Mahasiswa India Tipu Ribuan Pendukung Trump Pakai Wanita Hasil AI

CNN Indonesia
Jumat, 24 Apr 2026 08:30 WIB
Ilustrasi. Identitas asli Emily Hart, influencer MAGA, terungkap sebagai mahasiswa India. Ia menggunakan AI untuk menciptakan persona palsu dan meraup keuntungan. (Foto: REUTERS/DADO RUVIC)
Jakarta, CNN Indonesia --

Identitas asli Emily Hart, influencer pendukung gerakan Make America Great Again (MAGA) yang selama ini dikenal vokal di berbagai platform media sosial, akhirnya terbongkar. Siapa sebenarnya sosok Emily?

Sosok wanita pirang yang kerap mengunggah konten pro Donald Trump tersebut ternyata aslinya seorang mahasiswa laki-laki berusia 22 tahun asal India.

Menurut laporan Wired via The Independent, mahasiswa itu memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan untuk menciptakan persona palsu.

Emily dikonstruksi sedemikian rupa menggunakan generator gambar AI untuk menghasilkan foto-foto yang tampak nyata untuk menarik simpati dan dukungan dari kelompok konservatif. Akun tersebut 'meledak', dan Emily Hart berhasil mengumpulkan 10.000 pengikut dalam waktu sebulan.

Sam, nama samaran mahasiswa tersebut, mengatakan bahwa dirinya mulai mengunggah kontent tentang Emily Hart untuk mendapat uang tambahan selama studinya. Ia mengaku meraup ribuan dollar setiap bulannya dari akun Emily.

"Kelompok pendukung MAGA itu terdiri dari orang-orang bodoh, benar-benar bodoh. Dan mereka mudah tertipu," kata Sam, melansir The Independent, Jumat (24/4).

Sam mengaku rutin mengunggah konten yang menyentuh isu-isu panas di Amerika, mulai dari imigrasi hingga aborsi. Salah satu unggahannya bahkan menyerukan deportasi massal bagi imigran.

Sam mengaku membuat akun tersebut setelah mendapat ide untuk membuat dan menjual gambar-gambar hasil AI yang menampilkan wanit berbikini. Ia kemudian menggunakan Gemini AI untuk menciptakan sosok Emily.

Namun, Gemini menyarankan agar Sam mencari ceruk spesifik untuk menghindari persaingan ketat.

Ia kemudian memberikan beberapa pilihan kepada Gemini agar karakter Emily Hart terlihat lebih menarik. Platform kecerdasan buatan milik Google itu kemudian menyarankan agar sosok Emily masuk ke segmen MAGA/konservatif.

Platform AI itu juga mengatakan kepada Sam bahwa "audiens konservatif (terutama pria paruh baya di AS) sering kali memiliki pendapatan yang lebih besar dan setia".

Merespons hal ini, juru bicara Google mengatakan bahwa platform buatan mereka hanya menjawab permintaan pengguna tanpa menyampaikan keyakinan tertentu.

"Dan jika dimintai pendapat, ia seharusnya memberikan berbagai sudut pandat," kata juru bicara Google tersebut.

"Dalam contoh yang diberikan oleh Wired, Gemini ditanya tentang cara menjangkau audiens dengan keyakinan politik tertentu, dan ia menjawab sesuai dengan konteks tersebut," lanjutnya.

Tak cuma di media sosial, Sam turut memonetisasi sosok Emily Hart dengan menjual pernak-pernik seperti topi dan baju bertema MAGA. Ia juga mengeruk keuntungan lewat layanan konten berbayar di Fanvue, platform pesaing OnlyFans yang khusus monetisasi konten berbasis AI.

Sam tidak menyesali keputusannya membuat Emily Hart. Ua tidak merasa sedang "menipu orang-orang" dengan akun tersebut.

"Saya menghabiskan sekitar 30 hingga 50 menit setiap hari, dan saya mendapatkan penghasilan yang lumayan untuk seorang mahasiswa kedokteran," katanya.

"Di India, bahkan di pekerjaan profesional sekalipun, Anda tidak bisa mendapatkan uang sebanyak ini. Saya belum pernah melihat cara yang lebih mudah untuk menghasilkan uang secara online," lanjut dia.

Halaman Instagram milik Emily Hart diblokir pada Februari setelah dituduh melakukan aktivitas 'penipuan'. Facebook Page influencer yang dihasilkan oleh kecerdasan buatan tersebut juga telah dihapus oleh Meta.

(dmi/dmi)


Saksikan Video di Bawah Ini:

Perseteruan Donald Trump dengan Paus Leo XIV

KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK