Survei tahunan Schneider Electric bertajuk Green Impact Gap mengungkap bagaimana perusahaan menjadikan keberlanjutan sebagai strategi menghadapi tantangan ekonomi. Salah satu alat yang digunakan untuk ambisi keberlanjutan tersebut adalah kecerdasan buatan (AI).
"Perusahaan di Indonesia menjadikan keberlanjutan sebagai langkah strategis untuk terus bertumbuh di tengah situasi bisnis yang penuh dinamika," ujar Martin Setiawan, President Director Schneider Electric Indonesia & Timor Leste dalam keterangannya, Jumat (28/11).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Dalam situasi ekonomi yang penuh tantangan di kawasan ini, para pelaku bisnis bergerak lebih awal memanfaatkan digitalisasi dan AI untuk meningkatkan efisiensi operasional, mengurangi risiko, dan menciptakan nilai jangka panjang," tambahnya.
Teknologi AI semakin terbukti membantu perusahaan di Indonesia dalam mengelola risiko finansial dan konsumsi energi.
Survei ini mengungkap 48 persen perusahaan di Indonesia telah menerapkan AI untuk mendukung ambisi keberlanjutan. Hal ini menunjukkan potensi awal teknologi ini sebagai akselerator keberlanjutan.
Kemudian, sebanyak 37 persen perusahaan menggunakan AI untuk mengoptimalkan proses dan pemanfaatan sumber daya, menjadikannya sebagai teknologi digital yang paling banyak diterapkan untuk keberlanjutan. Angka tersebut melonjak signifikan setelah sebelumnya di 2024 menempati posisi keempat.
Selain itu, perusahaan Indonesia menilai bahwa manfaat terbesar dari penerapan AI untuk keberlanjutan terletak pada otomatisasi pengumpulan dan pelaporan data (49 persen), optimasi konsumsi energi (43 persen), serta dukungan untuk desain dan pengembangan produk (47 persen).
Pemanfaatan AI untuk optimasi energi ini secara langsung menjawab risiko energi yang terus berulang, di mana hampir 45 persen perusahaan di Indonesia masih menyebut bahwa fluktuasi harga energi sebagai risiko utama. Hal ini masih menjadi sebuah tren yang konsisten sejak 2023 di seluruh negara yang disurvei.
survei ini juga menyoroti bagaimana industri memandang inovasi dan daya saing sebagai pendorong utama. Dari seluruh sektor, pelaku industri pusat data menjadi yang paling banyak menyebut hal tersebut suara dari 51 persen responden, naik dari tahun sebelumnya di 48 persen.
Selain itu, 65 persen menyatakan bahwa investasi pada inovasi dan teknologi menjadi kebutuhan mendesak untuk menghadapi lonjakan permintaan daya komputasi di Indonesia, sekaligus memastikan operasional yang lebih efisien dan rendah emisi.
Di tengah meningkatnya diskusi global mengenai kebutuhan energi untuk AI, sebanyak 37 persen pemimpin bisnis di Indonesia mengaku telah menerapkan kebijakan green IT untuk menurunkan jejak karbon dari proses komputasi dan penyimpanan data.
Pada saat yang sama, hambatan dekarbonisasi terus menurun, termasuk berkurangnya laporan mengenai minimnya alternatif energi bersih (26 persen, turun dari 35 persen pada 2023), kurangnya sumber daya pendukung (21 persen, turun dari 26 persen), imaturitas teknologi energi bersih (33 persen, turun dari 45 persen), serta hambatan regulasi (31 persen, turun dari 41 persen).
Perkembangan ini menunjukkan iklim yang semakin kondusif bagi percepatan transformasi keberlanjutan di berbagai sektor.
Meski komitmen perusahaan Indonesia terhadap keberlanjutan terus menguat, survei ini juga menunjukkan adanya 'Green Impact Gap', sebuah kesenjangan antara target keberlanjutan dan aksi nyata untuk mencapainya.
Tahun ini, 97 persen perusahaan di Indonesia memiliki target keberlanjutan, namun kurang dari separuh yang telah mengambil langkah komprehensif untuk mencapainya. Kesenjangan ini konsisten berada di sekitar 48 persen sejak 2023.
(lom/dmi)