Truman Simanjuntak dari Pusat Kajian Prasejarah dan Austronesia secara terpisah mengatakan bahwa Gunung Padang sama sekali tidak ada hubungannya dengan piramida.
"Klaim bahwa ada ruang-ruang buatan manusia di dalam bukit adalah halusinasi," kata Truman pada 20 Maret.
"Mari kita berpikir rasional, dan berbicara berdasarkan data," tambahnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pada 2023, Truman pernah berkomentar soal situs Gunung Padang yang bukan piramida, melainkan punden berundak.
"Gunung padang bukan piramid tapi punden berundak, salah satu unsur budaya megalitik yang difungsikan sebagai sarana pemuliaan roh leluhur," kata dia, kala itu.
Truman menjelaskan situs Gunung Padang dibangun dengan kearifan para leluhur yang memanfaatkan kontur bukit sebagai undakan-undakan yang merepresentasikan tingkat kesakralan.
Menurutnya, undakan-undakan ditempatkan sarana-sarana pemuliaan dengan memanfaatkan columnar joint yang tersedia sebagai menhir, batas-batas ruang upacara, bahkan fungsi teknis melindungi undakan tertentu dari longsoran.
Setelah mendapat banyak kontra dari para ahli, hasil studi dari Danny Hilman dkk ditarik dari Jurnal Archeological Prospection pada 2024. Penarikan tersebut dinilai karena terdapat "major error" dalam substansi penelitian.
Pada Januari 2025, Menteri Kebudayaan Fadli Zon berencana menggandeng para peneliti untuk melanjutkan riset dan kajian terhadap situs megalitik Gunung Padang.
Merespons niatan tersebut, Danny Hilman mengatakan masih banyak misteri yang bisa disingkap dari situs purba tersebut, mulai dari bagian puncak hingga ruang-ruang yang sempat teridentifikasi di bagian dalam piramida tersebut.
"Banyak yang kita tahu dari situs Gunung Padang, tetapi banyak juga yang kita belum tahu," ujar Danny kepada CNNIndonesia.com, Jumat (10/1).
Danny menjelaskan ada beberapa lapisan yang ada di situs Gunung Padang, dengan lapisan pertama di bagian permukaan yang saat ini baru bagian puncaknya saja yang diriset.
Lapisan pertama ini dinilai masih memiliki bagian yang belum diteliti, karena telah rusak dan tertimbun. Bagian ini, kata Danny, masih bisa ditelusuri lebih lanjut untuk bisa direkonstruksi.
Kemudian, Danny mengatakan saat ini bentuk geometri dari situs tersebut sudah diketahui melakukan pemindaian dari bioradar, bioreception, hingga sistemografi. Namun, bentuk geometri keseluruhan dari situs tersebut juga masih perlu digali dan ditelusuri untuk mendapatkan gambaran yang komprehensif.
"Intinya, harus ada penggalian yang bertahap dan komprehensif gitu. Mungkin sekaligus rekonstruksi, karena situ seperti Gunung Padang ini harusnya sudah masuk ke tahapan rekonstruksi, enggak penelitian lagi," tuturnya.
Ia mengatakan rekonstruksi akan memberikan gambaran lengkap tentang situs Gunung Padang. Hal ini juga akan memudahkan untuk, misalnya ketika situs ini akan dijadikan kawasan pariwisata sejarah.
(lom/dmi)