3 Teori Fisika yang Menjelaskan Perjalanan Isra Mi'raj
Keluar Dimensi Ruang Waktu
Thomas Djamaluddin, Profesor Riset Astronomi-Astrofisika Pusat Riset Antariksa, Organisasi Riset Penerbangan dan Antaraksa (ORPA), Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), sementara itu menjelaskan, Isra Mikraj merupakan perjalanan keluar dari dimensi ruang-waktu.
"Saya memandang [Isra Mikraj] perjalanan keluar dari dimensi ruang-waktu," ujarnya dalam webinar di kanal Youtube Alhidayah Badan Geologi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia percaya Nabi Muhammad keluar dari masa kini, masa lalu, dan masa depan yang mengikat makhluk.
Thomas memperkuat teorinya dengan pertemuan Nabi Muhammad dengan para nabi lain, yang dinilainya sebagai perjalanan menembus masa lalu.
Thomas berujar, pada dasarnya manusia hidup dan dibatasi dimensi ruang-waktu. Ketika mengendarai Buraq, Rasulullah sedang keluar dari dimensi tersebut.
"Jadi tidak perlu lagi bertanya, dan tidak relevan lagi bertanya di mana itu [pertemuan di langit yang ketujuh]. Sudah keluar dari dimensi ruang waktu," ujarnya.
Ia pun menyebut, langit ke tujuh yang jadi lokasi Sidratul Muntaha tempat menerima perintah salat lima waktu merupakan 'lambang batas yang tidak seorang manusia atau makhluk lain bisa mengetahui lebih jauh'.
Teori Anihilasi
Dikutip dari detikinet, peristiwa Isra Mikraj juga bisa dijelaskan berdasarkan kajian Fisika Kuantum, yakni Teori Anihilasi. Teori ini menjelaskan reaksi pembentukan energi sangat besar dari tumbukan materi dan antimateri.
Tim peneliti dari Universitas Negeri Malang, Hismatul Istiqomah, dan Muhammad Ihsan Sholeh dari Universitas Negeri Jember, menjelaskan teori ini dalam penelitian yang dipublikasikan di Academic Journal of Islamic Studies (AJIS) Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Curup, Volume 5 No 1 tahun 2020.
Menurut tim peneliti, tubuh Nabi Muhammad yang merupakan massa dari materi dihapus dengan massa antimateri dari Malaikat Jibril dan membentuk satu energi baru yang disebut sebagai Buraq. Secara fisika, Buraq bisa dipasangkan dengan konsep sinar gamma.
Ilustrasi. (Arsip NSF-DOE Observatorium Vera C. Rubin) |
Dengan demikian, peristiwa Isra secara fisika adalah Nabi Muhammad mengalami anihilasi, hilang materi fisiknya sebagai manusia dan menjadi energi cahaya.
Tim peneliti juga mengaitkan dengan konsep kesetaraan massa yang dirumuskan oleh Einstein. Materi dalam kondisi tertentu dapat diubah menjadi energi dan sebaliknya.
Setiap objek nyata di alam semesta terdiri dari materi submikroskopis yang dikenal sebagai atom, yang terdiri dari proton, neutron, dan elektron. Setiap materi memiliki antimateri di dalamnya.
Pandangan ini menunjukkan bahwa Buraq bukan subjek lain yang mengantarkan Nabi Muhammad SAW saat Isra, melainkan bagian dari dirinya sendiri.
Selain itu, reaksi anihilasi juga diklasifikasikan sebagai reaksi yang bisa berkebalikan dengan reaksi materialisasi. Energi yang sangat besar dapat dipecah kembali untuk membentuk materi dan antimateri yang semula bertumbukan.
Berdasarkan konsep fisika ini, setelah peristiwa Isra Mikraj, Nabi Muhammad dari termaterialisasi kembali ke bentuk fisik. Rasulullah dapat kembali normal menjadi sosok nyata yang dapat dirasakan dan dapat berkumpul dengan umatnya seperti biasa.
(blq/asr)
Ilustrasi. (Arsip NSF-DOE Observatorium Vera C. Rubin)