Studi: Deforestasi Bikin Nyamuk Makin 'Haus Darah' Manusia
Sebuah studi baru mengungkap berkurangnya hutan atau deforestasi dan punahnya satwa liar membuat nyamuk semakin 'haus darah' karena bergantung pada darah manusia dan meningkatkan risiko penularan penyakit menular.
Studi yang terbut dalam jurnal Frontiers mengungkapkan bahwa hilangnya habitat mendorong nyamuk lebih sering menggigit manusia, sehingga memperbesar peran mereka dalam penyebaran penyakit seperti Zika, demam kuning, dan demam berdarah.
Menurut studi tersebut, deforestasi dan aktivitas manusia lainnya secara signifikan mengurangi populasi tumbuhan dan hewan lokal di daerah-daerah tersebut. Di sisi lain, populasi manusia di wilayah tersebut terus meningkat.
"Nyamuk yang biasanya memakan inang lain di habitat tersebut dapat beralih ke manusia jika habitat tersebut tidak lagi cocok untuk inang-inang tersebut dan mereka meninggalkan habitat tersebut," ujar Laura Harrington, seorang profesor entomologi dari Cornell University, mengutip ABC News, Kamis (15/1).
Hasil studi awal menunjukkan bahwa darah manusia ditemukan secara luas pada sembilan jenis nyamuk di dua wilayah yang sebelumnya tidak berpenghuni di negara bagian Rio de Janeiro, Brasil.
Wilayah ini dulunya merupakan bagian dari Hutan Atlantik, yang mencakup area seluas 502.000 mil persegi. Namun, saat ini luasnya telah menyusut menjadi hanya 29 persen dari ukuran aslinya akibat deforestasi dan pembangunan.
Para peneliti mengacu pada studi sebelumnya yang menunjukkan bahwa wilayah dengan deforestasi yang lebih parah memiliki populasi nyamuk yang lebih tinggi dan tingkat penyakit yang ditularkan oleh nyamuk yang lebih tinggi, karena habitat yang terganggu lebih menguntungkan spesies yang berkembang biak di dekat manusia.
Pada saat yang sama, penurunan keanekaragaman hayati menghilangkan hewan yang dapat mengurangi penularan penyakit, sehingga manusia lebih mungkin menjadi sumber darah utama.
Sérgio Lisboa Machado, salah satu penulis studi dan profesor di Universitas Federal Rio de Janeiro di Brasil, mengatakan bahwa nyamuk adalah serangga oportunis yang tidak menjelajah jauh untuk mencari makanan.
"Jadi mereka mulai mencari manusia karena nyamuk jarang terbang sejauh itu. Mereka tidak akan menghabiskan banyak energi untuk mencari (sumber makanan lain)," kata Lisboa.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan bahwa lebih dari 17 persen dari semua penyakit menular disebabkan oleh penyakit yang ditularkan oleh vektor, yaitu penyakit yang ditularkan kepada manusia melalui organisme hidup seperti nyamuk, kutu, dan lalat. Serangga pengisap darah ini menyebabkan lebih dari 700.000 kematian di seluruh dunia.
Menurut WHO, nyamuk saja dapat menularkan puluhan penyakit serius kepada manusia, sehingga dianggap sebagai hewan paling mematikan di Bumi.
Menurut para peneliti yang menjadi penyebabnya adalah nyamuk betina. Menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC), mereka harus mengisap darah untuk mendapatkan protein dan zat besi yang diperlukan untuk mengembangkan telur mereka.
"Ada dorongan reproduksi yang membuat mereka memakan darah, dan jika tidak ada inang lain, kebanyakan nyamuk akan memakan darah manusia," ungkap Harrington.
Nyamuk jantan berbunyi, tetapi mereka tidak menggigit. Sebaliknya, mereka memakan nektar dan gula tumbuhan.
Harrington mengatakan bahwa ada 3.500 spesies nyamuk di seluruh dunia, dengan catatan bahwa hanya sedikit yang benar-benar lebih menyukai rasa darah manusia daripada darah hewan lain. Ketika diberi pilihan, hanya beberapa spesies nyamuk yang secara teratur mencari manusia.
"Ini adalah hal yang sudah kita ketahui sejak lama. Ide bahwa memanipulasi lanskap dapat mengubah pola makan nyamuk dan terkadang memindahkan pola makan tersebut ke arah manusia," tutup Harrington.