Benarkah Piramida Tertua di Dunia Ada di Cianjur? Ini Kata Pakar
CNN Indonesia
Selasa, 24 Jun 2025 06:30 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Status Gunung Padang sebagai piramida juga menuai pro dan kontra di antara ilmuwan. (Foto: Gilang Fauzi)
Truman Simanjuntak dari Pusat Kajian Prasejarah dan Austronesia secara terpisah mengatakan bahwa Gunung Padang sama sekali tidak ada hubungannya dengan piramida.
"Klaim bahwa ada ruang-ruang buatan manusia di dalam bukit adalah halusinasi," kata Truman pada 20 Maret.
"Mari kita berpikir rasional, dan berbicara berdasarkan data," tambahnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pada 2023, Truman pernah berkomentar soal situs Gunung Padang yang bukan piramida, melainkan punden berundak.
"Gunung padang bukan piramid tapi punden berundak, salah satu unsur budaya megalitik yang difungsikan sebagai sarana pemuliaan roh leluhur," kata dia, kala itu.
Truman menjelaskan situs Gunung Padang dibangun dengan kearifan para leluhur yang memanfaatkan kontur bukit sebagai undakan-undakan yang merepresentasikan tingkat kesakralan.
Menurutnya, undakan-undakan ditempatkan sarana-sarana pemuliaan dengan memanfaatkan columnar joint yang tersedia sebagai menhir, batas-batas ruang upacara, bahkan fungsi teknis melindungi undakan tertentu dari longsoran.
Setelah mendapat banyak kontra dari para ahli, hasil studi dari Danny Hilman dkk ditarik dari Jurnal Archeological Prospection pada 2024. Penarikan tersebut dinilai karena terdapat "major error" dalam substansi penelitian.
Pada Januari 2025, Menteri Kebudayaan Fadli Zon berencana menggandeng para peneliti untuk melanjutkan riset dan kajian terhadap situs megalitik Gunung Padang.
Merespons niatan tersebut, Danny Hilman mengatakan masih banyak misteri yang bisa disingkap dari situs purba tersebut, mulai dari bagian puncak hingga ruang-ruang yang sempat teridentifikasi di bagian dalam piramida tersebut.
"Banyak yang kita tahu dari situs Gunung Padang, tetapi banyak juga yang kita belum tahu," ujar Danny kepada CNNIndonesia.com, Jumat (10/1).
Danny menjelaskan ada beberapa lapisan yang ada di situs Gunung Padang, dengan lapisan pertama di bagian permukaan yang saat ini baru bagian puncaknya saja yang diriset.
Lapisan pertama ini dinilai masih memiliki bagian yang belum diteliti, karena telah rusak dan tertimbun. Bagian ini, kata Danny, masih bisa ditelusuri lebih lanjut untuk bisa direkonstruksi.
Kemudian, Danny mengatakan saat ini bentuk geometri dari situs tersebut sudah diketahui melakukan pemindaian dari bioradar, bioreception, hingga sistemografi. Namun, bentuk geometri keseluruhan dari situs tersebut juga masih perlu digali dan ditelusuri untuk mendapatkan gambaran yang komprehensif.
"Intinya, harus ada penggalian yang bertahap dan komprehensif gitu. Mungkin sekaligus rekonstruksi, karena situ seperti Gunung Padang ini harusnya sudah masuk ke tahapan rekonstruksi, enggak penelitian lagi," tuturnya.
Ia mengatakan rekonstruksi akan memberikan gambaran lengkap tentang situs Gunung Padang. Hal ini juga akan memudahkan untuk, misalnya ketika situs ini akan dijadikan kawasan pariwisata sejarah.
Sebuah studi mengklaim situs Gunung Padang yang berlokasi di Karyamukti, Cianjur, Jawa Barat, sebagai piramida tertua di dunia, bahkan lebih tua dari piramida di Mesir. Lantas bagaimana para ahli memandang klaim ini?
Para ahli dari Barat ramai-ramai membantah studi yang mengklaim situs Gunung Padang sebagai piramida tertua di dunia. Mereka menilai klaim tersebut tak terbukti secara ilmiah.
Laporan bahwa situs Gunung Padang yang berada di Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, sebagai piramida tertua di dunia dan berusia lebih dari 25 ribu tahun lalu terbit pada Oktober 2023.
Laporan itu disusun oleh peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Danny Hilman Natawidjaja dkk di Archeological Prospection.
Para pakar beranggapan penemuan situs setua itu belum pernah terjadi sebelumnya.
Mereka menyebut Stonehenge dan piramida besar tertua di Mesir saja baru berusia beberapa ribu tahun, sedangkan pemegang rekor sebelumnya, monumen batu Göbekli Tepe di Turki, diperkirakan berusia sekitar 11.000 tahun.
Sementara, Hilman dalam makalah itu mengungkap Gunung Padang kemungkinan dua kali lebih tua dari usia megalit kuno di atas.
Tim peneliti melaporkan sampel tanah yang diambil dari material bukit jauh di bawah situs tersebut berumur 27 ribu hingga 16 ribu tahun, dan penambahan selanjutnya diperkirakan berusia sekitar 8 ribu tahun.
Mereka kemudian menyimpulkan Gunung Padang memiliki bukti jelas bahwa pembangunan piramida itu dapat ditelusuri kembali ke 25 ribu tahun atau lebih.
Studi ini mendapat respons keras dari banyak arkeolog, yang mengatakan bahwa tidak ada bukti yang disajikan oleh tim untuk membenarkan kesimpulan mereka tentang usia Gunung Padang.
Mereka berpendapat pemukiman di sana mungkin baru dibangun sekitar 6.000 hingga 7.000 tahun yang lalu.
Namun, klaim tersebut ditolak oleh Flint Dibble, arkeolog di Cardiff University dan lainnya. Mereka menyatakan Hilman dan tim tidak memberikan bukti material yang terkubur itu adalah buatan manusia.
"Data yang disajikan dalam makalah ini tidak memberikan dukungan terhadap kesimpulan akhirnya bahwa pemukiman tersebut sudah sangat tua. Namun hal itulah yang menjadi berita utama," kata Dibble.
"Saya sangat terkejut makalah ini diterbitkan sedemikian rupa," tuturnya.
Para ahli mengatakan benda tersebut mungkin berusia lebih dari 20 ribu tahun, tapi kemungkinan berasal dari alam karena tidak ada bukti keberadaan manusia, seperti kerangka atau artefak di dalam tanah.
Bukan piramida
Status Gunung Padang sebagai piramida juga menuai pro dan kontra. Pada Maret 2025, sebuah gambar yang beredar di media sosial mengklaim penampakan situs Gunung Padang sebagai sebuah piramida.
Namun, penelusuran AFP menunjukkan gambar tersebut dihasilkan oleh kecerdasan buatan (AI). Beberapa ahli menyebut tidak tepat untuk mengkarakterisasi Gunung Padang sebagai piramida.
Dikutip dari AFP, Lutfi Yondri, seorang arkeolog dari Universitas Padjadjaran yang telah melakukan beberapa penggalian di Gunung Padang sejak 1997, mengatakan bahwa satu-satunya struktur yang tersisa di situs tersebut adalah "kompleks teras batu".
Ia menyebut penanggalan karbon menunjukkan bahwa teras-teras tersebut dibangun sekitar tahun 117 hingga 45 SM, dan berada di atas kolom-kolom batu yang terbentuk melalui proses geologi alami.
Penelitian Lanjutan
Status Gunung Padang sebagai piramida juga menuai pro dan kontra di antara ilmuwan. (Foto: Gilang Fauzi)
Truman Simanjuntak dari Pusat Kajian Prasejarah dan Austronesia secara terpisah mengatakan bahwa Gunung Padang sama sekali tidak ada hubungannya dengan piramida.
"Klaim bahwa ada ruang-ruang buatan manusia di dalam bukit adalah halusinasi," kata Truman pada 20 Maret.
"Mari kita berpikir rasional, dan berbicara berdasarkan data," tambahnya.
Pada 2023, Truman pernah berkomentar soal situs Gunung Padang yang bukan piramida, melainkan punden berundak.
"Gunung padang bukan piramid tapi punden berundak, salah satu unsur budaya megalitik yang difungsikan sebagai sarana pemuliaan roh leluhur," kata dia, kala itu.
Truman menjelaskan situs Gunung Padang dibangun dengan kearifan para leluhur yang memanfaatkan kontur bukit sebagai undakan-undakan yang merepresentasikan tingkat kesakralan.
Menurutnya, undakan-undakan ditempatkan sarana-sarana pemuliaan dengan memanfaatkan columnar joint yang tersedia sebagai menhir, batas-batas ruang upacara, bahkan fungsi teknis melindungi undakan tertentu dari longsoran.
Setelah mendapat banyak kontra dari para ahli, hasil studi dari Danny Hilman dkk ditarik dari Jurnal Archeological Prospection pada 2024. Penarikan tersebut dinilai karena terdapat "major error" dalam substansi penelitian.
Pada Januari 2025, Menteri Kebudayaan Fadli Zon berencana menggandeng para peneliti untuk melanjutkan riset dan kajian terhadap situs megalitik Gunung Padang.
Merespons niatan tersebut, Danny Hilman mengatakan masih banyak misteri yang bisa disingkap dari situs purba tersebut, mulai dari bagian puncak hingga ruang-ruang yang sempat teridentifikasi di bagian dalam piramida tersebut.
"Banyak yang kita tahu dari situs Gunung Padang, tetapi banyak juga yang kita belum tahu," ujar Danny kepada CNNIndonesia.com, Jumat (10/1).
Danny menjelaskan ada beberapa lapisan yang ada di situs Gunung Padang, dengan lapisan pertama di bagian permukaan yang saat ini baru bagian puncaknya saja yang diriset.
Lapisan pertama ini dinilai masih memiliki bagian yang belum diteliti, karena telah rusak dan tertimbun. Bagian ini, kata Danny, masih bisa ditelusuri lebih lanjut untuk bisa direkonstruksi.
Kemudian, Danny mengatakan saat ini bentuk geometri dari situs tersebut sudah diketahui melakukan pemindaian dari bioradar, bioreception, hingga sistemografi. Namun, bentuk geometri keseluruhan dari situs tersebut juga masih perlu digali dan ditelusuri untuk mendapatkan gambaran yang komprehensif.
"Intinya, harus ada penggalian yang bertahap dan komprehensif gitu. Mungkin sekaligus rekonstruksi, karena situ seperti Gunung Padang ini harusnya sudah masuk ke tahapan rekonstruksi, enggak penelitian lagi," tuturnya.
Ia mengatakan rekonstruksi akan memberikan gambaran lengkap tentang situs Gunung Padang. Hal ini juga akan memudahkan untuk, misalnya ketika situs ini akan dijadikan kawasan pariwisata sejarah.