Pakar Ungkap 'Komet Besar' Segera Melintasi Bumi, Simak Jadwalnya

CNN Indonesia
Rabu, 14 Jan 2026 08:15 WIB
Astronom mengamati komet baru C/2025 R3, yang diprediksi dapat terlihat tanpa alat bantu. Komet ini akan mendekati Bumi pada April 2025.
Ilustrasi. Astronom mengamati komet baru C/2025 R3, yang diprediksi dapat terlihat tanpa alat bantu. Komet ini akan mendekati Bumi pada April 2025. (Foto: REUTERS/Borja Suarez)
Jakarta, CNN Indonesia --

Para astronom mulai menyoroti kemunculan komet baru yang diprediksi berpotensi menjadi "Komet Besar" tahun ini dan bisa disaksikan langsung tanpa alat bantu.

Komet tersebut kini berada di jalur lintasan yang mengarah orbit Bumi, dengan perhitungan menunjukkan bahwa ia akan mencapai jarak terdekatnya dengan Bumi dalam waktu kurang dari empat bulan. Menurut para astronom, hal ini membuka peluang pengamatan langka.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Komet tersebut diberi nama C/2025 R3, ditemukan oleh para ilmuwan pada 8 September 2025 dalam gambar yang diambil oleh Panoramic Survey Telescope and Rapid Response System (Pan-STARRS), sepasang teleskop reflektor berdiameter 1,8 meter yang terletak di puncak gunung berapi Haleakalā di Hawaii.

"Komet itu saat ini berjarak sekitar 348 juta kilometer dari Bumi, yang kira-kira setengah jalan antara orbit Jupiter dan Mars," menurut TheSkyLive.com, mengutip Live Science, Senin (12/1).

C/2025 R3 adalah komet berperiode panjang, artinya kemungkinan membutuhkan lebih dari 1.000 tahun untuk mengorbit Matahari dan kemungkinan berasal dari Awan Oort, sebuah reservoir besar komet dan benda-benda beku lainnya di tepi Sistem Tata Surya.

Para astronom belum menentukan jalur orbit komet ini secara pasti, sehingga periodenya belum diketahui. Namun, penemuan serupa dalam beberapa tahun terakhir telah mengungkap komet yang belum melewati Bumi selama puluhan ribu tahun.

C/2025 R3 saat ini sedang melaju menuju Matahari dan akan mencapai perihelion, titik terdekatnya dengan bintang kita pada 20 April. Pada titik ini, komet tersebut akan berjarak hanya 76,3 juta kilometer dari Matahari, di antara orbit Merkurius dan Venus.

Seminggu kemudian, pada 27 April, komet tersebut akan mencapai titik terdekatnya dengan Bumi, melintas pada jarak 70,8 juta kilometer dari planet kita, melebih dari 180 kali jarak ke Bulan.

Menurut laporan Space, para astronom belum mengetahui seberapa terang komet tersebut akan bersinar selama melintas dekat Matahari.

Beberapa peneliti memprediksi bahwa komet tersebut akan mencapai magnitudo tampak 8, artinya hanya dapat dilihat melalui teleskop yang memadai atau sepasang teropong bintang.

Namun, peneliti lain memperkirakan bahwa komet tersebut dapat mencapai magnitudo 2,5, yang akan membuatnya terlihat dengan mata telanjang. Magnitudo tampak diukur pada skala logaritmik terbalik, artinya angka yang lebih rendah menunjukkan kecerahan yang lebih besar.

Kapan bisa lihat komet ini?

Menurut para pakar, waktu terbaik untuk mengamati komet C/2025 R3 kemungkinan besar adalah menjelang perihelion, sekitar 17 April, ketika Bulan baru akan menggelapkan langit malam, sehingga objek-objek yang berada di ambang batas visibilitas mata telanjang menjadi lebih mudah dilihat.

Namun, saat komet mencapai titik terdekatnya dengan Bumi, komet tersebut mungkin tertutupi oleh Matahari, sehingga lebih sulit untuk dilihat. Mereka yang berada di belahan selatan Bumi juga mungkin dapat melihat komet dengan jelas pada awal Mei.

Apakah komet tersebut dapat dilihat dengan mata telanjang atau tidak kemungkinan tergantung fenomena forward scattering yang terjadi ketika komet berada tepat di antara Bumi dan Matahari, seperti yang akan terjadi pada C/2025 R3.

Forward scattering adalah sebuah fenomena fisika di mana gelombang (cahaya, elektron) dihamburkan atau dibelokkan pada sudut yang sangat kecil, sehingga sebagian besar energi gelombang terus bergerak ke arah depan, mirip seperti difraksi atau refraksi pada sudut kecil, yang membuat objek di depan tampak lebih terang atau terlihat lebih jelas.

Jika hal ini terjadi, ekor komet kemungkinan akan menyebarkan lebih banyak cahaya Matahari, sehingga meningkatkan kecerahannya.

Kecerahan sebuah komet juga bergantung pada bagaimana komet tersebut merespons peningkatan radiasi matahari. Saat komet mendekati Matahari, ia menyerap lebih banyak cahaya Matahari, menyebabkan es dan gas yang terperangkap dilepaskan, yang kemudian memantulkan cahaya Matahari ke arah Bumi.

Namun, masih terlalu dini untuk memprediksi secara pasti bagaimana hal ini akan mempengaruhi C/2025 R3.Menurut Space.com, selama perihelion dan lintasan dekat Bumi, komet C/2025 R3 akan berada di rasi bintang Pisces, tepat di bawah Persegi Besar Pegasus.

(wpj/dmi)


[Gambas:Video CNN]