Mundur dari Ambisi Mars, Elon Musk Kini Mau Buat Kota di Bulan

CNN Indonesia
Selasa, 10 Feb 2026 12:47 WIB
Elon Musk mengalihkan fokus SpaceX dari Mars ke pembangunan kota di Bulan, menilai target ini lebih realistis dan dapat dicapai dalam waktu kurang dari satu dekade. (Foto: AFP/BRENDAN SMIALOWSKI)
Jakarta, CNN Indonesia --

Ambisi Elon Musk untuk membangun koloni manusia di Mars kini dikesampingkan. Pendiri SpaceX mengalihkan fokus perusahaannya ke target yang dinilai lebih dekat dan realistis, yakni membangun permukiman manusia di Bulan.

Dalam pernyataan di platform X pada Senin (9/2), Musk mengatakan SpaceX kini memprioritaskan pembangunan "kota yang dapat tumbuh secara mandiri di Bulan."

Menurutnya, target tersebut bisa dicapai dalam waktu kurang dari satu dekade, jauh lebih cepat dibandingkan rencana serupa di Mars yang diperkirakan membutuhkan waktu lebih dari 20 tahun.

"Prioritas utama adalah mengamankan masa depan peradaban dan Bulan bisa dicapai lebih cepat," tulis Musk dalam unggahannya.

Ia menjelaskan misi ke Mars hanya bisa dilakukan ketika Bumi dan Mars sejajar setiap 26 bulan dengan waktu perjalanan sekitar enam bulan. Sebaliknya, peluncuran ke Bulan bisa dilakukan setiap 10 hari dengan waktu tempuh sekitar dua hari.

Namun, Musk tidak menjelaskan lebih lanjut apa yang dimaksud dengan "kota yang dapat tumbuh secara mandiri" di Bulan, maupun apakah rencana tersebut sejalan dengan program eksplorasi Bulan yang tengah dikembangkan NASA.

Meski demikian, Musk menegaskan SpaceX tetap berkomitmen membangun kota di Mars dan akan mulai merealisasikannya dalam lima hingga tujuh tahun ke depan. Pernyataan ini menjadi koreksi dari target sebelumnya.

Pada Mei tahun lalu, Musk sempat menyebut SpaceX menargetkan pendaratan Starship tanpa awak di Mars paling cepat pada akhir 2026.

Penyesuaian ambisi luar angkasa Musk ini muncul tak lama setelah SpaceX mengakuisisi perusahaan kecerdasan buatan miliknya, xAI, pekan lalu. Langkah tersebut akan menggabungkan dua perusahaan paling ambisius Musk dan membentuk entitas swasta dengan valuasi sangat besar.

Selama lebih dari satu dekade, Musk dikenal vokal mempromosikan visi kolonisasi Mars. Sejak SpaceX berdiri pada 2002, Mars disebutnya sebagai tujuan utama perusahaan.

Dalam berbagai pidato di konferensi dirgantara maupun forum internal SpaceX, Musk berulang kali mengemukakan rencana ambisius untuk membangun peradaban manusia di Planet Merah sebagai langkah antisipasi terhadap potensi kiamat global.

Di sisi lain, NASA justru sejak lama menempatkan Bulan sebagai target utama. Fokus ini semakin menguat sejak masa jabatan pertama Presiden Donald Trump, ketika Wakil Presiden saat itu, Mike Pence, menyatakan AS akan kembali mengirim astronaut ke Bulan pada 2024.

Target tersebut gagal tercapai, dan kini NASA menargetkan pendaratan manusia di Bulan pada 2028, yang akan menjadi misi pertama sejak program Apollo berakhir pada 1972.

Menariknya, Musk sebelumnya kerap mengkritik program Bulan NASA yang dikenal sebagai Artemis. Pada awal tahun lalu, ia bahkan menyebut Bulan sebagai "gangguan."

"Tidak, kita langsung ke Mars. Bulan adalah distraksi," tulis Musk kala itu di X, dikutip dari CNN.

Perubahan arah Musk ini terjadi di tengah dinamika politik yang juga semakin menonjol dalam beberapa tahun terakhir.

Musk telah menggelontorkan dana sekitar US$290 juta untuk pemilihan presiden AS, mendukung Trump, hingga sempat mendapat jabatan di Gedung Putih sebelum hubungan keduanya merenggang dan kemudian membaik kembali pada akhir tahun lalu.

Kontroversi misi Bulan

Dalam program Artemis, NASA sebenarnya telah menyiapkan roket dan wahana antariksa untuk membawa astronaut ke orbit Bulan. SpaceX memegang kontrak hampir US$3 miliar untuk membangun wahana pendarat Bulan yang akan mengangkut astronaut dari orbit ke permukaan Bulan.

Untuk misi ini, SpaceX berencana menggunakan Starship, sistem roket dan pesawat luar angkasa terbesar yang pernah dibuat, kendaraan yang juga diklaim Musk dirancang khusus untuk misi ke Mars.

Namun, pengembangan Starship masih berada pada tahap awal dan kerap mengalami kegagalan uji coba. Hingga kini, Starship belum pernah menjalani penerbangan operasional ke orbit.

Peran Starship dalam program Artemis juga menuai sorotan. Tahun lalu, Menteri Transportasi AS Sean Duffy, yang sempat menjabat sebagai administrator sementara NASA, menilai SpaceX belum berada di jalur yang tepat untuk menyiapkan wahana pendarat Bulan tepat waktu.

Ia bahkan mengancam akan mengalihkan misi Artemis III ke pesaing SpaceX, Blue Origin.

Blue Origin, perusahaan antariksa milik Jeff Bezos, juga memegang kontrak miliaran dolar dari NASA untuk mengembangkan wahana pendarat Bulan. Bulan lalu, perusahaan tersebut mengumumkan penghentian sementara penerbangan wisata antariksa suborbitalnya demi memfokuskan sumber daya pada pengembangan pendarat Bulan.

NASA belum secara terbuka meninjau ulang kontrak pendarat Bulan Artemis III sejak administrator barunya, Jared Isaacman, dikonfirmasi pada Desember lalu. Isaacman dikenal sebagai sekutu Musk dan telah dua kali terbang ke orbit Bumi menggunakan kapsul SpaceX.

Pernyataan Musk soal fokus baru ke Bulan muncul di saat NASA bersiap meluncurkan misi berawak pertama Artemis, yakni Artemis II.

Misi ini akan membawa empat astronaut mengelilingi Bulan tanpa mendarat, sebagai tahap persiapan menuju pendaratan Artemis III. Artemis II dijadwalkan meluncur paling cepat pada Maret mendatang.

(lom/dmi)


KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK