3 Teori Fisika yang Menjelaskan Perjalanan Isra Mi'raj
Isra Mi'raj merupakan perjalanan Nabi Muhammad SAW dari Masjid Al Haram di Makkah menuju Masjid Al Aqsa di Yerusalem, kemudian naik ke langit untuk menerima perintah salat dari Allah SWT.
Perjalanan ini hanya terjadi dalam waktu satu malam. Rasulullah bahkan sempat berjumpa dengan para nabi terdahulu kala melewati tujuh lapisan langit.
Peristiwa yang secara logika tak mungkin dilakukan ini ternyata memiliki penjelasan dari sudut pandang sains.
Saat melakukan Isra, atau perjalanan dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa, Rasulullah menunggangi Buraq (Burak), hewan yang diriwayatkan bertubuh lebih kecil dari kuda dan lebih besar dari bagal. Buraq melangkah sejauh matanya memandang.
Mengintip Google Maps, perjalanan dari dua masjid suci itu memiliki rute tersingkat 16 jam 37 menit jika dilakukan via darat menggunakan mobil. Jarak keduanya sendiri terbentang 1.471 km.
Setiba di Al Aqsa, Nabi Muhammad melaksanakan Mi'raj, yaitu naik ke Sidratul Muntaha di langit ketujuh untuk menerima perintah salat lima waktu. Selama perjalanan itu, Rasulullah bertemu dengan para pendahulunya, seperti Nabi Adam, Nabi Ibrahim, Nabi Musa, dan Nabi Isa.
Teori Relativitas Umum Einstein
Guru Besar Teori Fisika Institut Teknologi Surabaya (ITS) Agus Purwanto mengatakan, peristiwa Isra Mikraj bisa dijelaskan menggunakan teori relativitas umum Albert Einstein.
Teori itu menyatakan, objek yang dalam kondisi inersia bisa saling mempercepat terhadap acuan yang lain. Gravitasi jadi fokusnya karena bisa melengkungkan ruang dan waktu.
Agus menjelaskan, berdasarkan pendapat Edwin Hubble, selain jagat raya melengkung, alam semesta juga terus mengembang. Di masa lalu, alam semesta begitu kecil, padat, dan panas.
"Jika alam semesta diibaratkan balon, maka permukaan bola itulah ungkapan ruang lengkung dua dimensi. Artinya masih ada dimensi lain, yaitu alam immaterial yang keberadaannya di luar ruang dan waktu alam semesta," kata Agus, seperti dikutip situs Muhammadiyah.
Agus menyimpulkan, perjalanan Isra Mikraj berlangsung sangat singkat karena keberadaannya bukan lagi di alam semesta, melainkan di 'ruang ekstra' alias alam immaterial.
"Jadi perjalanan Rasulullah itu menembus dimensi yang lebih tinggi, yaitu langit yang gaib. Ini sudah berada di luar jangkauan ilmu pengetahuan," terang Agus.
Banyak ilmuwan yang berusaha menjelaskan Isra Mikraj menggunakan Teori Relativitas Khusus Einstein. Berdasarkan teori ini, cahaya diidentifikasi 300 ribu km per detik. Artinya, jika cahaya melingkar mengelilingi Bumi, maka satu detik saja sudah bisa mengelilingi Bumi sekitar 6 sampai 7 kali.
Agus memaparkan, jika memakai Teori Relativitas Khusus, Rasulullah belum keluar dari sistem Tata Surya.
"Kita asumsikan kejadian mulai ba'da (selepas) salat Isya atau jam 20.00 sampai jam 4.00 pagi menjelang Subuh. Jadi membutuhkan waktu 8 jam. Karena perjalanannya bolak-balik, maka antara pulang pergi memerlukan waktu yang sama 4 jam," katanya.
Karena Rasulullah menggunakan Buraq yang diyakini bergerak dengan kecepatan cahaya, maka Rasulullah dalam satu jam bisa menempuh jarak sampai 4.320.000.000 km. Jarak tersebut lebih pendek daripada jarak Neptunus yang merupakan planet terluar dengan Bumi.
Simak teori lainnya di halaman berikutnya..