Bagaimana Cara Menentukan Hilal Awal Ramadhan 2026? Ini Penjelasannya
Awal Ramadhan di Indonesia seringkali mengalami perbedaan, karena perbedaan metode penentuan hilal. Simak penjelasannya berikut ini.
Penentuan hilal untuk awal bulan Hijriah, termasuk bulan Ramadhan, bisa dilakukan dengan dua cara, yakni dengan metode hisab atau perhitungan dan metode rukyat atau pengamatan. Kemudian, ada acuan ketinggian hilal juga dapat mempengaruhi awal dimulainya Ramadhan.
Tahun ini pun awal bulan Ramadhan berpotensi berbeda. Muhammadiyah sudah lebih dulu menetapkan 1 Ramadan 1447 Hijriah jatuh pada 18 Februari 2026.
Sementara, pemerintah baru akan menggelar sidang Isbat penetapan awal Ramadhan pada Selasa (17/2).
Metode hisab
Dikutip dari buku Pedoman Hisab Muhammadiyah Cetakan Kedua (2009), kata "hisab" berasal dari bahasa Arab yaitu "al hisab" yang artinya adalah perhitungan atau pemeriksaan. Sementara dalam bidang fikih, istilah ini berkaitan dengan penentuan waktu-waktu ibadah.
Hisab menggunakan hitungan numerik-matematik untuk menetapkan awal bulan Hijriyah tanpa verifikasi faktual atau rukyat hilal.
Dengan hisab, umat Islam dapat menghitung posisi-posisi geometris benda-benda langit untuk menentukan penjadwalan waktu di muka bumi, termasuk untuk menentukan bulan kamariah yang terkait dengan ibadah.
Singkatnya, hisab digunakan sebagai metode perhitungan waktu dan arah tempat dalam berbagai ibadah, seperti penetapan jadwal salat, waktu dimulainya puasa Ramadhan, Idul Fitri, pelaksanaan haji, dan lainnya.
Hingga saat ini, metode hisab masih digunakan oleh Muhammadiyah untuk menentukan awal bulan dalam kalender Hijriah. Hisab yang digunakan adalah hisab hakiki wujudul hilal dengan kriteria sebagai berikut:
- Telah terpenuhinya ijtimak (konjungsi). Ijtimak terjadi sebelum Matahari terbenam
- Pada saat terbenamnya Matahari, Bulan berada di atas ufuk.
- Apabila tiga kriteria itu terpenuhi, maka hari tersebut dianggap telah sah masuk dalam awal bulan Hijriyah.
Metode rukyat
Rukyat merupakan metode penentuan awal bulan Hijriah dengan cara mengamati hilal, yaitu bulan sabit tipis yang pertama kali tampak setelah terjadi ijtimak (konjungsi). Hal inilah yang bisa menyebabkan terjadinya beda hitungan hisab dan rukyat.
Pengamatan hilal bisa dilakukan dengan mata telanjang atau menggunakan alat bantu optik. Apabila hilal terlihat maka malam itu menandai awal bulan baru. Namun, visibilitas hilal ini akan dipengaruhi oleh jarak sudut antara Bulan dan Matahari.
Berdasarkan kriteria Danjon, hilal baru bisa terlihat dengan mata telanjang jika jaraknya minimal 7 derajat. Karena faktor cuaca dan keterbatasan pengamatan, sering kali alat optik seperti teleskop digunakan untuk meningkatkan akurasi.
Di Indonesia, Nahdlatul Ulama (NU) menjadikan metode ini sebagai pedoman utama yang terbagi menjadi tiga cara, yaitu:
- Kasatmata telanjang (bil fi'li): Hilal dapat terlihat langsung tanpa bantuan alat.
- Kasatmata teleskop: Hilal hanya bisa diamati dengan bantuan teleskop.
- Kasat-citra: Hilal terdeteksi melalui sensor atau kamera yang terhubung dengan alat optik.
Meski demikian, NU tidak sepenuhnya mengabaikan metode hisab. Metode hisab tetap digunakan sebagai alat bantu untuk memperkirakan waktu terbaik dalam melaksanakan rukyat. Dengan demikian, keduanya dapat saling melengkapi.
Perbedaan acuan hilal
Peneliti Pusat Riset Antariksa Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Thomas Djamaluddin mengatakan perbedaan acuan kriteria hilal diperkirakan membuat awal Ramadhan terbagi menjadi dua tahun ini, yakni pada 18 Februari dan 19 Februari.
Menurut Thomas, posisi hilal saat waktu maghrib 17 Februari belum memenuhi kriteria MABIMS yang digunakan pemerintah untuk menentukan awal bulan hijriah. Ketika waktu tersebut posisi hilal belum memenuhi tinggi minimal 3 derajat dan elongasi 6,4 derajat.
"Fakta Astronomi pada saat maghrib 17 Februari 2026 di wilayah Asia Tenggara, posisi hilal belum memenuhi kriteria MABIMS, kriteria yang digunakan oleh pemerintah dan sebagian besar ormas Islam, yaitu kurva kuning, ini tinggi minimal 3 derajat dan elongasi 6,4 derajat geosentrik," kata Thomas dalam video di kanal Youtube-nya, Sabtu (20/12).
"Ini di wilayah Amerika, sehingga di wilayah Asia Tenggara, termasuk Indonesia, belum memenuhi kriteria, sehingga 1 Ramadhan 1447 jatuh pada tanggal 19 Februari 2026," tambahnya.
Meski demikian, Thomas menyebut ada juga ormas Islam yang menggunakan kriteria Turki. Pada saat tersebut, di wilayah Amerika, sudah terpenuhi tinggi minimal 5 derajat dan elongasi 8 derajat.
Di wilayah Alaska, kata Thomas, posisi hilal sudah memenuhi kriteria menurut kriteria Turki. Dengan demikian, 1 Ramadhan 1447 Hijriah jatuh tanggal 18 Februari 2026.
"Jadi, ada potensi perbedaan Awal Ramadhan, ada yang 19 Februari, dan ada yang 18 Februari," katanya.
(lom/dmi)