Jadi Salah Satu Pemicu Perang Iran-AS, Apa Sebenarnya Nuklir?
Di luar konteks senjata, nuklir sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari di sejumlah negara. Merujuk World Nuclear Association, sekitar 9 persen listrik dunia dihasilkan dari uranium di reaktor nuklir.
Jumlah tersebut mencapai lebih dari 2.500 TWh setiap tahun, setara dengan total listrik dari semua sumber di seluruh dunia pada tahun 1960. Listrik ini dihasilkan dari sekitar 440 reaktor nuklir dengan kapasitas total sekitar 400.000 megawatt (MWe) yang beroperasi di 31 negara.
Di dunia medis, reaktor nuklir menghasilkan radioisotop yang digunakan dalam puluhan juta prosedur diagnosis dan terapi kanker setiap tahunnya. Kapal selam dan kapal induk militer juga mengandalkan reaktor nuklir agar bisa beroperasi berbulan-bulan tanpa mengisi bahan bakar.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Teknologi nuklir juga terus berkembang. Saat ini, banyak negara sedang mengembangkan Small Modular Reactor (SMR), reaktor nuklir berukuran lebih kecil yang bisa diproduksi secara massal dan dipasang lebih fleksibel dibanding PLTN konvensional.
Perusahaan teknologi besar seperti Google, Amazon, dan Microsoft bahkan sudah berinvestasi di teknologi ini untuk memenuhi kebutuhan energi pusat data mereka yang terus melonjak.
Kontroversi nuklir
Pengembangan energi nuklir bukan tanpa cela. Sejumlah kontroversi mengiringi pengembangan energi tersebut sejak lama.
Penggunaan senjata nuklir pertama terjadi pada 6 Agustus 1945, ketika AS menjatuhkan bom atom di Hiroshima dan tiga hari kemudian di Nagasaki. Total korban jiwa keduanya diperkirakan antara 110.000 hingga 210.000 orang, belum termasuk mereka yang meninggal di tahun-tahun kemudian akibat paparan radiasi.
Bencana nuklir juga tidak hanya datang dari senjata. Pada April 1986, reaktor nomor 4 di Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Chernobyl di Ukraina meledak akibat desain reaktor yang cacat dan kesalahan operator.
Menurut Komite Ilmiah PBB untuk Efek Radiasi Atom (UNSCEAR), kecelakaan ini menyebabkan kematian 31 pekerja dalam beberapa minggu pertama, dengan ribuan kasus kanker tiroid, terutama pada anak-anak, yang muncul di tahun-tahun setelahnya.
Bencana ini juga mengakibatkan lebih dari 350 ribu orang kehilangan tempat tinggal, dan puluhan ribu orang menderita dampak kesehatan akibat paparan radiasi.
Pada Maret 2011, bencana nuklir Fukushima di Jepang terjadi setelah gempa bumi dan tsunami menghantam reaktor di sana. Meski tidak ada kematian langsung akibat radiasi, ribuan warga harus dievakuasi dan biaya pembersihan ditaksir mencapai lebih dari US$100 miliar.
Rentetan bencana inilah yang membuat sebagian pihak menolak keras pengembangan energi nuklir. Greenpeace, salah satu organisasi lingkungan hidup paling berpengaruh di dunia, menyebut nuklir sebagai "gangguan berbahaya" dari solusi energi yang sesungguhnya.
"Energi nuklir bukan solusi untuk krisis iklim, ia akan mengunci kita pada batu bara dan gas selama beberapa dekade, dan menghambat peluncuran energi terbarukan yang dibutuhkan hari ini," kata Kepala Iklim dan Energi Greenpeace Australia Pacific Joe Rafalowicz.
Direktur Kebijakan Greenpeace Doug Parr bahkan lebih tegas, ia menyebut "energi nuklir tidak bisa menjembatani apa pun. Terlalu lambat. Terlalu mahal. Dan merupakan gangguan besar."
(dmi/dmi) Add
as a preferred source on Google
[Gambas:Video CNN]

