Lubang Mirip Sinkhole di Aceh Makin Besar, Ini Penjelasan Pakar

CNN Indonesia
Senin, 02 Feb 2026 07:30 WIB
Fenomena lubang raksasa di Pondok Balik, Aceh Tengah, meluas dan mengancam perkampungan. Badan Geologi ESDM menyebutnya mirip sinkhole dengan mekanisme berbeda. (Foto: ANTARA FOTO/Abiyyu)
Jakarta, CNN Indonesia --

Fenomena lubang raksasa di Pondok Balik, Kecamatan Ketol, Aceh Tengah, semakin meluas dan berpotensi mengancam area perkampungan warga.

Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menilai fenomena ini mirip dengan sinkhole, tapi memiliki sisi berbeda.

"Fenomena sinkhole (lubang amblesan) memang identik dengan batuan gamping (karst), namun kejadian di Pondok Balik, Ketol, Aceh Tengah, membuktikan bahwa material vulkanik juga memiliki kerentanan serupa, meski dengan mekanisme yang sedikit berbeda," kata Plt Badan Geologi ESDM Lana Saria, melansir Detik, Minggu (1/2).

Menurut Badan Geologi gerakan tanah di lubang raksasa itu sudah berlangsung cukup lama. Batuan, kemiringan lereng, dan aliran irigasi juga membuat potensi lubang makin luas.

Menurut informasi dari warga setempat, gerakan tanah sudah terjadi sejak beberapa tahun yang lalu dan masih berkembang sampai sekarang terutama pada musim hujan.

"Batuan dasar berupa batuan vulkanik yang didominasi oleh tufa yang bersifat loose (lepas), porous (sarang), kemiringan lereng sangat terjal hampir tegak serta terdapat drainase berupa saluran irigasi di bagian selatan yang berpotensi air meluap pada saat hujan besar atau meresap," ujar dia.

Batuan di lubang raksasa itu menjadi gembur karena lereng tak satbil dan kondisi air. Penyebab lubang semakin meluas juga karena proses pengikisan tebing ke arah samping oleh aliran air, yang memperlebar tebing atau lembah.

"Hal ini membuat lereng tidak stabil dan jenuh air, sehingga batuan menjadi gembur dan berat massa batuan bertambah, ditambah dengan adanya erosi lateral oleh rembesan air yang berada pada bagian lembah lereng menyebabkan terjadinya longsoran dan runtuhan batuan," kata Lana.

"Selama penyebabnya berupa aliran air di bawah permukaan tidak bisa dihentikan, maka berpotensi adanya perluasan," jelas dia menambahkan.

Muncul sejak tahun 2000

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Aceh Tengah menyatakan fenomena pergerakan longsoran tanah di wilayah Kampung (desa) Bah Kecamatan Ketolitu terus membesar sejak diketahui pertama kali sekitar tahun 2000-an.

"Beberapa sumber menjelaskan bahwa lubang kecil sudah mulai terbentuk sejak awal tahun 2000-an. Di mana pergerakan tanah terus terjadi secara bertahap sejak 2004," kata Kepala BPBD Aceh Tengah, Andalika, Kamis (15/1) seperti dikutip dari Antara.

Dia menjelaskan, sejauh ini memang belum ditemukan literasi pasti yang dapat menjelaskan awal mula terjadinya longsoran tanah berbentuk lubang dan terus membesar tersebut.

Tetapi, kata dia, setelah terjadi pergerakan awal sejak 2000-an sampai 2004. Kemudian berdasarkan laporan dari masyarakat sekitar 2006 longsoran tersebut sudah pernah memutus akses jalan Blang Mancung-Simpang Balik (penghubung Kabupaten Aceh Tengah - Bener Meriah).

Bahkan, pernah terjadi relokasi tempat tinggal masyarakat di Kampung Bah Serempah ke Kampung Serempah Baru pada tahun 2013-2014.

"Rehabilitasi dan rekonstruksi yang dilakukan sebanyak tiga tahapan di periode tahun tersebut," ujarnya.

Dia menjelaskan, sejauh ini memang belum ditemukan literasi pasti yang dapat menjelaskan awal mula terjadinya longsoran tanah berbentuk lubang dan terus membesar tersebut.

Tetapi, kata dia, setelah terjadi pergerakan awal sejak 2000-an sampai 2004. Kemudian berdasarkan laporan dari masyarakat sekitar 2006 longsoran tersebut sudah pernah memutus akses jalan Blang Mancung-Simpang Balik (penghubung Kabupaten Aceh Tengah - Bener Meriah).

Bahkan, pernah terjadi relokasi tempat tinggal masyarakat di Kampung Bah Serempah ke Kampung Serempah Baru pada tahun 2013-2014.

"Rehabilitasi dan rekonstruksi yang dilakukan sebanyak tiga tahapan di periode tahun tersebut," ujarnya.

(dmi/dmi)


KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK