HP Diprediksi Segera Punah, Teknologi Penggantinya Mulai Bermunculan

CNN Indonesia
Selasa, 03 Feb 2026 08:00 WIB
Ilustrasi. Perusahaan teknologi global memprediksi kacamata pintar akan menggantikan smartphone. CEO Meta dan Alibaba bersaing dalam inovasi perangkat wearable ini. (Foto: CNN Indonesia/Hesti Rika)
Jakarta, CNN Indonesia --

Sejumlah perusahaan teknologi global mulai memposisikan kacamata pintar sebagai perangkat komputasi generasi berikutnya, yang berpotensi menggantikan sebagian fungsi smartphone.

Para bos raksasa teknologi seperti Mark Zuckerberg dan Elon Musk sejak beberapa tahun belakangan sudah memprediksi bahwa handphone yang selama ini kita gunakan akan segera punah.

CEO Meta Mark Zuckerberg menjelaskan bagaimana kacamata pintar akan menggantikan ponsel dalam waktu dekat. Di acara Meta Connect pada 2024, Zuckerberg memprediksi miliaran orang yang saat ini menggunakan kacamata biasa akan beralih ke kacamata pintar.

"Sama seperti semua orang yang beralih ke telepon pintar, saya pikir semua orang yang berkacamata akan segera beralih ke kacamata pintar dalam dekade berikutnya." ujarnya, dikutip dari Forbes.

Tahun 2026 diprediksi menjadi momentum penting bagi kebangkitan kacamata pintar. Perangkat wearable ini dinilai mampu menghadirkan interaksi yang lebih natural dengan kecerdasan buatan (AI), sekaligus menawarkan kemudahan akses informasi tanpa harus menggenggam layar ponsel.

Dalam sebuah wawancara, CEO Rokid Misa Zhu menjelaskan bahwa agar kacamata pintar dapat benar-benar diterima secara luas, industri harus menyelesaikan tantangan mendasar yang ia sebut sebagai "segitiga mustahil".

"Tantangan tersebut mencakup keseimbangan antara kualitas tampilan, daya tahan baterai, dan kenyamanan pemakaian," ujar Zhu melansir Android Police, selasa (20/1).

Menurut Zhu, terobosan pada tiga aspek tersebut kemungkinan baru akan tercapai dalam tiga hingga lima tahun ke depan. Jika berhasil, kacamata pintar dapat berfungsi sebagai layar besar saat dibutuhkan, asisten AI yang selalu aktif, sekaligus tetap nyaman digunakan layaknya kacamata biasa.

Meski sering disebut sebagai pengganti ponsel pintar, Zhu menilai kacamata pintar belum sepenuhnya akan menggantikan smartphone dalam waktu dekat.

Dalam tiga tahun ke depan, perangkat ini masih akan berperan sebagai aksesori. Namun, setelah lima tahun, posisinya berpotensi berubah secara signifikan.

"Mereka mungkin masih menjadi aksesori dalam tiga tahun ke depan, tetapi akan ada perubahan setelah tiga hingga lima tahun, dan sangat mungkin mereka tidak akan lagi menjadi aksesori setelah lima tahun," jelas Zhu.

Perangkat ini dinilai lebih ideal untuk menjalankan konsep "AI aktif", terutama dalam skenario seperti navigasi GPS, notifikasi instan, hingga interaksi singkat dengan asisten AI.

Langkah menuju era pasca-smartphone ini mulai terlihat dengan kehadiran produk komersial. Rokid, perusahaan asal China yang telah satu dekade mengembangkan kacamata pintar dan headset augmented reality, resmi membawa AI Glasses Style ke pasar Amerika Serikat dan Jerman melalui Amazon pada Januari lalu.

Kacamata pintar tersebut dibekali baterai 210mAh, bobot 38,5 gram, kamera 12 megapiksel dengan kemampuan perekaman video 3K, serta speaker dan mikrofon terintegrasi.

Perangkat ini mendukung panggilan hingga lima jam dan pemutaran musik hingga enam jam. AI Glasses Style juga dilengkapi ChatGPT 5.2 untuk perintah audio dan visual, serta Microsoft Translator dengan dukungan terjemahan offline lebih dari 100 bahasa. Produk ini dipasarkan dengan harga US$299 (Rp5.023.300).

Di sisi lain, raksasa teknologi China Alibaba juga bersiap memasuki pasar kacamata pintar. Perusahaan tersebut mengumumkan Quark AI Glasses, yang akan diluncurkan di China pada akhir 2025. Perangkat ini ditenagai model bahasa besar Qwen dan asisten AI bernama Quark.

Alibaba memandang wearable, khususnya kacamata pintar, sebagai batas baru komputasi yang sejajar dengan smartphone.

Melansir CNBC, perusahaan yang bermarkas di Hangzhou ini merupakan salah satu pemimpin di bidang kecerdasan buatan (AI) di China, secara agresif meluncurkan model-model baru dengan kemampuan yang dapat bersaing dengan perusahaan-perusahaan Barat seperti OpenAI.

Melalui Quark AI Glasses, pengguna nantinya dapat melakukan panggilan tanpa tangan, streaming musik, terjemahan bahasa real-time, hingga transkripsi rapat.
Kacamata ini juga dilengkapi kamera dan terintegrasi dengan ekosistem layanan Alibaba, termasuk navigasi, pembayaran Alipay, dan belanja di Taobao.

Masuknya Alibaba membuat persaingan kacamata pintar semakin ketat, terutama dengan kehadiran Meta yang bekerja sama dengan Ray-Ban, serta produsen China lain seperti Xiaomi.Dalam waktu dekat, Google dan Samsung juga disebut-sebut akan meluncurkan kacamata pintar mereka sendiri.

Dengan semakin banyaknya pemain besar yang terjun ke kategori ini, sinyal pergeseran dari era smartphone ke perangkat wearable kian terlihat.

Meski ponsel pintar belum akan sepenuhnya ditinggalkan, kemunculan kacamata pintar menunjukkan bahwa teknologi penggantinya perlahan mulai mengambil bentuk.

(wpj/dmi)


KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK