Terungkap, Senjata AI Canggih AS untuk Gempur Iran

CNN Indonesia
Senin, 02 Mar 2026 14:23 WIB
Ilustrasi. Militer Amerika Serikat dilaporkan memakai model kecerdasan buatan (AI) milik Anthropic untuk mendukung serangan ke Iran akhir pekan lalu. (Foto: AFP/-)
Jakarta, CNN Indonesia --

Militer Amerika Serikat dilaporkan memakai model kecerdasan buatan (AI) milik Anthropic untuk mendukung serangan ke Iran akhir pekan lalu. Penggunaan teknologi ini tak lama setelah sebelumnya Presiden AS Donald Trump memerintahkan penghentian penggunaan teknologi tersebut di lembaga federal

Menurut sejumlah laporan, Claude digunakan dalam serangan udara besar-besaran yang dimulai, Sabtu (28/2). Militer AS memanfaatkan AI tersebut untuk keperluan intelijen, pemilihan target, hingga simulasi medan perang.

Melansir The Guardian, perintah penghentian penggunaan Claude disampaikan Trump dalam unggahan di Truth Social, pada Jumat (27/2), hanya beberapa jam sebelum operasi militer dimulai.


"Perusahaan AI sayap kiri radikal yang dikelola oleh orang-orang yang tidak tahu apa-apa tentang dunia nyata," ujar Trump mengecam Anthropic.

Serangan militer AS dan Israel dilaporkan menargetkan berbagai fasilitas militer Iran, termasuk di Teheran. Gambar satelit komersial memperlihatkan kerusakan di sejumlah pangkalan militer, pangkalan laut Konarak di selatan Iran, serta pangkalan udara dan fasilitas drone di wilayah yang sama.

Presiden Trump dalam unggahan media sosialnya menyatakan pasukan AS menenggelamkan sembilan kapal perang Iran, meskipun Komando Pusat AS belum mengonfirmasi jumlah tersebut dan hanya mengakui serangan terhadap kapal perang yang berlabuh di pelabuhan.

Iran membalas dengan meluncurkan drone dan rudal ke arah Israel serta instalasi militer AS di Bahrain, Kuwait, dan Qatar. Sebagian besar drone berhasil diintersepsi, meskipun sejumlah video di media sosial menunjukkan beberapa di antaranya menimbulkan kerusakan.

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmail Baghaei mengatakan kepada NPR bahwa Iran akan terus melawan "agresi dan dominasi asing."

Seorang pejabat Gedung Putih juga menyatakan kepada NPR bahwa Trump berencana berbicara dengan kepemimpinan sementara Iran "pada waktunya," namun untuk saat ini operasi AS di kawasan tersebut masih berlangsung "tanpa henti."

Perselisihan antara pemerintah AS dan Anthropic dipicu oleh laporan bahwa Claude sebelumnya digunakan dalam operasi Januari untuk menangkap Presiden Venezuela, Nicolás Maduro.Anthropic menyatakan penggunaan tersebut melanggar ketentuan layanan mereka yang melarang aplikasi untuk kekerasan, pengembangan senjata, maupun pengawasan.

Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth dalam unggahan panjang di X menuduh Anthropic melakukan "kesombongan dan pengkhianatan." Ia menegaskan bahwa "prajurit Amerika tidak akan pernah dijadikan sandera oleh kehendak ideologis Big Tech."

Hegseth juga menuntut akses penuh dan tanpa batasan terhadap seluruh model AI Anthropic untuk setiap tujuan yang sah secara hukum. Meski demikian, ia mengakui bahwa sistem militer telah terintegrasi luas dengan teknologi tersebut sehingga tidak mudah dipisahkan secara cepat.

Anthropic disebut masih akan menyediakan layanan "selama periode tidak lebih dari enam bulan untuk memungkinkan transisi yang mulus ke layanan yang lebih baik dan lebih patriotik."

Sejak ketegangan dengan Anthropic meningkat, perusahaan pesaing OpenAI disebut mengambil alih peran tersebut. CEO OpenAI, Sam Altman, menyatakan telah mencapai kesepakatan dengan Pentagon untuk menggunakan alat-alat perusahaannya, termasuk ChatGPT, dalam jaringan rahasia militer AS.

Tolak jadi alat surveilans

Anthropic menyatakan mendukung penggunaan AI untuk mempertahankan Amerika Serikat dan demokrasi lain dari musuh otoriter. Perusahaan itu mengklaim sebagai penyedia AI terdepan pertama yang mengimplementasikan modelnya di jaringan rahasia pemerintah AS dan Laboratorium Nasional, serta menyediakan model khusus untuk pelanggan keamanan nasional.

Claude disebut telah digunakan secara luas di Departemen Pertahanan dan lembaga keamanan nasional untuk analisis intelijen, pemodelan dan simulasi, perencanaan operasional, serta operasi siber.

Namun, Anthropic menegaskan ada dua batasan yang tidak dapat mereka terima.

Pertama, pengawasan massal di dalam negeri. Perusahaan menyatakan penggunaan AI untuk surveillans ini bertentangan dengan nilai demokrasi dan berisiko menggabungkan data publik menjadi profil komprehensif warga secara otomatis dalam skala besar.

Kedua, senjata otonom sepenuhnya yang menghilangkan peran manusia dalam pemilihan dan penyerangan target. Anthropic menilai sistem AI saat ini "terlalu tidak dapat diandalkan" untuk menggerakkan senjata sepenuhnya otonom dan tidak ingin menyediakan produk yang membahayakan prajurit maupun warga sipil Amerika.

Anthropic menyebut telah menawarkan kolaborasi penelitian dan pengembangan untuk meningkatkan keandalan sistem, namun tawaran tersebut tidak diterima.

Mereka juga mengungkapkan ancaman dari Departemen Pertahanan untuk menghapus perusahaan dari sistem militer dan bahkan menunjuknya sebagai "risiko rantai pasokan" jika tetap mempertahankan pengamanan tersebut.

"Kami tidak dapat, dengan hati nurani yang bersih, menuruti permintaan mereka," tegas perusahaan itu.

Meski demikian, Anthropic menyatakan siap memfasilitasi transisi yang lancar ke penyedia lain jika kontrak dihentikan dan memastikan tidak ada gangguan pada operasi militer yang sedang berlangsung.

(wpj/dmi)


KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK