Ekspedisi Laut Dalam BRIN-OceanX Temukan 14 Spesies Megafauna

CNN Indonesia
Selasa, 27 Jan 2026 11:29 WIB
Misi ini dilaksanakan pada 5-24 Januari 2026 dengan fokus pada penelitian biodiversitas laut, oseanografi, pengamatan laut.
Ilustrasi. ROV Program Lead OceanX, Andrew Craig, melaporkan dari kapal riset OceanXplorer bahwa selama misi berlangsung tim peneliti berhasil mengidentifikasi 14 spesies megafauna atau berukuran besar. ANTARA FOTO/Dewi Fajriani
Jakarta, CNN Indonesia --

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama organisasi eksplorasi laut global OceanX berhasil menyelesaikan misi penelitian laut dalam bertajuk "OCEANX-BRIN Collaborative Deep-sea Research and Capacity Building Program 2025 - Mission Leg 2".

Direktur Pengelolaan Armada Kapal Riset BRIN, Nugroho Dwi Hananto, mengatakan leg kedua misi ini dilaksanakan pada 5-24 Januari 2026 dengan fokus pada penelitian biodiversitas laut, oseanografi, pengamatan laut, serta fish aggregating device (FAD) atau rumpon.

"Berfokus pada biodiversitas (keanekaragaman hayati), oseanografi, dan juga pengamatan laut, serta fish aggregating device(FAD) atau yang lebih kita kenal rumpon," ujar Nogroho, mengutip laman BRIN, Selasa (27/1).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ia menegaskan, upaya mencapai kemandirian eksplorasi laut nasional memerlukan penguatan ekosistem kapal riset secara berkelanjutan, mulai dari armada, sumber daya manusia, hingga pendanaan.

Hal tersebut tergambar pada tahap akhir misi Leg 2 yang masih berlayar di perairan utara Sulawesi Utara menuju Pelabuhan Bitung hingga 24 Januari 2026.

ROV Program Lead OceanX, Andrew Craig, melaporkan dari kapal riset OceanXplorer bahwa selama misi berlangsung tim peneliti berhasil mengidentifikasi 14 spesies megafauna atau berukuran besar. Temuan tersebut terdiri atas 10 spesies mamalia laut, dua spesies hiu, dan dua spesies penyu.

Peneliti mamalia laut Pusat Riset Sistem Biota BRIN, Sekar Mira, menjelaskan sejumlah mamalia laut teridentifikasi melalui pengamatan udara menggunakan helikopter kapal, termasuk paus sperma dan paus berparuh.

"Bahkan, kami menjumpai Indopacetus pacificus(paus paruh Longman) yang jika terkonfirmasi akan menjadi catatan baru bagi daftar biodiversitas di perairan Indonesia," ungkap Sekar.

Selain observasi visual, penelitian ini juga memanfaatkan teknologi environmental DNA (eDNA) metabarcoding, metode yang memungkinkan deteksi keberadaan megafauna laut melalui jejak genetik di air tanpa kontak langsung dengan hewan.

"Kita, tuh, kayak lagi berburu paus tanpa membunuh paus, whaling tanpa harpoon. Harapannya, kita bisa mempelajari distribusinya, tidak hanya horizontal tapi juga secara vertikal," ujar Peneliti Pusat Riset Zoologi Terapan BRIN, Andhika Prima Prasetyo.

Ekspedisi ini turut didukung dua unit kapal selam berawak, yakni Nadir dan Neptune. Peneliti Indo Ocean Foundation, Ilham, menjelaskan Nadir difokuskan untuk dokumentasi visual dan media, sementara Neptune digunakan untuk kepentingan ilmiah.

Nadir merekam struktur komunitas biota di gunung bawah laut Sulawesi Utara melalui metode video transect. Adapun Neptune dilengkapi Niskin bottle untuk pengambilan sampel air, lengan robotik pengambil biota, serta bio box untuk menjaga spesimen selama proses analisis di laboratorium kapal.

Lead Scientist ekspedisi sekaligus Peneliti Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi BRIN, Pipit Pitriana, menilai ekspedisi ini memperkaya basis data biodiversitas perairan Sulawesi Utara yang penting sebagai dasar rekomendasi kebijakan konservasi.

Sementara itu, Wakil Kepala BRIN Amarulla Oktavian mengapresiasi pelaksanaan ekspedisi dan berharap fasilitas OceanX dapat menjadi referensi pengembangan kapal riset BRIN ke depan.

"Saya berharap hasil penelitian ini terdokumentasi dengan baik dan semua sampel disimpan di repositori ilmiah nasional sesuai aturan. Kita akan melanjutkan penelitian ini menggunakan kapal penelitian kita sendiri dengan peralatan standar yang tidak boleh kalah canggih," tegas Amarulla.

(mik/wpj/mik)


[Gambas:Video CNN]