Ahli Prediksi Lebaran Muhammadiyah dan Pemerintah Bakal Sering Berbeda

CNN Indonesia
Selasa, 17 Mar 2026 07:15 WIB
Peneliti BRIN Thomas Djamaluddin memprediksi perbedaan penetapan Idul Fitri antara pemerintah dan Muhammadiyah akan semakin sering terjadi.
Ilustrasi. Peneliti BRIN Thomas Djamaluddin memprediksi perbedaan penetapan Idul Fitri antara pemerintah dan Muhammadiyah akan semakin sering terjadi. (Foto: ANTARA FOTO/SIGID KURNIAWAN)
Jakarta, CNN Indonesia --

Peneliti Pusat Riset Antariksa BRIN Thomas Djamaluddin memprediksi perbedaan penetapan Idul Fitri antara pemerintah dan Muhammadiyah cukup besar dan kemungkinan akan semakin sering terjadi. Apa alasannya?

Menurutnya, penyebab utama perbedaan awal Ramadhan, Syawal, maupun Dzulhijjah di Indonesia bukan semata karena perbedaan metode hisab dan rukyat, melainkan karena perbedaan kriteria yang digunakan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Muhammadiyah kini menggunakan kriteria Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) yang merujuk pada sistem global seperti yang dikembangkan di Turki.

"Penggunaan KHGT yang secara resmi dimulai pada 1447/2026 berpotensi makin sering terjadi perbedaan awal Ramadhan, Syawal, atau Idul Fitri," jelas Thomas saat dihubungi CNNIndonesia.com pada Februari lalu.

KHGT merupakan kalender hijriah umat Islam yang berprinsip satu hari satu tanggal di seluruh dunia atau disebut juga Kalender Islam Global. Artinya, jatuhnya tanggal baru hijriah adalah pada hari yang sama di seluruh dunia.

Muhammadiyah, dalam laman resmi Suara Muhammadiyah, mengatakan bahwa KHGT diperlukan untuk menyatukan jumlahnya hari-hari ibadah umat Islam, terutama yang lintas kawasan.

Analisis lain menggunakan aplikasi Hisab Astronomis yang dikembangkan oleh Dewan Hisab dan Rukyat Persatuan Islam (Persis) juga menunjukkan potensi perbedaan Idul Fitri dapat terjadi hingga 2029 atau 1450 Hijriah. Meski demikian, pada periode tersebut awal Ramadan diperkirakan tetap sama.

Potensi perbedaan ini diperkirakan akan terus terjadi selama kriteria yang digunakan pemerintah dan Muhammadiyah tidak berubah.

"Ya. Dan akan semakin sering terjadi perbedaan," kata Thomas.

Di sisi lain, pemerintah masih menerapkan sidang isbat untuk memastikan awal bulan hijriah, termasuk Ramadhan dan Syawal.

Untuk menentukan awal bulan hijriah, pemerintah memakai kriteria Menteri-menteri Agama Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura (MABIMS).

Patokan utamanya adalah hilal dengan ketinggian 3 derajat dan elongasi atau Jarak sudut Bulan-Matahari 6,4 derajat. Di bawah angka-angka tersebut, belum dianggap masuk kriteria bulan hijriah baru.

Jika memenuhi kriteria MABIMS pada saat pengamatan di sore hari, maka esok harinya sudah diperhitungkan sebagai bulan hijriah baru.

(lom/dmi) Add as a preferred
source on Google


[Gambas:Video CNN]