Bom Israel ke Depot Minyak Iran Ubah Teheran Jadi 'Neraka' Beracun

CNN Indonesia
Selasa, 10 Mar 2026 07:10 WIB
Jakarta, CNN Indonesia --

Israel melancarkan serangan udara ke sejumlah kompleks penyimpanan bahan bakar atau depot minyak yang diklaim dipakai oleh militer Iran untuk mendukung infrastruktur mereka. Serangan ini ternyata memiliki dampak serius selain dari segi ekonomi dan energi.

Serangan jet tempur Israel di depot minyak Teheran pada Sabtu malam (7/3) memunculkan asap hitam tebal di langit.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Debu hitam menutupi jalanan dan mobil, sementara balkon-balkon dipenuhi lendir hitam. Udara beracun pun memenuhi paru-paru warga.

Menurut laporan The Guardian, warga menggambarkan situasi di rumah dan di jalan-jalan sebagai kondisi "apokaliptik".

Dengan Matahari tertutup oleh asap, banyak orang di ibu kota Iran harus menyalakan lampu pada siang hari agar dapat melihat melalui kegelapan. Empat depot minyak dan satu fasilitas logistik minyak di dan sekitar Teheran dilaporkan terkena serangan.

A man walks past a destroyed car as smoke rises after a reported strike on Shahran fuel tanks, amid the U.S.-Israeli conflict with Iran, in Tehran, Iran, March 8, 2026. Majid Asgaripour/WANA (West Asia News Agency) via REUTERS ATTENTION EDITORS - THIS PICTURE WAS PROVIDED BY A THIRD PARTY     TPX IMAGES OF THE DAYSeorang pria berjalan melewati mobil yang hancur sementara asap membubung setelah serangan dilaporkan terhadap tangki bahan bakar Shahran, di tengah konflik antara Amerika Serikat dan Israel dengan Iran, di Tehran, Iran, pada 8 Maret 2026. (Foto: via REUTERS/Majid Asgaripour)

Otoritas setempat mengatakan sedikitnya enam orang tewas dan 20 lainnya terluka di salah satu lokasi.

Bombardir Israel ke depot minyak itu memiliki dampak berbahaya bagi masyarakat, terlebih pada Minggu pagi (8/3) setelah serangan tersebut, wilayah ini diguyur hujan. Otoritas memperingatkan kemungkinan hujan asam beracun, ketika banyak warga bangun dengan tenggorokan sakit dan mata perih.

"Situasinya begitu mengerikan hingga sulit untuk dijelaskan. Asap telah menutupi seluruh kota. Saya mengalami sesak napas parah dan rasa terbakar di mata dan tenggorokan, dan banyak orang lain merasakan hal yang sama," kata seorang aktivis bernama samaran Negin dalam pesan suara kepada The Guardian.

Ia menambahkan bahwa banyak orang tetap harus keluar rumah karena tidak memiliki pilihan lain.

"Banyak tempat yang dibuka kembali hari ini, tetapi ditutup lagi karena tidak mungkin bertahan di luar ruangan," lanjutnya.

Negin mengatakan dirinya harus membeli masker dan inhaler untuk membantu pernapasan.

An explosion erupts following strikes near Azadi Tower close to Mehrabad International Airport in Tehran on March 7, 2026. The United States and Israel launched strikes against Iran on February 28, sparking swift retaliation by the Islamic republic which responded with missile attacks across the region. The war has dragged in global powers, upended the world's energy and transport sectors, and brought chaos to even usually peaceful areas of the volatile region. (Photo by ATTA KENARE / AFP)Ledakan meletus setelah serangan udara di dekat Menara Azadi, dekat Bandara Internasional Mehrabad di Tehran pada 7 Maret 2026. (Foto: AFP/ATTA KENARE)

"Bahkan masker pun kini sulit ditemukan. Ini adalah kesalahan besar. Saya meminta mereka yang memiliki kemampuan, terutama media asing, untuk merenungkan situasi ini. Apa yang harus dilakukan orang-orang dalam kondisi seperti ini? Ini benar-benar kejahatan terhadap kemanusiaan," ungkapnya.

Situasi yang sama juga digambarkan Mehdi, seorang pemilik restoran berusia 42 tahun di bagian barat kota. Ia mengatakan ketakutan warga terhadap gas beracun mengingatkannya pada masa pandemi Covid-19.

"Kami sangat takut bahkan untuk membersihkan jendela dan balkon. Ada debu di mana-mana dan kami bahkan tidak mau menyentuhnya dengan sarung tangan. Mata saya perih dan ada bau aneh di udara yang tidak bisa saya jelaskan," jelas Negin.

Ia bahkan mempertimbangkan meninggalkan kota karena khawatir air dan makanan tidak lagi aman.

"Percayalah, kami sendirian. Rezim ini tidak peduli pada kita, jadi mengapa aku harus memohon pada kekuatan asing untuk peduli pada kita?," katanya.

Badan Lingkungan Hidup Iran mengimbau warga Teheran untuk tetap berada di dalam rumah. Palang Merah Iran memperingatkan bahwa zat kimia beracun dapat menyebabkan hujan asam serta iritasi pada kulit dan paru-paru.

Warga juga diminta tidak menyalakan pendingin udara atau langsung keluar rumah setelah hujan.

Shahram Kordasti, hematolog dan onkolog Iran yang berbasis di Inggris, memperingatkan bahwa gas beracun dan partikel halus dapat menimbulkan dampak kesehatan serius.

Gas beracun dan partikel halus dapat mengiritasi mata dan saluran pernapasan, memperburuk asma dan penyakit paru-paru, memperparah penyakit jantung, serta meningkatkan risiko kanker tertentu.

Ancaman racun

Kebakaran di kilang atau depot minyak tidak cuma mengancam sektor ekonomi dan energi. Hampir di seluruh kasus kebakaran kilang minyak juga berdampak masif pada kerusakan lingkungan.

Para ahli lingkungan mengingatkan bahwa kebakaran di fasilitas minyak dapat melepaskan berbagai polutan berbahaya ke udara.

Menurut kajian lingkungan yang dikutip dari New Wildlife Federation, kebakaran atau ledakan kilang minyak biasanya melepaskan senyawa organik volatil (VOC), partikel halus PM2.5 dan PM10, serta partikel ultrahalus yang dapat menembus jauh ke dalam paru-paru.

Selain itu, gas berbahaya seperti oksida nitrogen (NOx), karbon monoksida (CO), dan sulfur dioksida (SO₂) juga dapat dilepaskan ke atmosfer.

Paparan polutan tersebut dapat menyebabkan gejala langsung seperti iritasi mata, batuk, dan kesulitan bernapas. Dalam jangka panjang, paparan berulang juga dapat meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular dan kanker.

Penelitian mengenai kebakaran kilang minyak di berbagai negara menunjukkan bahwa lonjakan polusi dalam waktu singkat dapat memperburuk kondisi kesehatan masyarakat di sekitar lokasi industri, terutama bagi anak-anak, lansia, dan penderita penyakit pernapasan.

Oleh karena itu, para pakar menilai bahwa kebakaran atau serangan terhadap fasilitas minyak tidak hanya berdampak pada ekonomi dan energi, tetapi juga menimbulkan ancaman kesehatan serius bagi masyarakat yang tinggal di sekitarnya.

(wpj/dmi)