Dari Tegal ke Texas, Mengapa Tak Ada Satu Pun yang Aman dari Banjir?
Kerugian ekonomi tahunan rata-rata akibat banjir global mencapai US$388 miliar (Rp6285 triliun) per tahun menurut Kantor PBB untuk Pengurangan Risiko Bencana (UN Disaster Risk Reduction).
Banjir adalah komponen bencana alam paling sering terjadi di seluruh dunia, mencapai 40 persen dibanding bencana lain.
UNDRR menyebut banjir sebagai penyebab kerugian ekonomi terbesar di sektor infrastruktur dan komunitas. Perkiraan kerugian dilaporkan mencapai AUD2,2 Miliar (Rp23 triliun) akibat banjir di Australia termasuk akibat bencana Topan Alfred, banjir di NSW serta Queensland yang terjadi April sebelumnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Berdasarkan rekapitulasi data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), banjir awal Maret 2025 di Jabodetabek menimbulkan kerusakan dan kerugian senilai hampir Rp1,7 triliun.
Sebagai perbandingan sepanjang 2024, DKI Jakarta menghadapi 1.810 kasus bencana (tidak hanya banjir) dengan total kerugian mencapai Rp442 miliar. Ini menunjukkan terjadi perburukan tingkat keparahan akibat banjir yang diikuti naiknya kerugian akibat bencana tersebut.
Menurut perkiraan Kantor Menteri Koordinator Perekonomian, kerugian ekonomi langsung akibat banjir tahunan di pesisir Jakarta mencapai Rp2,1 triliun per tahun. Kerugian ini dapat terus meningkat hingga mencapai Rp10 triliun per tahun dalam 10 tahun mendatang jika tidak ada penanganan serius.
Kehilangan daya tarik investasi karena banjir
Laporan ASEAN Weekly Disaster Update periode 30 Juni - 6 Juli 2025 mencatat 28 bencana di wilayah ASEAN, termasuk banjir, tanah longsor, dan badai di Indonesia, Filipina, dan Thailand. Ini menunjukkan bahwa ancaman cuaca ekstrem adalah fenomena global yang meluas.
Dengan perubahan iklim yang makin parah, ilmuwan menyepakati konsensus perubahan cuaca yang juga makin ekstrem.
Selain curah hujan yang secara tiba-tiba dapat turun dalam debit sangat besar dibanding catatan normal, dampak lainnya dapat berwujud kekeringan akut, topan dan siklon yang makin sering, serta gelombang panas diikuti suhu yang terus naik dari angka normal.
Untuk menghindari jatuhnya korban kerugian maupun jiwa yang terus bertambah tiap tahun, dibutuhkan investasi sangat besar.
Laporan Global Assessment Report (GAR) 2025 dari UNDRR menyebut investasi sistematis adalah kunci. Pendanaan ini penting melibatkan kolaborasi pemerintah, swasta, dan lembaga keuangan internasional, termasuk penggunaan instrumen keuangan inovatif seperti debt-for-resilience swaps dan integrasi ketahanan dalam perencanaan keuangan nasional.
Inggris misalnya, menginvestasikan £2,4 miliar (sekitar Rp52 triliun) untuk tahun 2024-2025 dan 2025-2026 guna membangun, memelihara, dan memperbaiki pertahanan banjirnya.
Hitungan UNDRR menunjukkan tiap dolar dana yang diinvestasikan dalam adaptasi dan ketahanan bencana akan kembali dalam bentuk kegiatan ekonomi senilai US$2-US$10 yang berarti investasi ani-bencana sangat menguntungkan secara ekonomi dan sosial.
Di negara berkembang seperti Indonesia, dana sebesar ini nyaris mustahil didapatkan tanpa campur tangan internasional dan pihak swasta.
Akibatnya pabrik, kantor, toko, pasar, jalan raya, jembatan, perumahan dan lokasi lain yang terendam banjir akan terus mencatatkan kerugian dan pertumbuhan negatif dari tahun ke tahun. Jika dibiarkan, makin lama Indonesia akan makin kehilangan keunggulan komparatifnya sebagai lokasi investasi global.
(stu)Juli 2025 kembali menjadi saksi bagaimana dampak perubahan iklim kian mengganas: kota-kota besar di berbagai belahan dunia dilanda cuaca ekstrem dan banjir, menyebabkan kerugian besar dan mengancam kehidupan jutaan penduduk.
Dari pemukiman perkampungan di Tegal, daerah padat di Jakarta, hingga Texas, Amerika Serikat, cuaca ekstrem menyebabkan korban jiwa ratusan orang dan kerugian miliaran dolar, pada bulan Juli ini saja.
Makin sulit menemukan permukaan bumi yang sepenuhnya aman dari ancaman banjir yang kian intens.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Gelombang banjir global: melanda berbagai penjuru dunia
Texas, Amerika Serikat, menjadi salah satu sorotan utama di awal Juli. Hujan deras yang tiada henti antara 4 hingga 7 Juli 2025 menyebabkan Sungai Guadalupe meluap drastis. Tingkat air di Sungai Guadalupe naik sekitar 7,9 meter hanya dalam 45 menit di beberapa titik.
Banjir bandang ini menyapu kamp-kamp liburan dan RV park yang sedang ramai pengunjung.
Hingga Kamis (10/7), sedikitnya 120 orang tewas 84 di antaranya di Kerr County, dan sementara 160 orang lainnya masih dilaporkan hilang, termasuk anak-anak yang sedang ikut perkemahan musim panas.
Hujan ekstrem ini diperparah oleh sisa badai tropis Barry yang membawa kelembaban dari Meksiko ke Texas. Menurut ilmuwan atmosfer yang lebih hangat akibat perubahan iklim menahan lebih banyak uap air akibatnya meningkatkan kemungkinan terjadinya hujan ekstrem.
Sekitar 16 ribu km dari Texas, di Indonesia, banjir bandang telah lebih dulu merendam Tegal akhir Juni lalu. Hujan turun sepanjang malam (30/6), yang mengakibatkan banjir di sebagian wilayah Kabupaten dan Kota Tegal termasuk Kecamatan Bumijawa dan Bojong.
Air tak dapat ditampung oleh Kali Cenang saat hujan deras tiba, ditambah konstruksi lantai jembatan di Kali Cenang yang rendah kemudian membuat air meluber ke pemukiman sekitarnya.
Kurang dari sepekan sebelumnya, Tegal juga dilanda banjir rob yang juga menggenangi wilayah pantai Brebes dan Pemalang. Banjir rob ini menyebabkan genangan air laut masuk rumah warga di Kelurahan Muarareja dan Tegal Sari.
Ramalan BMKG menyebut rob berikutnya akan terjadi bulan Juli 2025, dengan puncak pasang maksimum diperkirakan bisa mencapai ketinggian satu meter.
Tegal hanya satu dari ratusan kota/kabupaten di Indonesia yang sudah menjadi lokasi banjir sepanjang paruh pertama 2025. Pidie sampai Bekasi, Medan sampai Mataram, Kutai sampai Binjai, korban jiwa mencapai ratusan orang, sekitar 4 juta jiwa mengungsi dengan kerugian materiil mencapai triliunan rupiah.
Menurut BNPB, Indonesia mengalami lebih dari 1,100 kejadian banjir dalam enam bulan terakhir-angka yang melampaui rata-rata tahunan sebelumnya.
Cuaca ekstrem adalah fenomena global
Tren ini konsisten dengan situasi cuaca ekstrem di seluruh dunia, dengan banjir dilaporkan dari lima benua.
Banjir dilaporkan terjadi di lokasi-lokasi yang bahkan selama puluhan tahun dianggap relatif 'aman' sebagai tempat tinggal dan dilengkapi infrastruktur memadai seperti di AS dan Australia.
Pada kenyataannya, situasi bencana kombo seperti hujan sangat lebat ditambah topan atau siklon menyebabkan banjir terburuk dalam sejarah. Ini antara lain terjadi di Australia di wilayah pesisir New South Wales pada akhir Mei lalu.
Mid North Coast dan sebagian wilayah Hunter Valley seperti Taree, Kempsey, Nambucca Heads, Port Macquarie, dan Coffs Harbour terendam akibat hujan yang normalnya terjadi selama beberapa bulan ternyata tercurah dalam tiga hari berturut-turut.
Akibatnya 5 orang meninggal dunia, 50 ribu orang terjebak di tengah kepungan banjir sementara 10 ribu rumah dan lokasi usaha rusak atau hancur.
Di Inggris, wilayah Manchester Raya mengalami banjir parah pada tahun baru 2025. Ratusan orang diungsikan setelah hujan turun selama 18 jam sepanjang malam tahun baru hingga besok harinya. Sungai Mersey di Manchester mencapai level tertinggi sepanjang sejarah mencapai 3,71 meter, begitu juga Sungai Tame di sebelahnya.
Meskipun Manchester dilengkapi infrastruktur pertahanan banjir yang cukup baik, volume curah hujan yang sangat besar melebihi standar global desain anti banjir dan menyebabkan luapan dan bahkan ambruknya banyak tanggul lokal.
Hujan ekstrim selama tiga hari juga yang menyebabkan banjir bandang di Chiang Rai, Thailand, pada akhir Juni sampai awal Juli. Hujan diikuti longsor yang merusak ratusan hektar sawah dan menewaskan sedikitnya 10 korban di Chiang Rai saja.
Pada Februari, ibu kota Bostwana, Gaborone, dilanda banjir besar. Hujan terlebat dalam 200 tahun, turun sekaligus dalam beberapa hari menyebabkan banjir bandang. Ribuan orang mengungsi dan 9 orang tewas kebanyakan anak-anak.
Di Aljazair pada pertengahan Mei hujan deras juga merendam sedikitnya 15 provinsi, diperparah dengan hujan batu es. Akibatnya jalan dan jembatan rusak, hewan seperti unta dan ayam kalkun hanyut, dan lima orang tewas.
Kerugian ekonomi fantastis
Banjir melanda daerah Ciledug, Jakarta, Selasa (8/7). (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Kerugian ekonomi tahunan rata-rata akibat banjir global mencapai US$388 miliar (Rp6285 triliun) per tahun menurut Kantor PBB untuk Pengurangan Risiko Bencana (UN Disaster Risk Reduction).
Banjir adalah komponen bencana alam paling sering terjadi di seluruh dunia, mencapai 40 persen dibanding bencana lain.
UNDRR menyebut banjir sebagai penyebab kerugian ekonomi terbesar di sektor infrastruktur dan komunitas. Perkiraan kerugian dilaporkan mencapai AUD2,2 Miliar (Rp23 triliun) akibat banjir di Australia termasuk akibat bencana Topan Alfred, banjir di NSW serta Queensland yang terjadi April sebelumnya.
Berdasarkan rekapitulasi data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), banjir awal Maret 2025 di Jabodetabek menimbulkan kerusakan dan kerugian senilai hampir Rp1,7 triliun.
Sebagai perbandingan sepanjang 2024, DKI Jakarta menghadapi 1.810 kasus bencana (tidak hanya banjir) dengan total kerugian mencapai Rp442 miliar. Ini menunjukkan terjadi perburukan tingkat keparahan akibat banjir yang diikuti naiknya kerugian akibat bencana tersebut.
Menurut perkiraan Kantor Menteri Koordinator Perekonomian, kerugian ekonomi langsung akibat banjir tahunan di pesisir Jakarta mencapai Rp2,1 triliun per tahun. Kerugian ini dapat terus meningkat hingga mencapai Rp10 triliun per tahun dalam 10 tahun mendatang jika tidak ada penanganan serius.
Kehilangan daya tarik investasi karena banjir
Laporan ASEAN Weekly Disaster Update periode 30 Juni - 6 Juli 2025 mencatat 28 bencana di wilayah ASEAN, termasuk banjir, tanah longsor, dan badai di Indonesia, Filipina, dan Thailand. Ini menunjukkan bahwa ancaman cuaca ekstrem adalah fenomena global yang meluas.
Dengan perubahan iklim yang makin parah, ilmuwan menyepakati konsensus perubahan cuaca yang juga makin ekstrem.
Selain curah hujan yang secara tiba-tiba dapat turun dalam debit sangat besar dibanding catatan normal, dampak lainnya dapat berwujud kekeringan akut, topan dan siklon yang makin sering, serta gelombang panas diikuti suhu yang terus naik dari angka normal.
Untuk menghindari jatuhnya korban kerugian maupun jiwa yang terus bertambah tiap tahun, dibutuhkan investasi sangat besar.
Laporan Global Assessment Report (GAR) 2025 dari UNDRR menyebut investasi sistematis adalah kunci. Pendanaan ini penting melibatkan kolaborasi pemerintah, swasta, dan lembaga keuangan internasional, termasuk penggunaan instrumen keuangan inovatif seperti debt-for-resilience swaps dan integrasi ketahanan dalam perencanaan keuangan nasional.
Inggris misalnya, menginvestasikan £2,4 miliar (sekitar Rp52 triliun) untuk tahun 2024-2025 dan 2025-2026 guna membangun, memelihara, dan memperbaiki pertahanan banjirnya.
Hitungan UNDRR menunjukkan tiap dolar dana yang diinvestasikan dalam adaptasi dan ketahanan bencana akan kembali dalam bentuk kegiatan ekonomi senilai US$2-US$10 yang berarti investasi ani-bencana sangat menguntungkan secara ekonomi dan sosial.
Di negara berkembang seperti Indonesia, dana sebesar ini nyaris mustahil didapatkan tanpa campur tangan internasional dan pihak swasta.
Akibatnya pabrik, kantor, toko, pasar, jalan raya, jembatan, perumahan dan lokasi lain yang terendam banjir akan terus mencatatkan kerugian dan pertumbuhan negatif dari tahun ke tahun. Jika dibiarkan, makin lama Indonesia akan makin kehilangan keunggulan komparatifnya sebagai lokasi investasi global.