Prediksi Awal Ramadhan 2026, Ada Kemungkinan Berbeda?

CNN Indonesia
Selasa, 13 Jan 2026 09:00 WIB
Ilustrasi. Peneliti BRIN, Thomas Djamaluddin, memprediksi perbedaan awal Ramadan 1447 Hijriah pada 18 atau 19 Februari 2026, tergantung kriteria hilal yang digunakan. (Foto: CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Jakarta, CNN Indonesia --

Peneliti Pusat Riset Antariksa Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Thomas Djamaluddin, memperkirakan akan terjadi perbedaan penetapan awal Ramadan 1447 Hijriah atau puasa 2026.

Perbedaan ini dipicu oleh perbedaan kriteria penentuan hilal yang digunakan sejumlah pihak.

Thomas menjelaskan, pada saat maghrib 17 Februari 2026, posisi hilal di wilayah Asia Tenggara belum memenuhi kriteria MABIMS yang digunakan pemerintah, yakni tinggi minimal 3 derajat dan elongasi 6,4 derajat.

Karena itu, menurut kriteria tersebut, 1 Ramadan 1447 Hijriah diperkirakan jatuh pada 19 Februari 2026.

"Secara astronomi pada maghrib 17 Februari 2026 di wilayah Asia Tenggara, posisi hilal belum memenuhi kriteria MABIMS. Kriteria yang digunakan oleh pemerintah dan sebagian besar ormas Islam, sehingga awal 1 Ramadan jatuh pada 19 Februari 2026," ujar Thomas dalam video di kanal YouTube-nya, Sabtu (20/12).

Namun, ia menambahkan, sebagian ormas Islam menggunakan kriteria Turki yang mensyaratkan tinggi hilal minimal 5 derajat dan elongasi 8 derajat.

Berdasarkan kriteria tersebut, posisi hilal di wilayah Amerika, khususnya Alaska, sudah memenuhi syarat pada 17 Februari 2026, sehingga awal Ramadan ditetapkan pada 18 Februari 2026.

"Ada potensi perbedaan awal Ramadan, ada yang 19 Februari, dan ada yang 18 Februari," kata Thomas.

Hingga kini, pemerintah melalui Kementerian Agama (Kemenag) belum menetapkan awal Ramadan 1447 Hijriah.

Penetapan resmi biasanya dilakukan melalui sidang isbat yang melibatkan ahli astronomi, perwakilan ormas Islam, dan ulama.

Sementara itu, Muhammadiyah telah menetapkan 1 Ramadan 1447 Hijriah jatuh pada 18 Februari 2026.

Perbedaan ini disebabkan oleh metode yang digunakan, di mana Muhammadiyah memakai hisab hakiki wujudul hilal, sedangkan pemerintah bersama Nahdlatul Ulama mengutamakan metode rukyat atau pengamatan langsung hilal.

Dengan perbedaan pendekatan tersebut, penetapan awal Ramadan versi pemerintah berpotensi sama atau berbeda dengan hasil hisab Muhammadiyah.

(wpj/dmi)


KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK