Lukisan Gua Berusia 67.800 Tahun Ungkap Peran Anak dalam Seni Cadas
Penemuan lukisan gua berupa cap tangan berukuran kecil di gua batu gamping di Sulawesi Tenggara mengungkap fakta penting tentang kehidupan manusia purba. Lukisan berusia 67.800 tahun itu sebelumnya ditemukan di Leang Metanduno, Pulau Muna, Sulawesi Tenggara.
Peneliti di Pusat Riset Arkeometri Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Adhi Agus Oktaviana mengatakan ukuran sejumlah cap tangan itu hanya sekitar 10 × 14 sentimeter. Ini mengindikasikan bahwa pembuatnya bukan orang dewasa.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Skala tersebut menunjukkan jejak tangan anak-anak, yang secara fisik belum memiliki ukuran telapak seperti manusia dewasa.
"Cap tangan sekitar 10x14 cm itu kemungkinan cap tangan anak-anak. Dan itu bisa menunjukkan bahwa yang terlibat dalam gambar itu tidak hanya didominasi oleh orang dewasa. Jadi anak-anak kecil saja sudah terlibat dalam gambar itu," ujar Adhi di Kantor BRIN, Jakarta, Kamis (22/1).
Temuan ini memperkuat dugaan bahwa anak-anak terlibat langsung dalam proses pembuatan seni cadas. Mereka bukan sekadar hadir sebagai penonton dalam aktivitas ritual orang dewasa, melainkan menjadi bagian aktif dalam praktik simbolik masyarakat prasejarah.
Seni cadas tersebar sangat luas di Indonesia, mulai dari Kalimantan, Sulawesi, Maluku, hingga Papua. Kondisi ini membuat Indonesia kerap dianalogikan sebagai "galeri seni cadas raksasa" yang membentang dari barat ke timur Nusantara.
Peneliti menyebut, temuan cap tangan tidak hanya didominasi oleh satu wilayah atau kelompok usia. Di Sulawesi, misalnya, ditemukan variasi cap tangan dengan modifikasi bentuk jari, sementara di Kalimantan Timur terdapat cap tangan dengan pola titik dan garis di bagian dalam telapak tangan, menyerupai tato.
Para arkeolog menjelaskan bahwa tangan merupakan bagian tubuh yang paling mudah digunakan sebagai medium ekspresi visual. Selain itu, keterlibatan anak-anak memperkuat dugaan bahwa praktik ini bersifat universal dan lintas usia.
Cap tangan anak-anak juga ditemukan di berbagai situs lain, termasuk di Maluku dan Papua, bahkan pada konteks balita.
Fakta ini memperlihatkan bahwa seni cadas kemungkinan besar merupakan aktivitas komunal yang melibatkan seluruh anggota kelompok.
Fenomena Global
Motif cap tangan bukan hanya ditemukan di Indonesia. Pola serupa juga dijumpai di Eropa, Australia Utara, hingga Amerika Selatan seperti Argentina.
Hal ini menguatkan pandangan bahwa seni cadas, khususnya cap tangan, merupakan bentuk ekspresi simbolik yang berkembang secara luas dalam sejarah manusia.
Namun, beberapa ciri tetap bersifat khas lokal. Di Sulawesi, misalnya, ditemukan cap tangan dengan jari runcing atau dimodifikasi, sementara di Australia terdapat stencil benda seperti bumerang dan kapak.
Sebelumnya, para peneliti baru-baru ini berhasil menemukan lukisan batu berbentuk cap tangan berusia 67.800 tahun di gua batu gamping di Sulawesi Tenggara.
Penelitian ini melibatkan tim kolaborasi internasional BRIN, Griffith University, dan Southern Cross University dari Australia. Lukisan cap tangan itu ditemukan di Leang Metanduno, Pulau Muna, Sulawesi Tenggara.
Penemuan ini dirilis dalam jurnal ilmiah internasional Nature, dengan judul 'Rock art from at least 67.800 years ago in Sulawesi'.
Para peneliti meyakini bahwa temuan ini merupakan seni cadas tertua yang pernah tertanggal secara andal, sekaligus membuktikan langsung bahwa manusia telah menyeberangi laut secara sengaja sejak hampir 70.000 tahun lalu.
Penemuan cap tangan berusia setidaknya 67.800 tahun ini juga menempatkan Indonesia sebagai salah satu pusat terpenting dalam sejarah awal seni simbolik dan penjelajahan laut manusia modern di dunia.
[Gambas:Video CNN]

