Perang Iran Lawan AS dan Israel, Bumi Makin Dekat 'Kiamat'
Perang tidak hanya menewaskan manusia dan menghancurkan rumah, tetapi juga merusak sistem-sistem vital bagi kehidupan mulai dari jaringan air, instalasi pengolahan limbah, lahan pertanian, pelabuhan, depot bahan bakar, hingga infrastruktur listrik.
Greenpeace, dalam laman resminya, menyatakan perang berkepanjangan mengakibatkan udara menjadi tercemar, tanah terkontaminasi, dan air tidak lagi aman dikonsumsi, bahkan lama setelah pertempuran berakhir. Berbagai penelitian konflik menunjukkan pola yang sama kebakaran, puing-puing beracun, sistem sanitasi yang rusak, serta runtuhnya sistem kesehatan masyarakat dan ekosistem.
Kerusakan lingkungan ini bukan kebetulan, melainkan bagian dari bagaimana perang mengubah kehidupan sehari-hari.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Beberapa hari setelah serangan pertama AS-Israel ke Iran, sektor energi langsung menjadi medan pertempuran. Serangan dan balasan menargetkan infrastruktur bahan bakar fosil, sementara Selat Hormuz berubah menjadi titik panas yang membuat puluhan kapal tanker terdampar di Teluk Persia.
Greenpeace Jerman memperingatkan bahwa satu tumpahan minyak saja di kawasan ini dapat menghancurkan habitat laut secara permanen, berdampak besar bagi masyarakat, flora, dan fauna.
Analisis Greenpeace Middle East and North Africa (MENA) menemukan kerusakan signifikan pada sistem air, sanitasi, pertanian, dan perikanan di Gaza. Dalam 120 hari pertama konflik saja, diperkirakan lebih dari setengah juta ton karbon dioksida dihasilkan.
Contoh lain terlihat di Sudan. Penelitian dari Conflict and Environment Observatory (CEOBS) menunjukkan perang memicu deforestasi, penurunan produktivitas pertanian, polusi industri, serta runtuhnya sistem kesehatan dan sanitasi, yang pada akhirnya mengganggu akses masyarakat terhadap pangan, air, dan energi.
Dampak perang tidak berhenti di medan tempur. Militer secara global menyumbang sekitar 5,5 persen emisi gas rumah kaca. Konflik memperparah angka ini melalui kebakaran, konsumsi bahan bakar, rekonstruksi, dan hilangnya infrastruktur publik.
Dengan kata lain, biaya lingkungan dari perang bersifat kumulatif merusak ekosistem hari ini sekaligus melemahkan kemampuan masyarakat menghadapi krisis iklim di masa depan.
Pelajaran dari sejarah
Sejarah menunjukkan bahwa dampak lingkungan akibat perang dapat berlangsung puluhan tahun.
Dalam Perang Vietnam, hampir 80 juta liter herbisida seperti Agent Orange disemprotkan, merusak sekitar 2,9 juta hektare lahan dan meninggalkan racun di tanah, air, serta rantai makanan. Di Irak, Program Lingkungan PBB (UNEP) memperingatkan risiko jangka panjang dari kontaminasi uranium dan racun perang lainnya.
Pelajaran dari Vietnam, Irak, Gaza, dan Ukraina jelas perang mencemari elemen dasar kehidupan tanah, air, udara dengan dampak lintas generasi.
Ukraina menjadi contoh nyata bagaimana perang modern merusak lingkungan. Bersama organisasi Ecoaction, Greenpeace memetakan hampir 900 kasus kerusakan lingkungan, termasuk yang diverifikasi melalui citra satelit.
Serangan rudal memicu kebakaran hutan, kebocoran racun dari lokasi industri, serta pencemaran tanah dan air. Lahan yang terdampak bahkan bisa menjadi tidak layak huni atau ditanami.
Selain itu, pendudukan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Zaporizhzhia memicu kekhawatiran global. Greenpeace memperingatkan bahwa pengoperasian kembali reaktor di bawah kontrol militer berisiko besar menyebabkan bencana nuklir.
(wpj/dmi) Add
as a preferred source on Google