'Ledakan' Populasi Ikan Sapu-sapu di Ciliwung, Pakar Ungkap Bahayanya
Peneliti Pusat Riset Limnologi dan Sumber Daya Air (PRLSDA) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Triyanto mengungkap lonjakan populasi ikan sapu-sapu yang tak terkendali bisa merusak keseimbangan ekosistem sungai.
"Jika populasinya terus meningkat tanpa kendali, ikan sapu-sapu berpotensi mengganggu keseimbangan ekosistem sungai. Dominasi spesies invasif dapat mengurangi keanekaragaman ikan asli, mengubah rantai makanan, dan menurunkan nilai ekonomi perikanan lokal," katanya kepada CNNIndonesia.com, Selasa (28/1).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Triyanto menyebut belum ada riset khusus yang fokus pada perkembangan populasi ikan sapu-sapu di Sungai Ciliwung. Namun, sejumlah periset BRIN dan akademisi memberi perhatian pada pada fenomena alien species atau spesies introduksi yang menjadi masalah di berbagai perairan Indonesia, termasuk di Ciliwung.
Meski BRIN belum memiliki data kuantitatif resmi terkait lonjakan populasi ikan sapu-sapu di sungai tersebut, tetapi indikasi keberadaannya memang semakin sering dilaporkan masyarakat dan beberapa peneliti.
Salah satu riset yang menyinggung soal populasi ikan tersebut adalah riset pada 2022 berjudul "Kandungan Nutrisi Abon Ikan Sapu-sapu (Pterygoplichthys pardalis) Asal Sungai Ciliwung, Indonesia."
Studi tersebut dilakukan oleh Haninah, Handhini Dwi Putri, Dewi Elfidasari, dan Irawan Sugoro dari Program Studi Biologi, Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Al Azhar Indonesia serta Pusat Aplikasi Isotop dan Radiasi (PAIR), Badan Teknologi Nuklir Nasional (BATAN).
Dalam riset ini disebut ikan sapu-sapu yang populasinya melimpah di Sungai Ciliwung belum dimanfaatkan dengan baik.
Menurut studi lain oleh Daisy Wowor pada 2010, komunitas ikan di Sungai Ciliwung telah didominasi oleh ikan sapu-sapu dan ikan tersebut dijadikan sebagai salah satu sumber protein penduduk setempat.
Lebih lanjut, Triyanto mengatakan ikan sapu-sapu dikenal sangat adaptif terhadap kondisi lingkungan yang terdegradasi.
Menurutnya, kualitas air yang menurun, tingginya kandungan organik, serta perubahan ekosistem sungai akibat pencemaran dan sedimentasi justru memberi ruang bagi spesies ini untuk berkembang.
"Sifatnya yang mampu bertahan di kondisi ekstrem membuat populasinya cenderung meningkat ketika ikan lokal yang lebih sensitif mengalami penurunan," tuturnya.
Ikan sapu-sapu memiliki kulit tubuh yang sangat keras, sehingga lebih tahan dari predator, sehingga hampir bisa dibilang tidak memiliki predator alami untuk perairan di Indonesia.
Asal usul ikan sapu-sapu
Triyanto menjelaskan bahwa ikan sapu-sapu (Hypostomus plecostomus) dan kerabatnya berasal dari Amerika Selatan, khususnya daerah tropis di Brasil dan sekitarnya.
Awalnya, ikan ini masuk ke Indonesia melalui perdagangan ikan hias. Namun, banyak yang kemudian dilepas atau terlepas ke perairan umum, baik sengaja maupun tidak.
Di sungai, ikan sapu-sapu berperan sebagai spesies invasif. Mereka bersaing dengan ikan lokal untuk ruang dan sumber daya, serta dapat menekan populasi ikan asli karena sifatnya yang agresif dan dominan di dasar perairan.
"Hal ini sesuai dengan keluhan warga bahwa keberadaannya menggeser ikan lokal yang sebelumnya lebih banyak ditangkap," terangnya.
Ikan ini memiliki telur yang cukup banyak, bisa mencapai 1.000-5.000 telur. Selain itu, proses perkembangannya sangat dijaga oleh ikan jantan sehingga kelulusan hidup anakannya di alam sangat besar.
Dikarenakan populasinya tidak dimanfaatkan secara masif oleh masyarakat, perkembangan populasi ikan ini terus meningkat.
Proses reproduksi ikan ini dinilai cepat. Ikan sapu-sapu mencapai dewasa atau dapat bereproduksi sekitar 6-12 bulan.
Dengan melihat potensi dampaknya terhadap ekosistem perairan, Triyanto menyarankan beberapa langkah pengendalian. Berikut langkah-langkah yang bisa diterapkan oleh sejumlah pihak:
- Monitoring rutin oleh lembaga riset dan pemerintah daerah untuk memetakan distribusi dan kepadatan populasi.
- Edukasi masyarakat agar tidak melepas ikan ikan non asli ke perairan umum.
- Pengelolaan habitat sungai dengan memperbaiki kualitas air, sehingga ikan lokal yang lebih sensitif dapat kembali berkembang.
- Kajian pemanfaatan alternatif agar populasinya bisa ditekan melalui pemanfaatan. Misalnya, sebagai bahan pakan ikan/ternak atau produk lainnya
- Program penangkapan massal dengan melibatkan warga masyarakat
[Gambas:Video CNN]

