Berkaca dari Gempa Pacitan M6,2, Kapan Megathrust Pecah di RI?
Gempa megathrust berkekuatan Magnitudo 6,2 mengguncang Pacitan, Jawa Timur pada Jumat dini hari (6/2). Getaran gempa bahkan terasa hingga Bantul dan Sleman.
Direktur Gempabumi dan Tsunami BMKG Daryono memastikan gempa di Pacitan merupakan kategori megathrust. Hal tersebut diketahui dari mekanisme gempa yang berupa pergerakan naik atau thrust fault yang identik dengan aktivitas megathrust di selatan Pulau Jawa.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Gempa Pacitan ini jenis gempa megathrust, yang tergambar dari mekanismenya yang berupa pergerakan naik (thrusting) dengan kedalaman dangkal," kata Direktur Gempabumi dan Tsunami BMKG Daryono, Jumat (6/2).
"Patut disyukuri bahwa gempa pacitan ini tidak mencapai magnitudo 7,0 karena dapat berpotensi tsunami," lanjut dia.
Guncangan gempa ini dirasakan cukup luas di sejumlah wilayah di Pulau Jawa. Daerah Bantul, Sleman dan Pacitan dilaporkan mengalami intensitas IV MMI, di mana getaran dirasakan oleh banyak orang di dalam rumah.
Sementara itu, wilayah lain seperti Kulon Progo, Trenggalek, Wonogiri, Malang, Cirebon, Blitar, Surakarta, Karanganyar, Magelang, Jombang, Tulungagung, Ponorogo, Magetan, Nganjuk, Wonosobo, dan Banjarnegara merasakan getaran skala intensitas III MMI yang dianalogikan seperti truk yang sedang melintas di depan rumah.
Sedangkan wilayah Tuban dan Jepara merasakan getaran dengan skala intensitas II MMI atau getaran dirasakan oleh beberapa orang, benda-benda ringan yang digantung bergoyang.
Berkaca dari peristiwa di Pacitan ini, lantas kapan megathrust pecah?
Zona megathrust merupakan daerah pertemuan antar-lempeng tektonik Bumi di zona subduksi atau titik di mana satu lempeng meluncur ke bawah lempeng lain, yang umumnya berada di lautan.
Megathrust berpotensi menghasilkan gempa kuat dan memicu tsunami dahsyat. Zona ini diperkirakan dapat 'pecah' secara berulang dengan jeda waktu hingga ratusan tahun.
Daryono, pada 2024, sempat merilis pernyataan yang menyebut bahwa gempa di dua zona megathrust di Indonesia, Megathrust Selat Sunda dan Mentawai-Siberut, tinggal menunggu waktu.
Ia meyakini dua zona itu 'tinggal menunggu waktu' untuk pecah, karena keduanya sudah lama tak melepaskan energinya. Kedua segmen megathrust itu terakhir kali gempa lebih dari dua abad silam.
Megathrust Selat Sunda, yang punya panjang 280 km, lebar 200 km, dan pergeseran (slip rate) 4 cm per tahun, tercatat pernah 'pecah' pada 1699 dan 1780 dengan Magnitudo 8,5.
Megathrust Mentawai-Siberut, dengan panjang 200 km dan lebar 200 km, sertaslip rate 4 cm per tahun, pernah gempa pada 1797 dengan M 8,7 dan pada 1833 dengan M8,9.
Dua megathrust yang 'tinggal menunggu waktu' itu masuk dalam zona seismic gap atau zona sumber gempa potensial tapi belum terjadi gempa besar dalam masa puluhan hingga ratusan tahun terakhir. Zona ini diduga sedang mengalami proses akumulasi medan tegangan/stress kerak Bumi.
Kendati begitu, para pakar mengatakan bahwa gempa yang bersumber dari megathrust sampai saat ini belum bisa diprediksi.
Daryono, dalam cuitannya di X, menegaskan meski gempa dari dua megathrust di Indonesia tinggal menunggu waktu, hal tersebut bukan berarti kejadiannya dapat diprediksi.
"Karena kejadian gempa memang belum dapat diprediksi, sehingga kami pun tidak tahu kapan akan terjadi. Kami katakan 'menunggu waktu' hal itu karena segmen-segmen sumber gempa di sekitarnya sudah release (tinggal segmen tersebut yang belum lepas)," urai Daryono.
Daryono juga mengatakan 'tinggal menunggu waktu' itu bukan berarti gempa mau terjadi dalam waktu dekat.
"Munculnya kembali pembahasan potensi gempa di zona megathrust saat ini bukanlah bentuk peringatan dini (warning) yang seolah-olah dalam waktu dekat akan segera terjadi gempa besar. Tidak demikian," kata Daryono.
"'Tinggal menunggu waktu' bukan berarti segera akan terjadi dalam waktu dekat," lanjut Daryono, mengklarifikasi kegaduhan tersebut, dalam unggahan di X.
Lebih lanjut, sejumlah studi mengungkapkan bahwa megathrust ini, termasuk yang berada di dekat Pulau Jawa, berpotensi memicu tsunami dengan ketinggian mencapai puluhan meter.
Oleh karena itu, Pulau Jawa, sebagai wilayah dengan jumlah penduduk terbesar di Indonesia, perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bahaya ini.
Foto: Basith Subastian/CNNIndonesiaINFOGRAFIS: Fakta-fakta Megathrust, Teror dari Lautan RI |
[Gambas:Video CNN]


Foto: Basith Subastian/CNNIndonesia