Sempat Jadi Perantara, Eks Dewan OpenAI Jadi Saksi di Sidang Elon Musk

CNN Indonesia
Minggu, 10 Mei 2026 02:03 WIB
Ilustrasi. Mantan dewan OpenAI Shivon Zillis jadi saksi dalam sidang gugatan yang diajukan Elon Musk terhadap OpenAI. (AFP/STEFANO RELLANDINI)
Jakarta, CNN Indonesia --

Mantan dewan OpenAI, Shivon Zilis menjadi saksi dalam sidang gugatan yang diajukan Elon Musk terhadap OpenAI. Ia menjelaskan keterlibatannya dalam dinamika awal perusahaan serta komunikasi antara Musk dan pihak OpenAI.

Shivon Zilis merupakan anggota dewan OpenAI sejak 2016 hingga 2022. Ia juga pernah menjadi eksekutif di perusahaan mobil listrik Musk, Tesla, serta Neuralink. Berdasarkan peran Zilis di berbagai perusahaan Musk maupun OpenAI, ia menjadi saksi penting dalam persidangan.

Dalam kesaksiannya, Zilis mengatakan bahwa dirinya berperan penting dalam urusan Musk dengan OpenAI sejak awal perusahaan berdiri, termasuk diskusi pada tahun 2017 tentang potensi pembentukan struktur nirlaba untuk mendanai pengembangan AI.

Zilis juga mengungkapkan berbagai komunikasi yang terjadi melalui email, pesan singkat, dan catatan rapat yang dijadikan bukti di pengadilan. Salah satu opsi yang sempat muncul adalah mengembangkan perusahaan nirlaba atau meminta Tesla untuk mengakuisisi OpenAI sebagai solusi untuk masalah pendanaan OpenAI.

Hal itu mendorong pengacara OpenAI mencoba menunjukkan bahwa Zilis dan Musk membahas pembuatan entitas nirlaba untuk perusahaan AI tersebut.

Saat diinterogasi oleh pengacara Elon Musk, Zilis mengatakan bahwa banyak kemungkinan pendanaan yang berbeda telah dibahas, termasuk memberikan Musk saham mayoritas di OpenAI.

Namun, ia menegaskan bahwa kelompok orang yang terlibat dalam diskusi itu tidak pernah membicarakan rencana mengganti OpenAI dari organisasi nirlaba menjadi perusahaan profit.

Sementara itu, fakta lain yang turut terungkap adalah Zilis memiliki hubungan pribadi dengan Elon Musk dan memiliki anak bersama. Ia memiliki anak kembar yang lahir melalui program bayi tabung pada 2021, serta kemudian dikarunia dua anak tambahan.

Setelah Musk meninggalkan dewan direksi OpenAI dan berhenti memberikan pendanaan, Zilis terus bertindak sebagai perantara bagi Musk. Hal itu terlihat dari bukti pesan kepada Musk yang dilampirkan Zilis.

"Apakah Anda lebih suka saya tetap dekat dan bersahabat dengan OpenAI agar informasi terus mengalir atau mulai menjauhkan diri? Permainan kepercayaan akan menjadi rumit, jadi bimbingan apapun tentang cara berbuat yang terbaik untuk Anda sangat dihargai," tulis Zilis seperti diberitakan CNN pada Jumat (8/5).

Musk ingin Zilis tetap 'dekat dan bersahabat' serta berencana untuk mencoba merekrut beberapa staf OpenAI ke Tesla.

Kendati demikian, Zilis bersaksi bahwa hubungannya dengan Elon Musk tidak memengaruhi perilakunya sebagai anggota dewan. Zilis mengatakan bahwa dia memiliki kesetiaan pada hasil terbaik AI untuk umat manusia.

Hal itu pula yang membuat direksi OpenAI tetap mengizinkan Zilis menjabat sebagai dewan. Presiden OpenAI, Greg Brockman juga mengaku sebelumnya tidak mengetahui hubungan pribadi Zilis dengan Musk.

Namun perlahan, Zilis memilih mundur dari dewan OpenAI setelah upaya Elon Musk membangun xAI semakin diketahui publik dan berkembang menjadi kompetitor OpenAI.

Dalam gugatannya, Musk menuntut ganti rugi sebesar US$130 miliar atau setara Rp2.250 triliun dari OpenAI. Ia juga menuntut perusahaan tersebut kembali menjadi organisasi nirlaba serta menyingkirkan Altman dan Brockman dari dewan direksinya.

Musk mengeklaim sumbangannya yang mencapai sedikitnya US$44 juta atau sekitar Rp762 miliar pada tahun-tahun awal OpenAI disalahgunakan demi memperkaya para pemimpinnya dan investor seperti Microsoft.

Gugatan ini juga mengancam rencana OpenAI untuk melantai di bursa saham (IPO) yang dijadwalkan paling cepat tahun ini.

(van/asr)
KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK