Survei Ungkap Pengguna Mac Lebih Banyak Jadi Sasaran Serangan Siber

CNN Indonesia
Senin, 10 Agu 2026 12:03 WIB
Survei Kaspersky menunjukkan pengguna macOS lebih sering mengalami insiden keamanan siber dibandingkan Windows
Survei Kaspersky menunjukkan pengguna macOS lebih sering mengalami insiden keamanan siber dibandingkan Windows (Foto: Arsip Apple)
Jakarta, CNN Indonesia --

Survei terbaru Kaspersky menyebut pengguna macOS disebut lebih banyak mengalami sejumlah insiden keamanan siber dibandingkan pengguna Windows.

Survei tersebut menemukan 12 persen pengguna macOS melaporkan infeksi malware, lebih tinggi dibandingkan 9 persen pengguna Windows.

Namun, hanya 35 persen pengguna macOS yang memasang perangkat lunak keamanan khusus. Angkanya lebih rendah dibandingkan pengguna Windows yang mencapai 42 persen.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kaspersky menyebut pengguna Windows secara umum menerapkan lebih banyak langkah keamanan, sementara pengguna macOS sedikit lebih unggul dalam beberapa tindakan terkait privasi.

Perbedaan paling besar terlihat pada kebiasaan untuk tidak membuka email atau tautan mencurigakan.

Sebanyak 62 persen pengguna Windows mengaku menerapkan kebiasaan tersebut, sedangkan pada pengguna macOS angkanya 51 persen.

Pengguna Windows juga lebih banyak menggunakan kata sandi unik untuk setiap akun, yakni 38 persen dibandingkan 35 persen pada macOS.

Untuk penggunaan kata sandi kompleks, angkanya mencapai 52 persen pada Windows dan 45 persen pada macOS.

Sementara penggunaan autentikasi dua faktor atau multifaktor tercatat 51 persen pada Windows dan 46 persen pada macOS.

Dalam setahun terakhir, 12 persen responden pengguna macOS mengaku menjadi korban phishing melalui email, situs web, atau pesan palsu. Pada pengguna Windows, angkanya lebih rendah, yakni 9 persen.

Pengguna macOS juga lebih banyak melaporkan penipuan umum dan investasi, yakni 16 persen dibandingkan 13 persen pada Windows.

Pelanggaran privasi dilaporkan oleh 11 persen pengguna macOS dan 8 persen pengguna Windows.

Sementara pencurian data pribadi dilaporkan oleh 12 persen pengguna macOS, dibandingkan 7 persen pada Windows.

Kaspersky mengatakan penyerang terus mengembangkan berbagai jenis malware, termasuk pencuri data atau stealer dan spyware.

Teknik phishing juga masih digunakan untuk mendapatkan akses ke data pengguna.

Pakar keamanan siber Kaspersky Sergey Puzan mengatakan masih ada anggapan bahwa macOS secara inheren lebih aman karena jumlah penggunanya lebih sedikit atau karena sistem tersebut memiliki fitur keamanan bawaan. Namun, ia menyebut lanskap ancaman telah berubah.

"Ada stereotip yang mengakar bahwa macOS secara inheren lebih aman karena basis penggunanya lebih kecil," kata Puzan dalam keterangan resmi, Jumat (7/8).

Ia mengatakan penyerang kini menggunakan phishing dan serangan rantai pasok yang dapat menjangkau pengguna dari berbagai sistem operasi dalam satu kampanye.

Selain itu, menurut Puzan, terdapat berbagai keluarga malware yang secara khusus menyasar Mac.

"Akibatnya, perangkat apa pun yang terhubung ke internet-terlepas dari sistem operasi atau bentuk fisiknya-memerlukan perangkat lunak keamanan siber untuk melindungi diri dari berbagai ancaman siber," ujarnya.

Survei Kaspersky dilakukan pada Maret 2026 terhadap 7.200 responden dari 18 negara, termasuk Indonesia.

Negara lain yang tercakup dalam survei antara lain Brasil, China, Prancis, Jerman, India, Malaysia, Meksiko, Rusia, Arab Saudi, Thailand, Turki, dan Vietnam.

(lom)


[Gambas:Video CNN]