April Sudah Masuk Kemarau, Kenapa Masih Hujan Deras?

CNN Indonesia
Selasa, 07 Apr 2026 06:40 WIB
Menurut BMKG awal musim kemarau berbeda-beda di wilayah Indonesia.
Menurut BMKG awal musim kemarau berbeda-beda di wilayah Indonesia. (CNN Indonesia/Safir Makki)
Jakarta, CNN Indonesia --

Sejumlah wilayah masih kerap diguyur hujan deras, padahal April merupakan awal musim kemarau.

Deputi Bidang Klimatologi BMKG Ardhasena Sopaheluwakan menyebut curah hujan yang masih tinggi di sejumlah wilayah sebagai karakteristik masa peralihan musim, dan intensitas curah hujan akan bergantung pada kapan musim kemarau di wilayah tersebut dimulai.

"Awal musim kemarau selalu berbeda-beda dari daerah ke daerah. Tidak semuanya bermula dari April," katanya kepada CNNIndonesia.com, Selasa (31/3).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

BMKG sendiri mencatat curah hujan tinggi di beberapa daerah pada periode 30 Maret hingga 1 April lalu.

Curah hujan tertinggi dengan intensitas sangat lebat terpantau di Maluku (134,3 mm/hari), sedangkan hujan dengan intensitas lebat juga terpantau di Sumatra Barat (86,6 mm/hari), Kalimantan Barat (58,3 mm/hari), Sumatra Utara (77,6 mm/hari), Sulawesi Selatan (76,0 mm/hari), Aceh (75,6 mm/hari), Gorontalo (60,5 mm/hari) dan Nusa Tenggara Barat ( 57,5 mm/hari).

Dalam Prospek Cuaca Mingguan Periode 3-9 April, BMKG menyebut kondisi ini dipicu oleh aktivitas gelombang atmosfer berupa gelombang Equatorial Rossby, Kelvin, dan Mixed Rossby-Gravity (MRG) yang masih berpengaruh di sejumlah wilayah, MJO spasial yang aktif di sebagian besar wilayah Sumatra, serta diperkuat oleh mulai beralihnya dominasi monsun Asia menjadi monsun Australia yang memicu terbentuknya pola sirkulasi dan konvergensi di beberapa wilayah.

Selain itu, perlambatan angin dan pemanasan siang hari yang cukup intens turut mendukung pertumbuhan awan konvektif.

Kemarau dimulai

Dalam pembaruan pada akhir Maret, BMKG menyebut sebanyak 7 persen zona musim (Z0M) di Indonesia telah memasuki musim kemarau.

Jumlah ini disebut akan terus bertambah secara signifikan dengan sebagian besar wilayah Indonesia diprediksi mulai memasuki musim kemarau pada April, Mei, dan Juni 2026.

Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani memaparkan beberapa wilayah yang telah memasuki musim kemarau adalah sebagian kecil wilayah Aceh, sebagian kecil wilayah Sumatera Utara, sebagian kecil Riau, sebagian Sulawesi Tengah, sebagian Sulawesi Selatan, sebagian Sulawesi Tenggara, sebagian kecil NTB, sebagian kecil NTT dan Maluku, serta sebagian kecil Papua Barat.

"BMKG akan terus memantau perkembangan dinamika iklim global dan regional serta menyampaikan pembaruan informasi secara berkala. Masyarakat diharapkan terus mengikuti informasi resmi yang disampaikan BMKG melalui berbagai kanal komunikasi yang tersedia," kata Faisal dalam keterangannya, Minggu (5/4).

Sebelumnya, BMKG menjelaskan sebanyak 114 zona musim (ZOM) atau sekitar 16,3 persen wilayah akan memasuki musim kemarau pada April.

Beberapa wilayah yang masuk musim kemarau pada periode tersebut adalah pesisir utara Jawa bagian barat, pesisir utara dan selatan Jawa Tengah, sebagian besar D.I Yogyakarta, sebagian Jawa Timur, sebagian Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, dan sebagian kecil Sulawesi Selatan.

Sementara itu, sebanyak 184 ZOM (26,3 persen) dan 163 ZOM (23,3 persen) baru akan memasuki musim kemarau pada Mei dan Juni.

Berdasarkan hasil analisis BMKG, puncak musim kemarau di sebagian besar wilayah Indonesia diprediksi terjadi pada bulan Agustus 2026, yang mencakup 429 ZOM atau sekitar 61,4 persen wilayah Indonesia. Wilayah lain akan mengalami puncak kemarau pada Juli (12,6 persen) dan September (14,3 persen).

Wilayah yang memasuki puncak musim kemarau pada Juli, meliputi sebagian wilayah Sumatra, Kalimantan bagian tengah dan utara, serta merambah ke sebagian kecil Jawa, Nusa Tenggara, Sulawesi, Maluku, hingga wilayah barat Pulau Papua.

(lom/fea) Add as a preferred
source on Google


[Gambas:Video CNN]