Monsun Asia Menguat, BMKG Sebut Cuaca Ekstrem Belum Usai

CNN Indonesia
Senin, 26 Jan 2026 07:11 WIB
Salah satu faktor penyebab cuaca ekstrem di Indonesia sejak pekan lalu adalah Monsun Asia.
Salah satu faktor penyebab cuaca ekstrem di Indonesia sejak pekan lalu adalah Monsun Asia. (CNN Indonesia/ Safir Makki)
Jakarta, CNN Indonesia --

Monsun Asia yang membawa suplai massa udara lembab dari Laut China Selatan disebut Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) sebagai salah satu faktor penyebab cuaca ekstrem berupa hujan lebat di berbagai wilayah Indonesia pekan lalu.

Monsun Asia dikatakan berkontribusi signifikan terhadap peningkatan pertumbuhan awan hujan di wilayah Indonesia bagian selatan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Angin ini bergerak ke wilayah Indonesia melalui Selat Karimata, serta diperkuat seruakan dingin (cold surge) dari dataran tinggi Siberia hingga melewati ekuator mencapai Pulau Jawa.

"Dalam sepekan ke depan, terdapat potensi peningkatan aktivitas monsun Asia disertai dengan Cross Equatorial Northerly Surge (CENS) yang diprediksi menguat, sehingga massa udara lembap lebih cepat dan mudah melewati ekuator menuju wilayah selatan Indonesia," tulis BMKG dalam laporan prospek cuaca mingguan, Jumat (23/1).

"Hal ini memberikan dampak pada peningkatan kejadian cuaca ekstrem di beberapa wilayah di selatan Indonesia, khususnya Sumatera Bagian Selatan, Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara," jelas BMKG lagi.

Selain itu, Bibit Siklon Tropis 91S dan 92 P, dikatakan terpantau di Samudra Hindia area selatan Nusa Tenggara Barat dan Teluk Carpentaria. Bibit siklon ini membentuk serta memperkuat daerah konvergensi dalam skala luas di wilayah selatan Indonesia, meliputi Pulau Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Maluku bagian Selatan hingga Papua Selatan bagian Selatan.

BMKG memprakirakan cuaca Indonesia selama sepekan ini, 26-29 Januari 2026, juga dipengaruhi dinamika atmosfer global.

El Niño-Southern Oscillation (ENSO) menguat pada fase negatif yang mengindikasikan La Niña lemah, dengan nilai Southern Oscillation Index (SOI) cenderung positif. Kondisi ini berpotensi meninggikan pasokan uap air pembentuk awan hujan di Indonesia, terutama bagian timur.

"Dengan memperhatikan faktor-faktor pendukung tersebut, potensi terjadi cuaca ekstrim diprediksi masih tinggi," kata BMKG.

Prospek Cuaca BMKG 26-29 Januari 2026

Cuaca di Indonesia umumnya didominasi oleh kondisi hujan ringan hingga hujan lebat. Perlu diwaspadai adanya peningkatan hujan dengan intensitas sedang-lebat yang terjadi di Aceh, Bengkulu, Lampung, DK Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Tengah, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Maluku Utara, Maluku, Papua Tengah dan Papua.

Selain itu, hujan dengan intensitas lebat yang dapat disertai kilat/petir dan angin kencang dapat terjadi, dengan kategori tingkat peringatan dini dan wilayah potensi kejadian sebagai berikut:

Siaga (Hujan lebat - sangat lebat): Banten, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat dan Papua Pegunungan.

Angin Kencang: Banten, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur.

(fea)


[Gambas:Video CNN]