Cahaya Merah dan Dentuman di Cianjur Fenomena Apa? Ini Kata Pakar

CNN Indonesia
Selasa, 13 Jan 2026 14:30 WIB
Fenomena cahaya merah dan dentuman keras di Cipanas, Cianjur, diduga akibat bolide. Penjelasan ilmiah menyebutkan tidak ada kaitan dengan cuaca ekstrem.
Ilustrasi. Fenomena cahaya merah dan dentuman keras di Cipanas, Cianjur, diduga akibat bolide. Penjelasan ilmiah menyebutkan tidak ada kaitan dengan cuaca ekstrem. (Foto: ANTARA FOTO/YULIUS SATRIA WIJAYA)
Jakarta, CNN Indonesia --

Cahaya merah disertai dentuman keras yang terdengar di langit kawasan Cipanas, Kabupaten Cianjur, pada Senin (5/1) menimbulkan tanda tanya di tengah masyarakat. Fenomena apa itu?

Peristiwa yang terjadi sekitar pukul 22.15 WIB itu dilaporkan warga sebagai kilatan cahaya berwarna kemerahan yang muncul sesaat sebelum terdengar suara ledakan cukup keras.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dosen Departemen Geofisika dan Meteorologi IPB University Sonni Setiawan menjelaskan bahwa hasil analisis data cuaca menunjukkan fenomena tersebut tidak berkaitan dengan badai petir.

"Kondisi atmosfer saat kejadian terpantau normal dan tidak menunjukkan adanya cuaca ekstrem," ujarnya, mengutip laman resmi IPB University, Jumat (9/1).

Ia menambahkan, pemantauan seismograf juga tidak menemukan aktivitas seismik maupun vulkanik. Menurut dia data juga tidak menunjukkan peningkatan aktivitas Gunung Gede maupun pergerakan sesar di kawasan Gunung Gede-Pangrango yang dapat dikaitkan dengan kejadian tersebut.

Dengan kondisi cuaca dan seismik yang normal, Sonni menegaskan bahwa dentuman dan kilatan cahaya itu tidak disebabkan oleh aktivitas vulkanik, gempa bumi, maupun badai petir.

Meski demikian, secara ilmiah masih terdapat kemungkinan lain. Menurut Sonni, salah satu fenomena alam yang paling mungkin menjelaskan kejadian tersebut adalah bolide.

"Salah satu fenomena alam yang paling mungkin adalah bolide atau bola api," jelasnya.

Bolide merupakan peristiwa masuknya meteoroid berukuran relatif besar ke atmosfer Bumi dengan kecepatan tinggi. Gesekan dengan atmosfer menyebabkan meteoroid terbakar cepat dan menghasilkan kilatan cahaya terang menyerupai meteor.

"Jika ukurannya cukup besar, meteoroid dapat meledak di atmosfer dan menimbulkan gelombang kejut sonik yang terdengar sebagai dentuman keras oleh warga di permukaan," paparnya.

Ia menjelaskan, kilatan cahaya yang terlihat juga dapat muncul akibat proses ablasi dan ionisasi atmosfer yang memicu pelepasan energi elektromagnetik.

Penjelasan ini sejalan dengan kajian Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG).Sonni menambahkan bahwa fenomena serupa pernah terjadi di wilayah Cirebon beberapa bulan lalu.

"Sebuah meteor dilaporkan mencapai permukaan Bumi dan menyebabkan kerusakan pada sebagian atap rumah warga," katanya.

Meski mengarah pada fenomena bolide, Sonni menegaskan bahwa dugaan tersebut masih memerlukan klarifikasi lanjutan.

"Untuk memastikan penyebab pastinya, diperlukan pengamatan langsung serta temuan lapangan di lokasi kejadian, termasuk kemungkinan adanya jejak material meteorit," tutup Sonni.

(wpj/dmi)


[Gambas:Video CNN]