gorontalo dan Sulawesi Utara, sebagian Maluku, serta sebagian Maluku Utara.
Sementara itu, wilayah yang diprediksi mengalami awal musim kemarau yang mundur atau lebih lambat dari biasanya adalah Kalimantan bagian Selatan, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, sebagian Sulawesi, sebagian Maluku Utara, dan Merauke.
Sifat musim kemarau di halaman berikutnya...
Sifat Musim Kemarau 2025 di Indonesia
Ilustrasi. Penampakan Sungai Cisadane yang mengering di Tangerang, Banten pada musim kemarau 2023. (Foto: ANTARA FOTO/MUHAMMAD IQBAL)
Selain memprediksi awal musim kemarau, BMKG juga menganalisis sifat musim kemarau yang akan terjadi.
Mayoritas wilayah diprediksi akan mengalami musim kemarau dengan kondisi normal, meskipun beberapa wilayah lainnya diperkirakan akan lebih kering atau lebih basah dari biasanya.
Berdasarkan perbandingan dengan rata-rata klimatologinya, Musim Kemarau 2025 diprediksi bersifat normal di 416 ZOM atau 60%, bersifat atas normal (lebih basah) di 185 ZOM atau 26%, dan bersifat bawah normal (lebih kering) di 98 ZOM atau 14%.
Wilayah yang diprediksi mengalami sifat musim kemarau normal mencakup sebagian besar Sumatera, Jawa bagian Timur, Kalimantan, sebagian besar Sulawesi, Maluku, dan sebagian besar Pulau Papua.
Sementara itu, wilayah yang diprediksi mengalami sifat musim kemarau di atas normal meliputi sebagian kecil Aceh, sebagian besar Lampung, Jawa bagian barat dan Tengah, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, sebagian kecil Sulawesi, dan Papua bagian Tengah.
Adapun wilayah yang diprediksi mengalami sifat musim kemarau di bawah normal atau lebih kering dari rata-rata klimatologinya adalah Sumatera bagian utara, sebagian kecil Kalimantan Barat, Sulawesi bagian tengah, Maluku Utara, dan Papua bagian selatan.
Lebih lanjut, Dwikorita memprediksi bahwa periode puncak musim kemarau di Indonesia pada tahun ini akan terjadi pada bulan Juni, Juli, dan Agustus 2025.
"Puncak musim kemarau 2025 di sebagian besar wilayah Indonesia diprediksi terjadi pada Juni, Juli, dan Agustus 2025," katanya.
Mengenai dinamika atmosfer dan laut selama periode tersebut, pemantauan suhu muka laut pada awal Maret 2025 menunjukkan bahwa fenomena La Niña di Samudra Pasifik telah beralih menuju fase Netral dari El Nino Southern Oscillation (ENSO).
Di sisi lain, fenomena Indian Ocean Dipole (IOD) di Samudra Hindia juga berada dalam fase Netral. BMKG memprediksi kedua fenomena iklim global tersebut (ENSO dan IOD) akan tetap berada dalam fase Netral sepanjang musim kemarau 2025.
Menurut Deputi Bidang Klimatologi BMKG Ardhasena Sopaheluwakan, dinamika atmosfer dan laut ini menyebabkan musim kemarau tahun ini berada dalam kondisi iklim normal, tanpa pengaruh kuat dari iklim laut seperti ENSO dan IOD.
Kendati demikian, Ardhasena menegaskan bahwa potensi hujan tetap ada, terutama di beberapa wilayah Indonesia yang diprediksi memiliki sifat musim kemarau di atas normal, yang berpotensi menerima akumulasi curah hujan musiman yang lebih tinggi dari biasanya.
"Jadi utamanya adalah karena tidak adanya dominasi iklim global seperti El Nino, La Nina, dan IOD. Oleh karena itu, prediksi kami untuk iklim tahun ini adalah normal dan tidak sekering tahun 2023 yang berdampak pada banyak kebakaran hutan. Musim kemarau tahun 2025 cenderung mirip dengan kondisi musim kemarau tahun 2024," pungkas Ardhasena.

